Senin,09 Desember 2019 | Al-Itsnain 11 Rabiul Akhir 1441


Beranda » Sastra » Cerpen » Kisah Pensiunan dan Kursi Tua

Kisah Pensiunan dan Kursi Tua

| Minggu, 16 April 2017 10:35 WIB

PERNAH suatu ketika ada seorang kakek yang hidup di atas kursi. Kursi yang bukan semewah singgasana sultan, melainkan hanya kursi kayu biasa yang sereot dirinya. Ketika pertama kali dibeli istrinya, tak pernah terpikir olehnya bahwa kelak dia dan kursi itu ditakdirkan selalu bersama. Hingga pada suatu hari yang tak berperasaan, anak dan menantunya menjatahkan takdir tersebut untuknya. Dia tak kuasa menolak.

Dulu, kursi tua itu tidak sendiri. Bersama teman-temannya, mereka menguasai ruang tamu selama puluhan tahun. Ketika anggota keluarganya datang dan pergi, kursi-kursi itu tak pernah hendak diganti. Bahkan ketika istrinya meninggal, mereka seolah ditinggalkan untuk menemaninya.

Dia dan kursi-kursi itu menua bersama. Ketika kepikunan mulai menggerogotinya, kursi-kursi itu juga mulai dijangkiti penyakitnya sendiri. Kata cucu perempuannya, kursi-kursi itu berubah genit lantaran suka “menggigit”. Celah anyaman rotan pada jok dan sandarannya memang sering tiba-tiba menjepit daging pada bokong, paha atau punggung orang yang mendudukinya.

Suatu sore di hari raya, anak laki-lakinya kedatangan banyak tamu. Saat itu, anak laki-lakinya masih menolak percaya ada kursi yang bisa mengigit. Yakinnya, jika hati-hati diduduki, dia akan baik-baik saja. Nyatanya, kursi itu mengigit punggungnya di depan para tamu.

Pernah juga pada suatu sore, seorang teman sekolah cucunya yang memakai celana pendek mencoba duduk di salah satu kursi tua itu. Menuruti saran tuan rumah, si gadis remaja meletakkan bokongnya hati-hati. Tak membiarkan dirinya disakiti kursi, dia memilih duduk di tepinya saja Namun, kursi tidaklah sesifat manusia yang sungkan menyakiti makhluk cantik. Diiringi pekik kaget, gadis itu melompat. Belakang paha atasnya tampak memerah. Sebagaimana biasa jika kursi tua itu memakan korban, beramai-ramai anak dan menantunya, juga cucu-cucunya, ikut menceritakan pengalaman masing-masing.

“Kursi itu pernah membuat pahaku berdarah,” adu salah satu cucunya.

“Ia juga suka merobek gaun dan rok makanya lebih aman jika pakai celana panjang,” sambung menantunya.

“Aku juga pernah digigit. Tidak terlalu sakit, tapi membuat kaget,” sambung anak laki-lakinya.

”Lalu, kenapa kursi itu masih di sini?” tanya si tamu.

”Karena itu kursi Kakek—jadi biarlah di situ untuk sementara.”

Di hadapan pertanyaan semacam itu, jawaban yang diberikan anak laki-lakinya selalu sama. Jawaban yang didengarnya dari ruang tengah sambil menahan sesak di dada sebab dia tahu maksud di baliknya. Kursi-kursi itu akan disingkirkan bila pemiliknya sudah mati.

Namun, tiada satu pun penghuni rumah yang sabar menanti kematian si pemilik demi menyingkirkan perabot celaka itu. Satu per satu dari mereka berusaha mengenyahkannya dengan cara masing-masing. Tiga cucu terkecilnya kerap menjadikan kursi-kursi itu landasan untuk melompat. Cucu pertama dan menantunya memilih untuk menggunakannya sebagai tempat berpijak saat hendak mengambil sesuatu dari atas lemari atau menjemur kasur. Sementara anak laki-lakinya mesti menendang kursi-kursi itu bila marah. Maka berguguranlah kursi-kursi tersebut hingga tersisa satu.

Di atas kursi tua semata wayang itulah dia kerap menghabiskan waktu seharian sambil menonton televisi. Entah sedang menyiarkan acara atau hanya layar gelap, dia akan tetap duduk di sana, bahkan hingga tertidur.  

Sebenarnya, dia tidak pernah suka duduk diam sepanjang hari. Siapapun tahu dia pekerja keras. Pemuda jujur-sederhana yang memulai karir dari bawah hingga akhirnya bisa duduk di kursi kepala itulah dia. Yang terus bekerja keras, demi mempertahankan nama baiknya, sebab kursi kepala tidak senyaman bayangannya. Kursi kepala ternyata bisa mengigit—inilah kali pertama dia bertemu kursi semacam itu.

