Minggu,20 Oktober 2019 | Al-Ahad 20 Safar 1441


Beranda » Kolom Riau Pos » Marhalim Zaini » Penyair Panggung

Penyair Panggung

Marhalim Zaini | Minggu, 15 Maret 2015 12:08 WIB

“Tubuhnya lebih dari puisi,
penuh getar dan getir bunyi.
Sekali ia menyentuh panggung,
waktu seakan linglung dihajar tenung.”

Marhalim ZainiCUPLIKAN puisi berjudul “Penyair Panggung” (2004) karya Joko Pinurbo di atas, diperuntukkan bagi Landung Simatupang. Kita tahu, Landung, adalah seorang penyair, yang juga seorang aktor teater yang piawai. Maka, tentu, “tubuhnya” ketika berada di atas panggung adalah “puisi” itu sendiri—bahkan (boleh jadi Jokpin benar), “lebih dari puisi.” Kekuatan “kata” dalam puisi, berpadu dengan kekuatan “tubuh” seorang aktor. Puisi, seolah menemukan “juru bicara” yang tak semata “menyuarakan tubuh kata” akan tetapi “membunyikan jiwa kata.”

Meskipun agaknya, diksi “lebih dari puisi” di situ, seolah tengah memosisikan tubuh si aktor (pembaca)—kalau boleh diberi peringkat—berada “lebih tinggi” dari teks puisi, ketika dibacakan di atas panggung. Dengan begitu, saya kira, Jokpin tentu tidak sedang memberi perbandingan baik-buruk antara teks puisi dan tubuh aktor, tetapi lebih pada memberi porsi yang tepat terhadap sebuah peristiwa seni bertajuk “pertunjukan sastra.” Sebab, memang demikianlah kiranya, begitu telah masuk ke wilayah “seni pertunjukan,” mau tak mau, konvensi-konvensi panggung harus terpenuhi.

Namun, memisahkan begitu saja antara teks puisi dan dunia penggung (pertunjukan), tentu saja tidak sepenuhnya tepat. Apalagi kalau menghubungkan kelahiran puisi dengan dunia kelisanan (orality) kita. Maka sejarah puisi, bukan semata sejarah teks tulis, tapi juga sejarah teks lisan. Sejak lama orang melagukan puisi, mendendangkan syair, pantun, gurindam, mantera. Sejak lama orang percaya, bahwa “puisi” itu bukan dunia teks yang dibaca sendiri-sendiri “dalam hati”—sebagaimana klaim subyektivitas dunia modern—tetapi “dibacakan” di tengah khalayak, di sebuah ruang kolektif, yang tanpa disadari kemudian bahkan (teks itu) telah menjadi milik bersama. Koba, bakaba, nyanyi panjang, dan sejenisnya, adalah puisi yang “dipanggungkan” itu.

Maka, begitu seseorang memilih menjadi penyair, mau tak mau, suatu ketika ia akan diminta untuk membacakannya di depan publik. Orang menganggap, yang pandai menulis puisi, berarti ia juga pandai membacakannya. Orang seolah tak peduli, apakah si penyair yang didaulat membacakan puisinya ini “bisa” membaca puisi atau tidak. Meskipun kadang, memang orang juga tidak terlalu peduli dengan konvensi-konvensi panggung ketika menyaksikan seseorang membaca puisi. Mereka, hanya hendak “menikmati” puisi yang dibacakan. Puisi, yang seolah belum dianggap selesai—meskipun ia telah selesai ditulis di atas kertas oleh penyairnya—sebelum puisi itu dibacakan.     

Jika kemudian muncul istilah “penyair panggung” misalnya, tentu selain berakar kuat pada tradisi pemanggungan kita, sekaligus juga tersebab tradisi pemahaman publik kita itu. Bagi penyair sendiri, hemat saya, istilah ini belakangan lebih mencuat seolah sebagai sebuah pilihan untuk memberi identifikasi tersendiri bagi para penyair yang memang memiliki “kemampuan” beraksi di atas panggung—yang sebagian memang memiliki latar belakang teater. Meskipun, hemat saya, istilah “penyair panggung” semestinya tidak lantas menggiring publik untuk semata melihat lebih pada aksi panggungnya, sehingga seolah abai pada teks puisinya. Sebab, puisi dan tubuh, harus sama-sama penuh getar dan getir bunyi. Keduanya harus “dapat tempat,” keduanya harus “dicatat.”***      

comments powered by Disqus