Minggu,20 Oktober 2019 | Al-Ahad 20 Safar 1441


Beranda » Kolom Riau Pos » Marhalim Zaini » Karier Kepenyairan

Karier Kepenyairan

Marhalim Zaini | Minggu, 05 April 2015 10:53 WIB

“Kelahiran seorang penyair sama dengan membangkitkan kematian para penyihir...”

DEMIKIAN kata Ajip Rosidi, dalam puisi “Penyair” (1954). Di situ, “penyair” dan “penyihir” seolah memiliki kesamaan, bahwa keduanya “hidup” dalam dunia kata-kata yang “sakti.” Kekuataan (atau kekuasaan) kata-kata (dalam puisi dan mantra) yang mereka miliki, sama-sama—dalam bahasanya Ajip—dapat “membangkitkan kehidupan.”

Saya, dan para pencinta sastra, dalam konteks tertentu, bolehlah percaya personifikasi magis semacam itu. Sejarah tradisional kita pun telah membuktikannya. Meskipun, dalam konteks yang lain, kita pun boleh ragu, kapan sesungguhnya seorang “penyair” itu lahir? Secara sepintas, tentu kita akan segera menjawab; ya ketika puisi itu selesai ditulis. Lalu pertanyaan berikutnya, puisi yang manakah yang dapat “membangkitkan kehidupan” itu? Puisi yang pertama, kedua, ketiga, kesepuluh, keseratus, atau semua puisi?

Entahlah. Tak ada satupun orang yang dapat memastikan itu. Sebab sebuah puisi, ternyata, memang memiliki jalan hidupnya sendiri. Tiap kali ia lahir, entah sebagai “puisi yang gagal” atau “puisi yang bernyawa,” sepenuhnya diserahkan pada waktu. Boleh jadi, puisi yang awalnya dianggap oleh si penyairnya sebagai “puisi gagal” justru terus bertahan hidup di lingkungan pembaca. Begitupun sebaliknya, puisi favorit penyairnya, begitu tersiar justru seperti tak digubris oleh publik. 

Maka, seolah sama halnya dengan dunia penyihir, dunia penyair memang misterius. Boleh jadi malah, lebih misterius dunia penyair daripada penyihir. Kebertahanan hidup sebuah puisi (yang misterius itu), sepertinya pun berimplikasi terhadap misteriusnya karier seorang penyair. Sebab, bukankah tak mudah bagi kita untuk dapat menakar apakah karier seorang penyair itu sedang menanjak, atau sedang menurun. Sedang berada di puncak, atau sedang terpuruk. Tidak pula rupanya, karier kepenyairan itu bisa dinilai dari lama atau tidaknya dia berpuisi, atau dilihat dari tua atau tidak usianya.

Boleh jadi, di masa mudanya, penyair itu demikian produktif, dikenal banyak orang, puisinya cukup bermutu secara sastrawi, dibicarakan para pengamat, diundang dalam berbagai pertemuan penyair, namun di tengah jalan tiba-tiba ia stagnan. Bahkan dia menghilang dalam waktu yang lama. Yang kemudian, diketahui orang bahwa ia berbelok ke dunia lain, politik misalnya. Apakah dengan begitu, karier kepenyairannya juga kandas? Bagaimana dengan karya-karyanya dulu?

Bagaimana misalnya dengan nama Mohammad Jamin atau Rustam Effendi? Dua penyair yang namanya tidak asing dalam dunia sastra Indonesia ini, menjadi politikus di masa revolusi kemerdekaan. Sampai kini, saya kira, tidak sedikit pula para penyair yang mengikuti jejaknya. Lalu, apakah dengan begitu, karier kepenyairannya pun kandas? Agaknya, kita boleh menjawab begini, jika ia tetap menulis puisi sepanjang ia menjadi politikus, pengusaha, dosen, guru, polisi, pejabat, jurnalis, dan apapun profesinya, maka karier kepenyairannya tetap akan terjaga. Meski tidak sedikit, tentu, yang tak lagi peduli pada puisi—yang memang tak menjanjikan secara ekonomi.

Atau, bagaimana dengan para penyair yang membangun karier kepenyairannya dengan terus menulis puisi, produktif, tapi puisinya jarang dimuat media, jarang dibicarakan pengamat, tak terlalu peduli dengan capaian-capaian, rajin baca puisi di panggung sastra, intens mengikuti berbagai iven sastra, pergaulan sastranya cukup luas, orang mengenal namanya terlebih karena pergaulannya itu. Bagaimanakah?***                   

comments powered by Disqus