Awalnya, gigitan itu datang dari barisan jarum, peniti, duri atau beling yang seolah tumbuh sendiri di kedalaman jok. Berkali-kali dia mengganti kursi, gigitan itu tetap ada, bahkan kian parah usai dia menolak berjabat tangan dengan orang-orang tertentu. Jarum, peniti, duri dan beling seakan bersatu menggigitnya.

Ketika masa pensiun mengirimnya pulang ke rumah, gigitan kursi kepala tidak lagi menerornya. Sebagai gantinya, kursi-kursi tua di rumahnya justru mulai menunjukkan gejala keberulahan yang sama.

Gejala itu mewujud lewat usikan keempat anaknya. Setiap kali dia duduk di kursi, perasaannya selalu tidak tenang. Anak-anaknya mesti bermunculan dengan membawa rupa-rupa permintaan yang mengigiti kuping. Ada yang ingin menikah, perlu modal usaha, butuh rumah, hingga minta mobil baru. Padahal, uang pensiunnya terlampau sedikit untuk memenuni semua pinta itu. Istrinya yang sudah tiada juga tidak bisa dimintai bantuan mencari jalan keluar. Maka meskipun dia masih hidup, harta warisannya telah dibagi. Anak laki-laki satu-satunya mendapat bagian tanah dan rumah yang ditinggalinya kini.

Usai pembagian warisan, dia akhirnya bisa duduk tenang di kursinya. Anak-anaknya tidak lagi mengusik. Dua yang sudah berkeluarga, dan satu yang bekerja di kota lain, bahkan hanya muncul sekali setahun di hadapannya kala mudik. Anak laki-lakinya juga semakin jarang berbicara dengannya karena alasan sibuk, pun istri dan anak-anak mereka. Inilah saat dia mengembangkan kebiasaan duduk berlama-lama di depan televisi.

Seandainya stroke tidak memberatkan sebelah kakinya, sudah pasti berkebunlah dia atau beternak atau memelihara ikan di empang. Namun hingga hari yang tak berperasaan itu tiba, kesembuhan yang dinantinya tak kunjung datang.

Anak laki-lakinya ternyata sudah menjual tanah bagiannya dan membeli rumah di sebuah kompleks perumahan. Istri dan anak-anaknya diangkut pindah bersama nyaris seisi rumah, kecuali dia, kursi tuanya dan televisi. Meski tidak terima, seorang anak tetangga diupah sebagai pengasuhnya.

“Rumah baru kami dekat saja dari sini, Pak,” kata anak laki-lakinya, tapi entah mengapa dia tidak pernah datang menengok.

Padahal, bila anak laki-lakinya datang, ingin sekali dia berbagi sedikit kisah tentang kursi kayu reot itu. Bahwa kursi itu pun suka menggigitnya, tapi nyerinya tidaklah seberapa bila dibandingkan gigitan kursi kepala. Bahwa di usianya yang sudah delapan puluh tujuh tahun, dia membutuhkan gigitan semacam itu untuk membuatnya tersadar masih punya nafas. Bahwa kursi tua itu juga membutuhkan dirinya agar tetap dianggap  kursi, bukan rongsokan. Selain itu, dia juga ingin memberitahu kelakuan si anak tetangga yang sering teledor menjaganya lantaran sibuk bermain ponsel.

Maka, menunggulah dia. Menunggu yang cukup lama hingga pada suatu hari muncullah anak laki-lakinya. Berdiri di depan pintu yang terbuka, anak laki-lakinya menatap lama ke arahnya seakan menunggunya bersuara. Namun, dari mulutnya yang terbuka, tidak ada suara itu yang bisa dikeluarkan. Pun, tidak ada lagi cerita tentang kursi tua sebab saat itu dia sudah tidak bisa merasakan gigitannya.***

-------------------------------------------------

Anindita S. Thayf, lahir 5 April 1978 di Makassar. Menulis cerpen dan novel.Novelnya, Tanah Tabu (Gramedia Pustaka Utama, 2009), menjadi juara 1 lomba menulis novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2008,  finalis Khatulistiwa Literary Award 2009 dan diterjemahkan kedalam bahasa Inggris dengan judul Daughters of Papua (Dalang Publising, San Fransisco, 2014). Sedangkan novel Jejak Kala (Sheila, 2009) mendapatkan penghargaan Sastra Yogyakarta 2010 dari Balai Bahasa Yogyakarta.

comments powered by Disqus