Minggu,20 Oktober 2019 | Al-Ahad 20 Safar 1441


Beranda » Kolom Riau Pos » Marhalim Zaini » Puisi dan Waktu Senggang

Puisi dan Waktu Senggang

Marhalim Zaini | Minggu, 27 Januari 2013 09:06 WIB

WAKTU senggang, bagaimanakah kita memaknainya? Mungkin identik dengan: rekreasi, jalan-jalan, main-main, bermalas-malasan, ke pesta perkawinan, bersih-bersih, nonton film, baca buku, dan macam-macam lagi. Maka waktu senggang, seolah identik dengan hari libur. Libur; bebas dari waktu kerja dan sekolah (KBBI). Atau jika menengok istilah hibridnya; “Labour Day” itu (sebenarnya) lebih bermakna memberi penghargaan pada pekerja. Maka bahagialah kita ketika ada angka berwarna merah di kalender. Bahagia karena libur, tidak bahagia karena kerja dan sekolah. Dan, jadilah pembenaran bahwa “sekolah” dan “kerja” itu tidak “bebas” sebab keduanya (dianggap) “beban”, dianggap “penjara” sehingga harus dibebaskan. Dikotomi pun terjadi; waktu senggang/libur versus kerja/sekolah.

Bagaimana kalau, kita aduk-aduk dikotomi itu; kerja/sekolah adalah waktu senggang, dan waktu senggang adalah kerja/sekolah. Agaknya, boleh jadi aduk-aduk itu benar, jika kita merujuk pada terminologi Yunani; waktu senggang berasal dari kata skole, bahasa latinnya scola, yang berarti “luang” atau “rileks.” Nah, dalam bahasa Inggris jadi school atau leisure. Boleh jadi, awalnya sekolah/tempat pendidikan itu memang diniatkan untuk membuat para peserta didiknya enjoy, santai, memiliki kebebasan berbuat, dan dengan begitu akan membuat orang-orang yang terlibat menjadi bahagia. Tapi kini, bagaimana dengan dunia pendidikan kita? Entahlah.

Lebih jauh, kita coba tengok pemikiran Josef Pieper (dalam Happiness and Contemplation, 1958) yang menganggap “waktu senggang” justru sebagai salah satu unsur konstitutif dasar bagi kebudayaan. Sebab,waktu senggang bukan laziness, idleness, sloth, yang “mematikan” produktivitas. Namun, waktu senggang, bukan juga attitude atau act, tapi sikap mental, lebih bersifat spiritual. Dengan begitu, waktu senggang lebih kontemplatif, bukan malah masuk ke dalam “kebisingan” perayaan-perayaan (jalan-jalan, mal, pesta, dll). Jadi, bagi Pieper, waktu senggang boleh dikata sebagai “The art of silence” (seni bersunyi): aktif dalam diam, atau merayakan diam. Maka waktu senggang adalah “perayaan” yang memadukan antara “ketenteraman, kontemplasi, dan kesungguhan hidup.”

Bukankah, kita tahu, bahwa perayaan-perayaan orang-orang tua kita dulu kala, adalah perayaan yang kontemplatif. Upacara-upacara ritual/tradisional, kemeriahannya tidak berarti heboh-seremonial, tanpa menyisakan kesunyian-substantif. Ada ruang-ruang, tempat ayat-ayat, mantera-mantera, dipanjatkan. Ada dialog, yang naik tangga-tangga langit. Dialog yang terjadi dalam perayaan dan kesunyian yang bersebadan. Di sana, tidak semata kesunyian, berdiam-semedi, tapi merayakan dengan prosedur-prosedur, tata-cara, dan itu juga “kerja.” Sebab; dirayakan dengan berjalan, menari, menyanyi, yang tidak semata interaksi fisik, tapi pikiran, imajinasi, menyeberang ke sesuatu yang di luar penalaran dan realitas manusia. 

Artinya, jika Marx bilang kerja itu “basic need”, mestinya tidak berarti “total work”  yang mekanikal, tetapi di dalamnya ada “waktu senggang” sebagai sikap dasar (mode of being). Sikap dasar itulah, kebudayaan; yang di dalamnya ada perayaan (festivity) dan pembebasan (liberation). Dan, puisi, bekerja dalam perayaan itu, dalam pembebasan itu. Puisi, upacara yang memberi tanda pada kesunyian itu. Puisi, terus bekerja di waktu senggang itu...***

comments powered by Disqus