Minggu,20 Oktober 2019 | Al-Ahad 20 Safar 1441


Beranda » Kolom Riau Pos » Marhalim Zaini » Puisi dalam Hati

Puisi dalam Hati

Marhalim Zaini | Minggu, 08 Maret 2015 08:12 WIB

SAYA, sebagaimana juga mungkin kebanyakan orang, agak sulit membaca dalam hati. Selalu saja, mulut saya harus berkomat-kamit ketika membaca teks apapun. Saya merasa tidak nyaman, atau malah tidak konsentrasi, ketika membaca dalam hati (saja), tanpa berkomat-kamit. Saya tidak tahu, apakah itu kebiasaan baik, atau buruk. Yang pasti, dengan cara berkomat-kamit seperti itu, saya merasa tengah bercakap-cakap dengan teks. Saya merasa, tengah berbisik, melalui telinga saya sendiri. Merasa seolah tengah bicara dengan “seseorang” di dalam diri saya. Seseorang, yang boleh jadi, bukan siapa-siapa, tapi diri saya sendiri.

Kebiasaan semacam ini, rupanya, pun terbawa ketika dalam proses menulis puisi. Teks-teks puisi yang belum jadi dan telah tertulis di layar monitor komputer itu, harus “dibunyikan” dengan membacanya secara berkomat-kamit, berkali-kali. Seolah, saya baru dapat masuk ke dalam dunia “sunyi” dalam diri saya, justru ketika saya “membunyikan” kesunyian itu. Maka, bersunyi-sunyi ketika proses menulis puisi, misalnya, adalah juga upaya membangkitkan “keramaian.” Dengan begitu, makna sunyi, sebagaimana juga makna “membaca dalam hati,” bukanlah seperti mematikan bunyi radio di tengah malam. Tapi justru mencari gelombang siaran yang terang, di tengah sepi malam yang panjang.

Mungkinkah, ini gejala yang menunjukkan bahwa saya bukan penyair “modern”? Nyatanya, dunia puisi sebagai bagian dari dunia literacy, yang disebut McLuhan sebagai “galaksi Gutenberg” (penemu seni mencetak) itu, tak sepenuhnya dapat membuat saya menjadi seorang individualistis—sebagaimana tujuan sebuah teks (buku) untuk dibaca dalam sunyi, sendiri. Karena dalam teks, dalam puisi, saya justru merasa tidak sendiri, terlebih karena saya butuh semacam “perayaan” dalam proses penciptaan. Padahal, bukankah selama ini (terutama dalam priode modern), karya sastra yang bernama puisi itu, kerap “dianggap” lebih subyektif dibanding genre lain.  

Maka—kalau Anda juga sepakat dengan saya—proses penciptaan puisi (sastra), apalagi proses pembacaannya, sesungguhnya adalah juga proses penikmatan bersama. Jika A. Teeuw pernah bilang dalam konteks kelisanan, sastra di Indonesia itu adalah “sesuatu yang mau dan harus dinikmati bersama,” maka pun dalam konteks keberaksaraan, tulisan (teks) yang katanya akan mampu “mengindividualisasikan” diri penyair itu, pada saatnya akan terpecah-pecah pula oleh kehendak untuk (kembali) “mencair” dalam kelisanan (orality). Sebab, betapapun, kita telah berabad-abad lamanya, menempatkan puisi tak semata sebagai teks yang dibaca dalam hati, tapi juga dilagukan, ditarikan, dipergelarkan.

Puisi, telah lama, jadi ruang pertemuan antar individu. Membacanya di tengah keramaian, ataupun membacanya di kamar, adalah juga sebuah upacara “penciptaan” kembali. Puisi, baik dalam buku (aksara), maupun yang berbunyi dalam tuturan, sama kehendaknya membangun imajinasi bersama. Maka, “puisi harus berbunyi,” kata A. Teeuw lagi, “otentisitasnya muncul dari suara manusia yang menghubungkan, mengumpulkan, mempersatukan.” Dan suara manusia yang kerap berbisik di telinga saya, ketika saya mencipta puisi, adalah “bunyi puisi” itu sendiri.

Puisi yang dipenuhi dengan suara-suara manusia itu, bisa dibaca dalam hati, ketika hati kita, bukanlah sebuah kampung sunyi tak berpenghuni. Tapi, sebuah ruang yang ketika si penyair sebut “aku”, maka yang terdengar bergaung adalah “kami.” Aku subyektif, bukan tong, yang kosong. Modernisme, saya kira, hadir dalam puisi, bukan untuk mencerabutkan diri penyairnya dari asal-usulnya. Bukan memecah-belahnya dalam kesunyian-kesunyian tak berperi. Tapi, modernisme, adalah bisikan-bisikan dari mulut kita sendiri, yang berkomat-kamit, membaca teks berabad-abad.*** 

comments powered by Disqus