Minggu,21 Juli 2019 | Al-Ahad 18 Zulkaedah 1440


Beranda » Sastra » Cerpen » Ujang Dayak

Ujang Dayak

Oleh: Afridany Ramli | Minggu, 27 Agustus 2017 13:49 WIB
Ilustrasi Dantje S Moeis

SEMBARI menggali kuburan. Dengan sebuah sekrop di tangannya. Ujang Dayak tak peduli berpeluh, dia terus menggali. Baginya, mengikuti acara pemakaman bagian dari rasa duka cita yang tak terpisahkan.

"Hari ini orang lain besok kita yang mengalami, kan begitu?" ujar Ujang.

Sudah lama sekali Ujang tak pulang ke Paloh, Kalimantan. Semenjak mempersunting Fatimah, Ujang tak pernah sekalipun menjenguk orang tua sekaligus saudara dekatnya di sana. Kerinduan tersirat di mata Ujang yang kosong. Namun Mesjid Raya Baiturrahman dapat membuat hatinya menjadi lega.

Pagi itu. Rinai-rinai gerimis turun dari langit. Mendung bergelayut pekat. Ujang terus menggali kubur. Di sela-sela sedang menggali kubur sesekali dia berbicara. Lobang sudah setengah lutut. Berbagai pertanyaan dari para pelayat yang berhadir duduk dekat kuburan, satu-persatu disambut Ujang. Pipinya sudah nampak kendur. Mulut besarnya manakala berbicara terbuka lebar. Hidung pesek Ujang menandakan bahwa dia adalah pendatang.

Selain berbicara masalah suku, Ujang juga suka bercerita pengalamannya berkeliling Indonesia. Terutama saat dia merantau ke Sulawesi dan Sibolga. Dunia gelap telah mengantar Ujang ke Aceh. Hingga Tuhan memepertumakannya denga Fatimah. Sungguh suatu keajaiban baginya.

 Suatu ketika saat Ujang berkenalan seorang perempuan dia sempat menangis terisak-isak. Betapa tidak. Saat itu Ujang suka minum, minuman keras dan, ketika wanita itu disuruhnya mengambilnya minuman malahan sajadah dan tasbih yang dikasi membuatnya tersibak kesadaran.

Berawal dari singgahnya sebuah kapal penangkap ikan di Kuala Tari. Ujang menetap tinggal di Aceh. Sebelumnya Ujang bekerja sebagai nelayan. Sore itu Kuala Tari sesak dipenuhi para pembeli ikan. Dan akhirnya Ujang tertarik lalu memutuskan untuk menetap tinggal di Pasi Lhok sebuah desa di pedalam Aceh----konon, Ujang yang baru saja meninggalkan istrinya di Sulawesi tak ingin menggungkit kenangan luka itu.

Di lain waktu ketika Ujang sudah akrab dengan beberapa pawang. Mereka melihatnya seorang diri. Makan sendiri dan cuci baju sendiri. Pawang laot merasa kasihan pada Ujang. Atas kesepakatan rahasia, memutuskan Ujang dijodohkan dengan Fatimah. Wanita satu-satunya yang jarang keluar rumah di desa kami. Wanita yang selalu menjaga kehormatannya.

Hari itu mereka berkenalan. Dan Ujang pun menemui para tetua adat sebelum mempersuntingnya.


"Kehadiranku kemari bukan main-main. Dan rencaku serius ingin menikah dengan Fatimah. Nanti kalau ada jodoh saya ingin menjadi warga desa ini," ujar Ujang. Para tetua adat mengangguk santun.


Lama sudah Ujang menetap di desa kami. Tak pernah sekalipun Ujang melanggar tradisi. Setiap ada orang meninggal selalu saja Ujang menggali kubur. Lobang sudah sampai setinggi dada. Baju kuning yang dikenakannya hampir berwarna cokelat. Sebab kuburan berlumpur. Seperti ada mata air dalam lobang itu mengalir deras. Sampai-sampai Ujang memerintahkan pada mereka mengambil timba untuk membuangnya.

