Minggu,08 Desember 2019 | Al-Ahad 10 Rabiul Akhir 1441


Beranda » Seniman & Budayawan » Ahmad S.Udi

Ahmad S.Udi

Redaksi | Minggu, 06 Desember 2009 10:52 WIB

AHMAD S UDI lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 17 Agustus 1972. Lahir dari keluarga besar nahdliyin yang sangat fanatik. Tahun 1987 orang tuanya hijrah ke Desa Sukadamai, Kecamatan Tambusai Utara, Rokanhulu, Riau, sebagai transmigran. Ahmad S Udi yang kala itu sudah menamatkan SD di kampung halamannya di Jombang, kemudian melanjutkan SMP di kampung transmigrasi ini. Pendidikannya terhenti sampai di SMP, ia tak melanjutkan lagi. Tiga tahun menjadi transmigran, keluarga Ahmad S Udi pun hijrah dan menetap di Pekanbaru hingga sekarang.

Menjadi penulis adalah cita-citanya sejak kecil. Kecenderungan pada dunia menulis itulah yang kemudian mengantarkannya menjadi salah seorang cerpenis Riau terbilang. Sejak di SD dia sudah mulai menulis cerpen, bahkan pernah membuat naskah drama kisah Abu Kasim, orang paling pelit sedunia yang hidup di zaman Abu Nawas, tokoh 1001 malam.

Dengan bekal pendidikan formal ala kadarnya ? sebatas wajib belajar sembilan tahun ? dan deraan kehidupan yang pahit, Ahmad S Udi terus mengembangkan kemampuan menulisnya. Jejak kepenulisannya dimulai lewat sejumlah cerpen yang dimuat di majalah remaja Anita Cemerlang. Itulah satu-satunya media Jakarta yang pernah memuat hasil karyanya. Cerpen-cerpen dan puisinya kemudian muncul di media lokal, terutama Riau Pos, Riau Mandiri, Bahana Mahasiswa dan Majalah Sastra Sagang (Pekanbaru).

Untuk penghargaan bidang sastra, Ahmad S Udi, antara lain, memenangi Lomba Menulis Esai Tingkat Nasional Hari Pangan se-Dunia yang diselenggarakan oleh Departemen Pertanian, memenangi sejumlah lomba menulis cerpen, puisi dan novel yang diadakan Dewan Kesenian Riau (DKR), Yayasan Sagang dan sejumlah lembaga lain di Pekanbaru. Untuk sukses itu, ia masih menyimpan beberapa piagam yang ditandatangani wakil gubernur Riau kala itu, Rustam S Abrus, yang juga sastrawan.

Dari hasil ikut lomba itulah dua novelnya, Pahlawan Bahari dan Api Berkobar di Semenanjung Riau dibukukan DKR. Beberapa cerpennya diterbikan dalam bentuk antalogi, seperti antologi Eksodus Para Bayi yang menjadi pemenang pertama Lomba Menulis Cerpen DKR, Air Mata 1824 (P2BKM, Pekanbaru, 2000), Anugerah Sagang 2000 (Yayasan Sagang, Pekanbaru, 2000), Terbang Malam (Yayasan Sagang, Pekanbaru, 2002), Magi dari Timur (Yayasan Sagang, Pekanbaru, 2003), Satu Abad Cerpen Riau (Yayasan Sagang, Pekanbaru, 2004), Seikat Dongeng Tentang Wanita (Yayasan Sagang, Pekanbaru, 2004).

Kemampuan menuliasnya itu pulalah yang kemudian mengantarkannya menjadi wartawan sejak 1998 hingga saat ini. Berbagai media pernah menjadi tempatku berkhidmad, mulai tabloid, koran harian lokal maupun nasional, sampai televisi swasta nasional.

Tahun 2003 dia mendirikan sekaligus mengelola situs berita www.riauterkini.com. Situs berita dengan moto ??Memantau Riau Detik per Detik?? ini menjadi muara dari totalitasnya di dunia jurnalistik. Namun pilihan menjadi jurnalis ini pulalah yang membuat dia ?mengabaikan? bakat alamnya sebagai penulis (sastrawan). Tak pernah terlihat lagi karya-karyanya baik cerpen maupun puisi di media-media.

Menyunting seorang putri Melayu dari Kecamatan Kamparkiri, Kampar, tahun 2002 silam, dia sudah dua putra, Muhammad Jibril Abdullah dan Muhammad Mikail Abdullah. @

comments powered by Disqus