Minggu,20 Oktober 2019 | Al-Ahad 20 Safar 1441


Beranda » Kolom Riau Pos » Marhalim Zaini » Membakar Buku

SENGGANG

Membakar Buku

Marhalim Zaini | Minggu, 22 Mei 2016 10:00 WIB

Di manapun mereka membakar buku,
pada akhirnya mereka akan membakar manusia,” (Heinrich Heine).

ADA yang bilang, membakar buku itu memang sebuah kejahatan, tapi lebih jahat lagi kalau tidak membaca buku. Tentu, ini dua “kejahatan” yang berbeda, tapi memiliki efek yang kurang lebih sama. Setidaknya, sama-sama hendak menandaskan bahwa buku sangat penting perannya bagi sebuah peradaban.

Jika belakangan, heboh soal bakar-bakar “buku kiri” misalnya, hal itu pun seperti hendak kembali menunjukkan pentingnya (atau boleh dibaca: berbahayanya) sebuah buku. Bahkan dalam masyarakat kita (yang terus ditengarai) tidak suka membaca pun, buku dianggap berbahaya. Ini sebuah bukti lain, rupanya sejarah “hitam” bakar-bakar buku masih berlanjut hingga kini.

Bukankah sejak masa zaman kuno, tak henti-hentinya buku-buku dibakar, dihancurkan, baik oleh sebab ideologis, mitos, perang, sampai sebab alamiah. Tentu, banyak orang menyumpah. Terutama para penulis, sastrawan, penyair: orang-orang yang memang merasakan betul bagaimana “perjuangan” memeras jerih dari keringat kreativitas.

Fernando Baez, seorang ahli buku dari Spanyol, berjudul Pengahancuran Buku dari Masa ke Masa, yang juga menulis La destruccion cultural de Iraq (yang membuat ia dinyatakan persona non grata oleh pihak berwenang Amerika), menyuguhkan sejarah panjang itu. Dan kenyataannya, rupanya memang para sastrawanlah yang paling merasakan kepedihan itu.  

 

Bertolt Brech misalnya, di Jerman, yang mengalami langsung Bibliocaust (jutaan buku dihancurkan oleh rezim Hitler) sepanjang Mei 1933, yang sempat menulis puisi berjudul “Pembakaran Buku”; “Bakarlah aku!/Tulisnya dengan pena yang amarah/Bakarlah aku!/Jangan lakukan ini terhadap saya/Jangan nyisakan saya…”

Dan peristiwa pembakaran buku, sesungguhnya tidak berhenti sampai ketika peristiwa itu terjadi saja, akan tetapi kengerian serupa ini kerap diyakini memberikan efek yang lebih mengerikan setelahnya; “di manapun mereka membakar buku, pada akhirnya mereka akan membakar manusia,” tulis Heinrich Heine. Seperti juga dibenarkan oleh Sigmund Freud, “pada abad pertengahan mereka akan membakar saya. Sekarang membakar buku saya saja mereka sudah senang…”

Artinya, yang tereduksi ketika buku dibakar tak semata kertas sebagai materi yang hancur dan berubah menjadi abu, akan tetapi ada otoritarianisme di sebaliknya. Ada pembungkaman di sana. Sehingga, kesan yang muncul memang sebuah peristiwa “kekerasan.” Selain, membakar buku adalah upaya paling tidak kreatif untuk membendung pikiran, gagasan, ideologi.

Membakar buku, adalah upaya panik, dan jalan pintas untuk menunjukkan bahwa api “kuasa” adalah satu-satunya yang dapat dengan cepat memberangus pikiran-pikiran. Tradisi “kekerasan” semacam ini, seperti meniadakan upaya kreatif lain untuk dapat “melawan” pikiran dengan pikiran. Tulisan dengan tulisan. Ideologi dengan ideologi pula. Ketika kita takut pada ideologi lain, bukankah pada saat yang sama, sesungguhnya kita tengah meragukan dan gamang tentang ideologi yang kita anut sendiri?***



 

comments powered by Disqus