Minggu,20 Oktober 2019 | Al-Ahad 20 Safar 1441


Beranda » Kolom Riau Pos » Marhalim Zaini » Mistifikasi Puisi-Penyair

Mistifikasi Puisi-Penyair

Marhalim Zaini | Minggu, 15 Februari 2015 08:45 WIB

BEGITU kita menyebut frasa “binatang jalang,” kenapa nama Chairil Anwar yang terkenang? Tidak semata terkenang pada puisinya yang berjudul “Aku” itu, tetapi juga terlintas begitu saja berbagai peristiwa biografis hidupnya—yang (dianggap) liar, seorang petualang cinta, sakit-sakitan, pemberontak, nomaden, orang yang terluka-terbuang, dan semacamnya. Seolah, representasi seluruh perjalanan hidup Chairil terpusat di dalam puisi itu. Sehingga, kadang kita pun ragu, mana yang lebih populer di antara keduanya: puisinya atau penyairnya.

Belum lagi, orang kerap menghubungkaitkan puisi-puisi “kematian” Chairil—semisal “Nisan” atau “Menjemput Kematian” atau “Yang Terampas dan Yang Putus”—dengan  kematian Chairil sendiri. Hubungan “mistik” semacam ini hemat saya, tidak hanya terjadi pada Chairil, tapi juga pada banyak penyair kita—terutama mereka yang telah “berhasil” menjadi “tonggak-tonggak” dalam sejarah kesusastraan kita. Selain Kriapur (1959) yang  kematiannya dalam sebuah kecelakaan juga kerap dihubungkan dengan puisinya, kematian Sitor Situmorang belum lama ini pun, tak lepas dari bagaimana puisi turut berperan sebagai representasi individu penyairnya. Maka puisi “Tatahan Pesan Bunda” itu pun telah jadi wasiat penyairnya; “Bila nanti ajalku tiba/ Kubur abuku di tanah Toba/ Di tanah danau perkasa/ Terbujur di samping Bunda.”

Puisi, dalam posisi serupa ini, tak bisa tidak, bukan semata telah jadi “anak-anak kandung” si penyairnya, yang bagai air tak putus dicincang, tetapi seolah telah memberi penegasan ihwal paham lama (dalam dunia pembaca) bahwa puisi itu bersifat “mistik” (berbau supranatural). Percaya atau tidak, kadang, pembenaran-pembenaran terus bergulir secara tak sadar, baik oleh pembaca awam, bahkan dalam kajian-kajian sastra. Bukankah misalnya ketika Sutardji Calzoum Bachri menulis puisi-puisi mantera untuk melepaskan ikatan makna pada kata, toh para pembaca puisi di panggung yang membaca puisi “Batu” misalnya, tetap mengekspresikan bagaimana seorang dukun yang merapal mantera-mantera. Dan, begitu melihat sosok Sutardji, seolah kemudian hidung kita sedang mencium “kemenyan” dalam kosmologis tertentu.

Upaya memistifikasi puisi-penyair seperti ini, tentu dalam konteks tertentu, dapat membuat puisi seolah tak memiliki kekuatan semiotiknya sendiri—yang sekaligus, turut membantah Roland Bhartes (ihwal “kematian pengarang”) dalam konteks tafsir terhadap karya sastra. Namun, dalam konteks membangun “mitos” terhadap “kekuatan” puisi (selain kekuatan teks), yang kaitannya dengan keyakinan-keyakinan tradisional kita tentang kuasa tersembunyi (hidden realms) dalam puisi, upaya ini tak dapat diabaikan. Meskipun, saya kurang pasti penyebabnya, kenapa kini misalnya, kian hari kian tak dapat dengan mudah “menemukan” puisi yang memiliki “karakter khas” penyairnya di tengah timbunan puisi, yang kemudian tak juga mudah menciptakan “mitos-mitos” baru.

Barangkali benar, bahwa mitologisasi itu, oleh sebagian pandangan, dapat membunuh rasionalitas. Kita, hari ini, sudah tidak butuh lagi mitos. Namun, saya kira kita tidak pula dapat menampik Roland Bhartes dalam buku Mythologies (1972), bahwa sesungguhnya kita terus-menerus hidup dalam lingkaran-lingkaran mitos baru, yang tanpa disadari, terus merasuki kita. Dunia fashion, misalnya, yang kerap disuguhkan oleh media, yang diam-diam mengubah cara berpakaian kita, cara menata rambut kita, cara makan kita, cara bicara kita, cara berjalan kita, cara bergaul kita, adalah mitos baru para borjuis. Dan itu semua, berkelindan dalam tanda-tanda, dalam dunia semiotik, yang diam-diam pun diterima dalam sebuah kesepakatan bersama, diterima sebagai sebuah pembenaran.

Dan puisi, pun penyair, jika ia tak dapat menjadi “mitos baru” dalam lingkaran sosial semacam itu—dengan tanpa harus mentakhayulkan hubungan puisi-penyair—lalu bagaimanakah ia akan menempatkan diri?***

comments powered by Disqus