Sebuah mobil bertuliskan Ambulance mengaspal ke pekarangan. Rombongan pelayat memenuhi halaman. Seorang Ustad mengenakan baju koko putih dan kupiah hitam berjalan di barisan depan. Sesaat setelah jenazah diturunkan para pelayat mengikutinya dan jenazah ditandu ke sebuah surau.

Setelah disembahyangkan. Para jamaah yang sudah melakukan Fardhu kifayah  duduk berbanja. Ustad memberikan tausiyah sekaligus meminta maaf atas mayat pada jamaah yang berhadir. Kecuali Ujang. Dia hanya duduk dekat kuburan sambil meletakkan sekropnya di dalam kubur. Menurut pendapat Ustad, sekrop tidak boleh dinaikkan ke atas karena bakal menjadi saksi bagi mayat.

Maka Ujang sangat paham akan hal itu. Sejenak, Ujang mendengar saksama tausiyah dari Ustad. Matanya sembab sedih. Bila mengingat masa lalunya tak pelak jika dosa melumuri badannya. Maka Ujang sangat bersyukur sampai ke Aceh.

Suasana berubah hening. Ustad terus memberikan tausiyahnya. Semilir angin berhembus sejuk.



"Saudara-saudaraku sekalian ini bukanlah kematian," sambungnya.



"Saat ini saudara kita ini sedang melalui proses pindah tempat. Dahulu, dia bisa memanggil kita dan kita mendengarnya, dahulu dia bisa menegur kita, hari ini dia terbujur kaku, dahulu niatnya menegur kita untuk mencegah hal yang tidak baik, dan hari ini kita harus memapahnya. Apakah kalian tahu bahwa malaikat sedang menunggunya di surga. Sudah kah kalian memaafkannya?" Secara serentak para pelayat menjawab, "Sudah!"


"Alhamdulillah," sambung Ustad.

Dan setelah acara tausiyah selesai beberapa orang dari keluarga duka yang sudah menanti di liang kubur, menatap Ujang. Lelaki itu seperti biasa tanpa perlu perintah, langsung mengangkat timba. Genangan air diangkatnya sampai ke atas.

Setelah sedikit kering. Mayat dibawa dekat liang. Kain hitam bertulisan arab dengan tinta emas dilepaskan. Kain sebagai penutup itu diikat rapi. Seterusnya sebuah keranda papan pun dibuka. Keluarga duka menatapnya terakhir. Keranda berisi jenazah diturunkan.Kemudian Azan dikumandangkan. Segumpal tanah diambil oleh Ustad, didoakan sebelum ditiup. Tanah itu diletakkan di atas kepala. Dan beberapa gumpalan lagi menyertai.

Ujang memapah di kaki keranda. Setelah itu beberapa orang lelaki dari keluarga duka mengambil sekrop dan cangkul. Tanah menutup kuburan. Tidak berselang lama. Lobang itu sudah tertutup kembali.

Ujang berdiri sambil menyeka peluh di dahinya. Sejenak setelah jenazah dikebumikan, Ujang berlalu. Selesai membasuh wajahnya Ujang duduk sambil menatap kuburan.

Ustad duduk di atas selembar tikar yang digelar dekat makam. Sebuah Yasinan dipegang di tangannya. Beberapa ayat dibacanya dengan nada sendu. Sesendu semilir angin siang itu. Di bawah rinai gerimis. Sebatang pohon kering menjadi tempat teduh terakhir. Ujang masih termenung.

Setelah ritual sebagaimana berlaku itu selesai. Ustad mengambil sebuah gelas berisikan air doa. Air yang terbuat dari buah jeruk perut dan kapur barus. Dituangkan air itu diatas makam. Keluarga duka berwajah sembab. Ujang bersedih. Dia teringat keluarganya yang jauh. Gelas diletakkan terbalik di bawah pohon kamboja yang tertancap dekat pusara.***



 Sigli, 13 Agustus 2017.



 

Afridany Ramli menetap di Kembang Tanjong, Sigli, Aceh, Indonesia. Bukunya yang sudah terbit berjudul Jihar (Novel) dan Lantunan Taubat (kumpulan puisi).

comments powered by Disqus