Minggu,20 Oktober 2019 | Al-Ahad 20 Safar 1441


Beranda » Kolom Riau Pos » Marhalim Zaini » Carilah Tuhan Semaumu

Carilah Tuhan Semaumu

Marhalim Zaini | Minggu, 12 Juni 2016 09:26 WIB

“Puncak keberhasilan sastra religius (Islam) adalah bertemunya kebenaran dan religiusitas dengan keindahan,” (Acep Zamzam Noor).

KALAU kita bersepakat dengan Ajip Rosidi (1995) bahwa sastra Indonesia kontemporer itu merupakan buah dari penyebaran karya sastra religius (Islam) di era kesusastraan lama, maka kini kita agaknya akan bertanya, “apa kabar sastra religius?” Sebab, gaungnya seolah meredup, tak sebanding dan tak sesubur misalnya pada era 1960 dan 1970-an.

Jika pun komunitas sastra macam Forum Lingkar Pena sempat memproklamirkan “ideologi” mereka sebagai Islamic Popular Literature, tampaknya lebih cenderung “berhasil” pada genre prosa. Sementara puisi, masih di “jalan sunyi.” Padahal, para pendahulu sastra religius kita, secara historis, adalah para penyair. Sebutlah Hamzah Fansuri, Bukhari Al-Jauhari, Nurudin Al-Raniri, Raja Ali Haji, sampai Amir Hamzah.

Tapi itu pilihan. Sebagaimana juga misalnya para “penyair pesantren” (atau IAIN) memilih untuk lebih masuk ke dalam konstelasi sastra “serius” (kalau boleh disebut begitu). Dalam koteks posmodernisme, puisi-puisi religius mereka tampak lebih fleksibel memainkan dimensi religius dalam kehidupan profan. Generasi terkini, Sofyan RH. Zaid misalnya, adalah salah satu yang mencoba “melompati” pagar-pagar estetika “lama” puisi pesantren.

Kalau kita baca media massa mutakhir yang menyiarkan sastra (khususnya puisi), maka boleh dikata bahwa “puisi religius” tidak banyak “diminati.” Diksi-diksinya jarang berorientasi ke arah sastra religius. Akan lain rasanya kalau kita baca puisi-puisi penyair generasi Ahmadun Y. Herfanda, Ahmad Syubhanuddin Alwy, Hamdy Salad, Abidah El Khaliqie, Ahmad Nurullah, Hamid Jabbar, D Zawawi Imron, atau Jamal D. Rahman (untuk menyebut beberapa nama).

Saya kira, ada banyak faktor yang dapat jadi penyebab. Selain “ideologi” media massanya umum, gerak perubahan zaman, pemahaman keagamaan kita, gaya hidup, arus pragmatisme, dan lain-lain. Maka, puisi-puisi “religius” kita kini tampak lebih memilih untuk tidak menjadikan Tuhan sebagai tujuan akhir dari ketidakmengertian, yang oleh Goenawan Mohamad (1982) dikategorikan sebagai “sastra religius yang mempertanyakan sikap dan peristiwa kehidupan keagamaan itu sendiri.”

Sehingga, ketika Sapardi Djoko Damono menulis sajak berbunyi begini, “Tuan Tuhan, Bukan? Tunggu sebentar saya sedang keluar,” segera kita merasakan keberjarakan antara Tuhan dan manusia itu kian tipis secara ontologis. Hubungan dengan Tuhan, pada saat-saat tertentu, menjadi demikian egaliter. Meskipun, bagi mereka yang “berseberangan” diksi-diksi semacam ini terkesan bermain-main dengan Tuhan.

Maka, perkembangan “sastra religius” kita sesungguhnya dari waktu ke waktu demikian dinamis. Meskipun pada sisi lain kita masih gamang untuk mengatakan apakah itu artinya kabar “sastra religius” kita cenderung “membaik.” Jika benar, kenapa kian terasa misalnya kecenderungan puisi-puisi yang berorientasi “hedonistik” lebih mengemuka? Kenapa diksi-diksi pencarian spiritualitas ketuhanan dalam spiritualisme puisi tidak terasa liar dan menguat?

Apakah para penyair kini, tidak merasakan “kelaparan Tuhan” yang meronta-ronta seperti dalam puisi “Kucing” Sutardji Calzoum Bachri. Atau, rasa lapar itu yang berbeda. Rasa lapar, yang justru membangkitkan semangat pencarian. Rasa lapar yang mestinya dipelihara agar dapat menjawab ajakan Sutardji (dalam puisi “Amuk”); “carilah tuhan semaumu.”***

comments powered by Disqus