Selasa,17 September 2019 | Ats-tsulatsa' 17 Muharram 1441


Beranda » Kolom Riau Pos » Marhalim Zaini » Pada Zaman Dahulu

Pada Zaman Dahulu

Marhalim Zaini | Senin, 22 Agustus 2016 06:03 WIB

FRASA “pada zaman dahulu” atau “pada suatu hari” seolah telah menjadi miliknya dongeng. Sebab, dongenglah yang kerap memakainya sebagai pembuka cerita. Cerita-cerita modern (cerpen dan novel misalnya), kemudian seolah enggan memakainya. Takut klise. Kuatir dianggap tak kreatif. Jadul, alias ketinggalan zaman. Tapi, kenapa agaknya dongeng gemar memakai frasa itu?

Hemat saya, karena dongeng hendak mengatakan kepada pembacanya (atau pendengarnya), bahwa cerita-cerita (dongeng itu) memiliki “dunianya sendiri.” Dengan begitu, sekaligus ia hendak menyarankan bahwa, mari bebas berimajinasi, mari untuk tidak terlalu repot-repot mencari relasinya (ataupun rujukannya) dengan kehidupan nyata. Sebab dunia yang dibangun dalam dongeng itu, adalah sebuah realitas yang terjadi “pada suatu hari”—yang bukan hari ini dan entah kapan, atau “pada zaman dahulu”—yang entah di zaman apa.

Dan konsepsi semacam itu, sesungguhnya adalah juga konsepsi yang (menurut banyak pakar) digunakan dalam salah satu cara mencerna karya sastra modern—terutama puisi, yang mengandung kerumitan bahasa lebih tinggi dibanding prosa. Todorov dalam The Poetics of Prose (1977) bilang, bahwa cara pembacaan sebuah karya sastra itu sudah “tersedia” di dalam teks itu sendiri. Artinya, kita tidak perlu menghubung-hubungkannya secara agak “memaksa” dengan dunia (realitas) di luar teks.

Memaksa yang saya maksud adalah, ketika seseorang membaca karya sastra, ia kerap memiliki kecenderungan untuk mencocok-cocokkannya dengan realitas keseharian yang terjadi selama ini. Ia menganggap, karya sastra yang tengah dibacanya itu, tidak mandiri, sekaligus tidak obyektif. Sehingga, begitu ia menemukan sebuah puisi yang rumit misalnya, yang tidak ia temukan kecocokannya dengan dunia realitas keseharian, baik bahasa maupun maknanya, maka ia pun berkesimpulan bahwa puisi tersebut “susah dibaca.” Dan saya kira, hal inilah yang selama ini menyebabkan terjadinya keberjarakan puisi dengan pembacanya.

Padahal, kalau kita bersetuju dengan Roman Ingarden (dalam A. Teew, 1988), ia menjelaskan bahwa karya sastra itu memiliki struktur yang obyektif, tidak terikat pada pembaca, memiliki kemandirian terhadap kenyataan, bersifat skematik dan selektif, dan tidak pernah menciptakan gambaran dunia yang sesungguhnya. Tersebab teks sastra tidak identik dengan dunia nyata, mandiri terhadap kenyataan, maka di situ letak wilayah tafsir terbuka. Wilayah dimana, antara fiksi dan fakta dipertemukan dalam sebuah “percakapan” yang saling melengkapi.   

Dengan begitu, kita pun akan bersepakat bahwa Ingarden tidak sedang mengatakan pada kita bahwa sastra itu tidak butuh pembaca. Akan tetapi, agaknya ia ingin menandaskan bahwa, “sastra butuh cara membaca.” Cara membaca—memperkuat kembali Todorov—yang sesungguhnya telah tersedia di dalam teks sastra itu sendiri, begitu kita menyadari bahwa ia memiliki dunianya sendiri, memiliki “hari” dan “zaman”-nya sendiri.

Sebagaimana dongeng, yang bisa membuat semua makhluk bisa bercakap-cakap dengan bahasa manusia, maka demikianlah pula teks sastra (modern). Bahkan, ketika kita berharap misalnya, menemukan puisi (sastra modern) bercakap-cakap “lebih liar” melebihi bahasa yang digunakan oleh manusia, toh sastra lisan—melalui mantera—telah pun lebih dulu melakukannya.  Sayangnya, kita selama ini memang telah terlanjur percaya bahwa dunia ini telah terkotak-kotak, disekat-sekat dalam kategori-kategori, yang kadang cenderung membunuh imajinasi.***

comments powered by Disqus