Minggu,20 Oktober 2019 | Al-Ahad 20 Safar 1441


Beranda » Kolom Riau Pos » Marhalim Zaini » Iman yang Gaduh

Iman yang Gaduh

| Minggu, 19 Juni 2016 09:25 WIB

“Daim mengarau di dalam tubuh,
cahaya-Nya terlalu nyarak...”
(Hamzah Fansuri)

PUASA itu (mestinya) senyap. Sebab ia ibadah yang rahasia. Tak sesiapa pun tahu, kecuali diri yang berpuasa dan Tuhan, bahwa rasa lapar yang ditanggungkan ini adalah sebuah laku iman. Dan tersebab itu, rasa lapar ini bukan rasa lapar yang biasa, tapi rasa lapar yang istimewa. Rasa lapar yang juga menghendaki pengorbanan diri (sacrifice).

Tapi, hari ini, kita kerap tak mampu menahan, untuk senyap. Segala yang terkait iman, terkait agama, seolah harus gaduh. Seolah tak ada lagi ruang untuk masing-masing diri berdiam. Sekedar untuk mendengar “kesunyian yang retak dini hari...” (Juan Ramon). Dan, mendengar suara para malaikat turun dari langit seperti “kertak suara es di angin kedap” (Boris Pasternak).

Apalagi, segala upaya komodifikasi, oleh dunia kapitalistik ini, terus-menerus menghendaki segala ritual agama harus “dirayakan.” Dan perayaan, mau tak mau, menjadi tradisi yang melekat, sejak lahir hingga mati. Maka mau tak mau pula, selalu ada keramaian. Selalu tak dapat kita menghindar dari upacara-upacara, yang kerap tak sempat untuk “mengerti bagaimana air memantulkan cahaya,” (Maung Day).

Padahal, bagi orang beriman, “cahaya itu tak lain adalah Tuhan yang Maha Cahaya...” tulis Hamzah Fansuri. Tentu, bukan cahaya yang biasa, tapi cahaya yang istimewa. Cahaya yang membuat sejarah (hadirnya) Tuhan, adalah juga satu sejarah panjang ihwal “kegelapan”. Kegelapan yang (selalu) identik bagi segala yang buruk, segala yang jahiliah, segala yang jumud.

Dan konflik tak henti-hentinya terus hadir, antara gelap dan cahaya, antara yang senyap dan gaduh, antara yang bergerak dan diam, antara yang benar dan sesat, dan seterusnya. Padahal, bukankah kita sesungguhnya hanya hendak mengatakan bahwa kita tak mau hidup dalam “gelap”. Sebab gelap itu seolah meniadakan kehadiran. Sebab rupanya mata indrawi kita, sangat bergantung pada cahaya, sehingga pada yang gelap kita buta.

Maka, jangan-jangan, kita bukan benci pada gelap, kita tak benci pada senyap. Kita, hanya menunjukkan rasa angkuh kita pada “kemampuan” kita yang (justru) terbatas. Yang, sekaligus diam-diam mengimani firman Allah Ta’ala ini; “tiada kuberikan dikau ilmu, melainkan sedikit jua...” Keterbatasan itulah—terutama “ilmu” untuk mengurai secara utuh kehadiran tubuh kegelapan—kemudian yang membuat manusia terus-menerus mencari cahaya sebagai penolong, mencari “kegaduhan” sebagai yang “ada.”

Maka orang sesungguhnya (mau tak mau harus) menyukai gelap, harus menyukai senyap.. Dan demikianlah pula agaknya cara kerja iman. Iman, lebih suka masuk ke dalam sisi gelap seseorang, pada jam-jam malam, untuk menemukan waktu lampau yang tersia, oleh dosa. Iman, lebih suka berdiam dalam diri yang senyap, dan hening. Sebab, penyadaran lahir dari cermin yang buruk rupa itu.

Dan, penyadaran, adalah momentum. Semacam pembuka celah-celah kecil, lubang masuknya cahaya. Sebagaimana juga ketika di seperempat malam, gelap menyungkup dalam hening, adalah momentum untuk merasakan betapa Allah merasuk lebih dekat dari degup jantung kita, dari urat nadi kita. Dan demikianlah pula jam-jam malam terbentang “bagai sajadah panjang” di bulan Ramadan ini.

Dan hanya mereka yang tak takut kegelapan, penyuka keheningan, yang kerap  berkelana pada jam-jam malam, dapat memiliki apa yang diistilahkan oleh Rumi sebagai “penglihatan agung.” ***

comments powered by Disqus