Minggu,20 Oktober 2019 | Al-Ahad 20 Safar 1441


Beranda » Kolom Riau Pos » Marhalim Zaini » Sastra Melayu-Tionghoa

Sastra Melayu-Tionghoa

Marhalim Zaini | Minggu, 22 Februari 2015 08:40 WIB

Banjak lah tabe
hormat besrenta,
Pada pembatja
sekalian rata,
Dari hal segala
boekoe tjerita,
Njang ada terdjoewal
di toko kita.

Sebait “syair iklan” berbahasa Melayu-Rendah yang saya kutip itu, ditulis oleh seorang pedagang bernama Ting Sam Sien, tahun 1886. Ia hadir dalam ruang baca kita, tentu tak semudah hadirnya barongsai atau ang pau dalam ruang ingatan kita. Ia, syair itu—yang juga ribuan karya sastra yang lahir dari tinta para pengarang Cina berbahasa Melayu-Rendah—demikian telah bersusah payah, bahkan untuk dapat “diakui” sebagai bagian dari sejarah kesusastraan (modern) Indonesia.

Saya tidak tahu persis, apakah begitu datang Claudine Lombard-Salmon, seorang pakar dari Prancis, melalui bukunya Literature in Malay by the Chinese in Indonesia (1981) itu, kita pun lalu beramai-ramai “menuding” Balai Pustaka di masa itu “menutup mata” dalam “memetakan” awal kemunculan sastra Indonesia modern di akhir Perang Dunia I, tahun 1918. Meskipun, kita patut tersentak, begitu Salmon, mengeluarkan fakta bahwa selama hampir 100 tahun (1870-1960), sebanyak 806 penulis telah menghasilkan 3.005 karya. Tentu, jadi tak imbang, jika kemudian membandingkannya dengan—seturut A. Teew—kesastraan modern Indonesia (tak termasuk terjemahan) hanya melibatkan 175 penulis dengan lebih kurang 400 karya.

Terlepas dari soal klaim, siapa yang jadi mula, agaknya lebih menarik melihat bahwa bahasa yang disebut macam-macam itu (Melayu-Tionghoa, Melayu-Cina, Melayu Rendah, Melayu-Pasar), telah (sempat) demikian “buruk” statusnya (terutama) ketika berhadapan dengan “Melayu Tinggi.” Rendah dan tinggi, di situ, pun kemudian tak semata berefek pada rendah dan tingginya cara orang berbahasa, lalu rendah tingginya kelas sosial, tetapi juga pada rendah dan tingginya “mutu” karya sastra. Sampai-sampai, alasan inipun, yang membuat sastra Melayu-Tionghoa itu dianggap bukanlah bagian dari khazanah sastra Indonesia modern.

Klaim semacam ini, apakah kini masih relevan? Tentu tidak. Apalagi, selain Salmon, banyak para pakar menulis ihwal serupa, menyajikan berbagai fakta lain, semisal Sjair Baba Kong Sit atau Sjair Perkawinan Kapitan Tik Sing yang terbit pada tahun 1845 itu, ditulis dengan aksara Arab-Melayu. “Akan sia-sia saja,” kata Salmon dalam pengantar bukunya, “mencari tahu sejak kapan orang Tionghoa mulai mempelajari bahasa Melayu dan bahasa-bahasa lain di Nusantara.”

Ya, kita tentu meyakini itu—karena saya kira, populasi orang Cina memenuhi hampir di seluruh Indonesia. Seperti juga ketika kita kini turut mempercayai ribuan karya berbahasa Melayu-Rendah yang lahir itu, yang terus berkembang pada pergantian abad ke 20. Meskipun, saya jadi bertanya, begitu bahasa Melayu-Tinggi jadi lebih mendominasi (secara politis) dengan dijadikannya bahasa nasional Indonesia, ke mana regenerasi pengarang Cina (di) Indonesia itu bermetamorfosa kini?

Saya malah jadi teringat sewaktu masih kecil dulu, di kampung. Orang-orang Cina yang “menguasai” perekonomian, sudah macam keluarga sendiri dengan kami. Bahasa percakapannya bahasa Melayu, atau Jawa. Mereka sangat fasih. Saat tahun baru Cina datang, kami datang makan buah-buahan yang melimpah di rumah mereka dan dapat ang pau, sebagaimana pula mereka datang menikmati juadah saat hari Raya Idul Fitri di rumah kami. Saat itu, kami tak tahu, bahwa jangan-jangan merekalah yang lebih dulu ada di kampung kami itu. Dan sampai kini, kami semakin tak tahu, siapakah sesungguhnya yang telah bermetamorfosa?***

comments powered by Disqus