Jumat,22 November 2019 | Al-Jumuah 24 Rabiul Awal 1441


Beranda » Kolom Riau Pos » Marhalim Zaini » Gejala Kebangkitan Puisi Kita(?)

Gejala Kebangkitan Puisi Kita(?)

Marhalim Zaini | Senin, 15 Agustus 2016 10:34 WIB

MENAKAR sejauhmana perkembangan dunia puisi kita hari ini, tentu bukan perkara mudah. Butuh kajian-kajian komprehensif, yang tak semata aspek estetis, tetapi tentu saja aspek  historis, pun (mestinya) juga aspek sosial-ekonomi. Namun, beberapa gejala yang terjadi pada satu dekade terakhir ini, saya kira patut menjadi bahan bagi kita untuk mulai menakar.

Misalnya, secara tidak disadari, para penulis puisi kita secara kuantitas semakin ramai. Indikasinya dapat diamati dari nama-nama baru yang terus mengisi halaman puisi di media massa (baik cetak maupun online). Nama-nama itu, bagai cendawan di musim hujan, terus tumbuh subur. Saking banyaknya, perhatian kita seolah “dipaksa” untuk terus menerus melihat nama-nama, lalu abai pada karyanya.

Dan lalu, pembicaraan kita pun, di mana-mana, berkutat pada nama-nama penulis puisi. Sementara puisi, di situ, kemudian seolah menjadi “kendaraan” saja untuk “ditumpangi” nama-nama itu. Menulis puisi, seolah seperti sebuah pekerjaan yang biasa saja (tidak istimewa). Menulis puisi menjadi sebuah rutinitas saja.

Nama-nama ini semakin terasa rimbun, ketika misalnya banyak sekali buku-buku puisi kolektif yang terbit dan terus memunculkan nama-nama baru, dari berbagai daerah di Indonesia ini. Begitu ada kabar akan diterbitkan sebuah buku antologi puisi bersama di media sosial, maka ada ratusan penulis puisi yang turut serta. Hemat saya, gejala semacam ini tidak pernah terjadi pada masa lalu.
Dan rasa-rasanya, menulis puisi atau menjadi “penyair” itu makin hari makin diminati oleh para anak muda. Makin tampak pula bahwa mereka bangga bisa menulis puisi. Menjadi pernyair itu keren, agaknya. Komunitas-komunitas menulis puisi yang terus pula bermunculan, sama kerennya dengan komunitas-komunitas anak muda yang lain.

Apalagi, dunia penerbitan kita hari ini semakin mudah. Memiliki buku sendiri bagi seorang penulis puisi yang baru saja menulis, bukanlah seperti memeluk gunung. Dengan biaya cetak yang tak begitu mahal, setiap saat penerbit siap menerbitkan bukunya. Testimoni di cover buku bisa diberikan oleh siapa saja yang dikenal dekat, dan tak terlalu hirau dengan kritikus, atau pengamat puisi.

Gejala lain, yang dapat menunjukkan “kegairahan” dunia perpuisian kita hari ini, saya kira, bisa dilihat dari antusiasme para pembeli buku puisi. Mereka sampai bersedia membayar ongkos pengiriman buku ke alamat, yang justru membuat harga sebuah buku puisi menjadi lebih mahal. Gejala semacam ini, tentu, tak semata soal pertemanan antar penulis puisi, tapi terlebih soal keinginan atau kebanggaan untuk mengoleksi buku puisi.

Para penerbit mainstream pun kemudian seolah melihat ini sebagai peluang pasar tersendiri. Buku-buku puisi para penyair tersohor (setidaknya begitu penilaian mereka), banyak diterbitkan kembali, baik yang baru maupun terbit ulang. Meskipun mereka (para penerbit itu) tetap memosisikan diri sebagai “arus utama” dalam dunia perbukuan, gejala-gejala hadirnya penerbit independen atau self-publishing, sedikit banyak tetap “mengganggu” tradisi penerbitan buku puisi.

Penghargaan atau anugerah terhadap puisi, terutama terhadap penulisnya, tampak juga kian menggairahkan. Dari hadiahnya yang hanya sertifikat dan seikat buku sastra, atau sebuah televisi, sampai berhadiah ratusan juta. Sepertinya, ada semacam dorongan kesadaran yang bangkit secara kolektif untuk memberdayakan kemampuan yang ada. Dan media sosial, diakui atau tidak, telah menjadi ruang baru, laluan baru, bagi arus kegairahan ini.

Meskipun kemudian kita patut bertanya, keramaian yang difasilitasi oleh media sosial ini, masih menyisakan ruang sunyi bagi puisi, atau tidak. Sehingga, yang bangkit dari puisi itu, bukan semata kegairahan dari kerumunan tubuh, tanpa jiwa.***

comments powered by Disqus