Minggu,20 Oktober 2019 | Al-Ahad 20 Safar 1441


Beranda » Kolom Riau Pos » Marhalim Zaini » Puisi Terjemahan, Tenas, dan HJ

Puisi Terjemahan, Tenas, dan HJ

Marhalim Zaini | Senin, 23 Maret 2015 08:51 WIB

PUISI-puisi terjemahan yang saya muat pada edisi ini, adalah sebuah penanda saja—dari banyak penanda yang lain. Bahwa, Hari Puisi Sedunia (21 Maret), bagaimanapun (mestinya) adalah hari selebrasi ritual kita, para penyair. Sebuah proses ritual, kata Victor Turner (1966), adalah sebuah jeda, sebuah titik liminal, yang tidak bisa tidak terus-menerus kita singgahi. Sebab liminalitas itu, rupanya, kerap membuat kita betah, meski berada dalam posisi “antara.” Posisi dimana kita merasa nikmat hidup dalam sebuah kolektivitas, melebur tanpa identitas, masuk dalam sebuh struktur ruang, yang justru “anti-struktur.”

Puisi terjemahan, pun, saya kira adalah juga “liminalitas” itu, “dunia antara” itu. Ketika puisi dari seorang penyair yang hidup nun jauh dari belahan benua yang lain, dari tradisi dan bahasa yang lain, tiba-tiba hadir di depan kita, bercakap-cakap dengan bahasa kita, maka sesungguhnya di situlah ruang liminal itu. Sebab, bukankah si penyair (melalui puisinya yang diterjemahkan itu) sedang berada di ambang, antara dirinya yang asing (the other) dengan diri kita (si pembaca). Bukankah ketika itu, kita pun ragu, siapakah sebenarnya  yang menjadi “orang asing”; puisi terjemahan itu, atau justru kita sendiri.

Maka, mari kita nikmati saja, keluar-masuk dari dan ke dalam diri kita sendiri, melalui “pintu” puisi para penyair “asing” ini. Siapa tahu, kita justru menemukan “identitas” diri kita dalam “keasingan puisi” itu. Siapa tahu, para penerjemah puisi, berhasil “mencipta” sebuah ruang percakapan yang “universal” melalui puisi. Bahwa rupanya kesedihan yang dirasakan oleh orang yang nun jauh itu, adalah serupa dengan kesedihan  kita di sini juga, yang sama-sama ditandai dengan tetesan air mata. Kebahagiaan mereka, adalah juga kebahagiaan kita, yang sama-sama ditandai dengan riang-tawa. Dan jadilah puisi, di sini, sebagai rumah bersama, tempat “segala yang asing” membaca tanda-tanda, menyapa dunia.

Di Riau, saya kira, kita patut ingat, bahwa ada dua tokoh sastra kita yang sesungguhnya telah demikian lama, secara bersungguh-sungguh, membuka “rumah bersama” untuk “menyapa dunia” itu. Dua tokoh, yang telah mendahului kita. Dua tokoh, yang adalah juga orang tua kita; almarhum Tenas Effendy dan almarhum Hasan Junus (HJ). Dua tokoh, yang kalau dilirik sepintas di masa hidupnya, memiliki karakter yang berbeda jauh. Satu tokoh, tampak tenang bagai danau, tokoh yang lain tampak beriak bagai laut yang bergolak. Yang satu, tunak di dunia tradisi, satu lagi tokoh dinamis yang menjunjung tinggi inovasi-modern. 

Perbedaan-perbedaan itu, tentu bukanlah yang kemudian membuat kita menilai, yang satu lebih baik dari yang lain. Tetapi, perbedaan itu seolah menjadi semacam dua tiang yang saling menopang. Sebuah konstruksi, seolah pincang dan rumpang, tanpa salah satunya. Terlebih misalnya, dalam konteks bagaimana keduanya telah memberi sumbangan luar biasa dalam dunia sastra, selama menjadi “tiang” itu. Sastra lisan kita, hidup bergelora di tangan kreatif Tenas. Sastra tulis, tumbuh bernyawa dalam tinta emas HJ. Itu, kalau kita hendak membedakan antara yang lisan (orality) dan yang tulis (literacy). Jika pun tidak, toh tetap tak dapat dibantah.

Sebab, keduanya, hemat saya, telah berhasil menunjukkan kembali kepada kita kini, bahwa karya sastra itu—seturut Walter J. Ong—adalah “paduan antara orality dan literacy.” Tak ada yang lebih “unggul” dan lebih “tinggi” nilainya, antara yang lisan dan yang tertulis. Keduanya, adalah wilayah kreatif yang tak kan habis digali. Keduanya, sama-sama hendak menyapa dunia, dengan kekuatan historisnya masing-masing—yang kadang, lebih tampak sebagai adik-beradik yang degil. Maka, tak ada yang lebih berhak menyandang titel “sastrawan besar” antara satu dengan yang lainnya.

Sebagaimana juga, tentu, berlaku untuk karya puisi (asli) dan puisi terjemahan, keduanya, harus dapat tempat, keduanya wajib dicatat.***

comments powered by Disqus