Sabtu,29 Februari 2020 | As-Sabt 5 Rejab 1441


Beranda » Kabar » Mengenang Sastrawan Hasan Junus

Mengenang Sastrawan Hasan Junus

Redaksi | Minggu, 07 April 2013 08:09 WIB
A Amesa Aryana membacakan salah satu cerpen terjemahan Hasan Junus di malam memperingati setahun kepergiannya Ahad (31/03/2013) di gerai Teselet, belakang sekretariat Dewan Kesenian Riau (DKR)

TIDAK banyak yang hadir pada helat memperingati setahun berpulangnya sastrawan Riau Hasan Junus ke pangkuan Ilahi. Hanya beberapa pelaku seni yang terbilang berusia muda saja, bertutur tentang almarhum dan membaca karyanya atau karya sendiri, Ahad (31/3) malam di gerai Teselet, belakang komplek Dewan Kesenian Riau (DKR).

‘’Kami hanya berkumpul dan berbincang-bincang sekitar kiprah Hasan Junus (HJ) sepanjang hayatnya. Beliau tentu harus dikenang sebab karya-karya dan ajakannya menyerukan untuk kebangkitan Melayu di depan cermin dunia melalui karyanya yang bernas,’’ ungkap musisi Beni Riaw, di sela-sela helat sederhana itu.

Beni Riaw, Hang Kafrawi, Eriyanto Hadi, Furqon Elwe, Herlela Ningsih, A Amesa Aryana, Rina Nazaruddin Entin, Suharyoto Sastrosuwityo, Marhalim Zaini, dan sederetan nama anak-anak muda lainnya mengakui, karya-karya mereka, juga tidak terlepas dari pengaruh HJ, langsung maupun tidak langsung. Bagi mereka, HJ menjadi sosok yang tak mungkin bisa dipandang sebelah mata, apatah lagi dilupakan begitu saja. Selain karya-karyanya, berbentuk roman/novel, cerita pendek (cerpen), esai, dan buku sejarah Melayu, HJ juga dikenal idealis. Ini dibuktikannya dengan memilih jalan hidup sebagai penulis hingga ajal menjemput.

‘’Sedikit sekali seniman/budayawan seperti HJ dan saya belajar banyak dari beliau. Saya ingat betul, HJ tidak pernah meninggalkan dunia kepenulisan yang diwariskan dari moyangnya di Pulau Penyengat, seperti Raja Ali Haji, pengarang Gurindam 12 yang ternama itu. HJ memang patut ditiru, dalam hal semangatnya mengenalkan Melayu ke seluruh dunia,’’ ulas sastrawan dan sutradara teater Hang Kafrawi.

Banyak kesan yang ditangkap dari pertemuan singkat para pekerja seni itu. Selain pekerja seni yang mengenal langsung dan pernah dekat dengan almarhum, juga pekerja seni yang jauh dan belum pernah mengenal langsung sosok HJ. Herlela Ningsih (sastrawan) dan A Amesa Aryana (pelaku teater) misalnya. Kedua sosok pekerja seni ini pernah dekat dan biasa menjalani hidup berkesenian bersama HJ. A Amesa bahkan berkisah cukup panjang tentang HJ yang menurutnya yang selalu memompa semangat setiap orang untuk berkarya dan berkarya.

‘’Kami pernah bekerja sama dan membuat karya film yang ditulis almarhum dan karya itu meraih penghargaan level nasional,’’ ungkap Amesa.

Malam itu, Amesa membacakan salah satu cerita pendek (cerpen) terjemahan HJ yang memang menguasai banyak bahasa asing. Selain itu, Herlela Ningsih bahkan membacakan esai HJ dengan gayanya yang khas. Sedang Hang Kafrawi membaca puisi karyanya sendiri yang ditujukan pada HJ. Begitu pula Marhalim Zaini membaca esainya yang berangkat dari persoalan yang menimpa HJ serta seniman lainnya. Marhalim juga membaca puisinya yang didedikasikan untuk almarhum.

Hasan Junus lahir pada 12 Januari 1941 di Pulau Penyengat Tanjungpinang dan meninggal dunia Jumat (30/3/2012) pukul 23.55 WIB di kediamannya Perumahan Beringin Indah, Pekanbaru. Karya-karyanya antara lain Jelaga (1979, karya bersama Iskandar Leo dan Eddy Mawuntu), salah satu bagian dalam Antropologi of Asean Literature-Oral Literature of Indonesia (1983); Raja Ali Haji-Budayawan di Gerbang Abad XX (1988, Peraih Anugerah Sagang 1996), Burung Tiung Seri Gading (1992; novelet digubah dari naskah sandiwara karyanya sendiri; sebagai naskah sandiwara merupakan cerita yang telah tujuh kali dipentaskan di Riau sekali di Jakarta dan sekali di Padang); Peta Sastra Daerah Riau (1993; bersama Edi Ruslan Pe Amanriza); Tiada Mimpi Lagi (1998); Sekuntum Mawar untuk Emily dan Lima Belas Cerita Lainnya (1998); Cakap-cakap Rampai-rampai dan Pada Masa Ini Sukar Dicari (1998); Dari Saudagar Bodoh dan Fakir yang Pintar Menuju yang Mendunia (1999). Salah satu cerpen disertakan dalam antropologi pemenang dan unggulan sayembara Kincir Emas Paradoks Kilas Balik. Cerpen “Pengantin Boneka” diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Jeanette Linagrd dan diterjemahkan dalam Diverse Lives-con-temporary Stories from Indinesia (Oxford Universitas Press,1995). Mencari Junjungan Buih Karya Sastra di Riau dan Furukal-Makmur (PPBKM Unri), Pekanbaru, 1996) dan banyak lagi.(fed)

comments powered by Disqus