Minggu,21 Juli 2019 | Al-Ahad 18 Zulkaedah 1440


Beranda » Jejak » Njoo Cheong Seng

Penulis dan Sutradara Serba Bisa

Njoo Cheong Seng

| Minggu, 09 Agustus 2015 11:31 WIB

NJOO Cheong Seng lahir di Bangkalan, Madura, 6 Oktober 1902 dan meninggal di Jakarta, 30 Oktober 1962 pada umur 60 tahun. Ia adalah seorang sutradara Indonesia di era 1940-an. Karya filmnya banyak dimainkan oleh aktris terkenal di era Fifi Young.


Sinologi Indonesia Leo Suryadinata menulis bahwa ia lahir di Surabaya, sementara Sam Setyautama dan Suma Mihardja mencatat bahwa ia lahir di Malang. Ia mendapat pendidikan dasarnya di sekolah Tiong Hoa Hwe Koan di Surabaya. Di usianya yang muda itu dia mulai berkontribusi koran Cina; karya pertamanya, Tjerita Penghidoepan Manoesia, diterbitkan di Sin Po pada 1919.


Pada 1920-an, Njoo mulai menulis secara ekstensif, sering dengan nama pena Monsieur d’Amour; nama pena lainnya adalah NCS dan NChS. Ia menulis banyak cerita untuk penerbitan di Gresik Hua Po mulai dari 1922, dan pada 1925 ia ikut membantu mendirikan majalah Penghidoepan. Karyanya yang dipublikasikan pada waktu itu termasuk Menika Dalem Koeboeran dan Gagal, maupun Lady Yen Mei untuk cerita sandiwara. Umumnya mereka memiliki berbagai lokasi dan latar budaya, dan sering berhubungan dengan kejahatan dan pekerjaan detektif.

Njoo aktif dengan kelompok sandiwara Miss Riboet Orion pada akhir 1920-an, dan menulis beberapa cerita sandiwara, termasuk Kiamat, Tengkorak, dan Tueng Balah. Pada 1928 ia kawin dengan Tan Kiem Nio, anggota rombongan sandiwara yang pada saat itu usianya 14 tahun. Njoo melatih dirinya dalam akting dan membujuknya untuk mengambil nama panggung Fifi Young; Nama keluarga Njoo dalam dialek Hokkian diucapkan Young dalam bahasa Mandarin, karena itulah maka ia menggunakan nama belakang ini. Sementara itu, nama Fifi diambilnya dari nama bintang film Perancis terkenal pada masa itu, Fifi d’Orsay.

Pada saat film mulai marak di Indonesia, Njoo mulai bekerja sama dengan Fred Young, yang mengajaknya pertama kali ke dunia perfilman. Karena pengalaman Njoo yang telah lama dalam dunia panggung sandiwara, terutama dalam hal menulis skenario, akhirnya Njoo Cheong Seng muncul menjadi sosok yang dapat diandalkan oleh Fred Young. Kebetulan juga keduanya mempunyai impian yang sama dalam memproduksi film, Fred Young dan Njoo Cheong Seng sama-sama menyukai film-film yang berbau kolosal.

Dengan Majesti Pictures, mereka menghasilkan dua film, yakni Djantoeng Hati dan Airmata Iboe. Kedua film ini adalah film drama yang penuh dengan airmata serta parade hiburan dan nyanyian. Bintangnya serba gemerlap, terdiri dari kaum berpendidikan tinggi, dengan harapan film yang dibuat juga akan ditonton oleh golongan atas dan kaum berpendidikan. Pada periode 1940-an, tumbuh keinginan agar film juga memiliki segmen yang lebih luas dan bisa diterima oleh kalangan baik-baik dan terpelajar. Hal ini merupakan upaya untuk menyongsong kemajuan zaman, yang dituntut juga oleh Pergerakan Nasional saat itu.

Memasuki tahun 1941, masyarakat perfilman sudah merasa berat menghadapi tuntutan publik terpelajar dan pers perjuangan. Apa yang mereka inginkan dianggap tidak proporsional. Sebaliknya, kalangan publik terpelajar terus saja meningkatkan harapan mereka, sesuai dengan meningkatnya tuntutan menyiapkan diri untuk menjadi bangsa yang merdeka.


Dalam tulisannya dengan nama samaran Monsieur d’Amour (“Tuan Cinta” dalam bahasa Perancis), Njoo Cheong Seng mengeluhkan sikap pers dan publik yang terlalu berharap pada film nasional ketika itu. Menurut dia, orang film sulit sekali untuk memenuhi keinginan kalangan bawah dan atas secara bersamaan, yang seleranya sangat jauh berbeda. Dalam perjalanan kariernya di perfilman, Njoo Cheong Seng telah menyutradarai tidak kurang dari 8 (delapan) judul film.(fed/int)

comments powered by Disqus