Senin,09 Desember 2019 | Al-Itsnain 11 Rabiul Akhir 1441


Beranda » Melayu Serantau » Puisi Membawa Bersama Debar Dunia (Bagian 1)

Puisi Beranjak

Puisi Membawa Bersama Debar Dunia (Bagian 1)

Oleh:H. Abdul Kadir Ibrahim | Senin, 16 Juni 2014 09:01 WIB
H. Abdul Kadir Ibrahim

Niscayalah sebagai pangkal-tolak dan tolok di dalam menulis sebuah puisi sehingga menjadi benar-benar puisi masih sukar dipastikan. Kenyataan semacam itu pada akhirnya sehingga dewasa ini memunculkan banyak terokaan, percakapan dan beda pendapat. Bahwa dari atau bersebab apa dan bagaimana munculnya perasaan dan pikiran sampai menggesa dan menggerakkan seseorang (penyair) “menyediakan” dirinya bersama waktu menulis puisi, tak mudah dikatakan.

Dalam kaitan ini tidak ada salahnya pula jika ada yang berpendapat puisi ditulis tersebab peristiwa-peristiwa sosial, ketuhanan, alam lingkungan, dan apa-apa saja yang berlaku mengitari sang pengarang. Mungkin juga ada yang berpendapat  perkara yang ikut menyertai dalam menulis puisi adalah potensi pengetahuan, pendidikan, pengalaman dan kedewasaan pemikiran seseorang (penulis itu sendiri). Lain perkataan tak terlepas dari kematangan jiwa.

Dengan demikian maka sebuah puisi beranjak boleh saja dari pemikiran, dan segala apa yang terjadi di luar (di alam lingkungan) sang pengarang itu sendiri. Beranjaknya puisi amat ditentukan dan bergantung dengan kemampuan dan kemahiran sang penyair di dalam menangkap, merekam, menyerap dan memaknai apa-apa yang wujud sampai yang ghaib sekalipun. Karenanya diperlukan kemampuan yang memadai untuk memadukan daya pikir, perasaan dan kreativitas—melahirkan tulisan berujud puisi.

Jika kita ikuti dan cermati puisi-puisi di berbagai belahan dunia, khususnya Nusantara, khasnya Indonesia, puisi-puisi yang ditulis itu tampaknya beranjak dari tradisi, budaya ataupun adat istiadat. Ada pula yang beranjak dari pasang surutnya sejarah pergerakan atau perjuangan bangsa Indonesia, baik akibat penjajah ataupun dinamika orde perjalanan bangsa dengan pemerintahan dalam negara Indonesia yang sudah merdeka. Ketimpangan dalam penyelenggaraan pemerintahan ataupun kebodohan dan kemiskinan senantiasa pula menjadi corak dalam puisi-puisi ataupun karya sastra lainnya yang lahir di negeri ini. Bersamaan dengan itu, maka kita mengenal adanya priodesasi (angkatan-angkatan) di dalam kepengarangan sastra di Indonesia sebagaimana yang diperkenalkan dan dipopulerkan oleh HB Jassin.

Perkara yang sejati dipahami adalah tentang hakikat puisi adalah bagian dari karya sastra. Karena puisi sebagai karya sastra maka sekali-kali jangan smpai diabaikan dan apatah lagi dilupakan bahwa puisi yang ditulis hendaklah sebagai proses dan hasil kreativitas(karya seni). Bila berhasil memperlakukan puisi semacam itu maka puisi yang lahir niscayalah bukan sebagai abstraksi telanjang dari apa yang terlihat ataupun terjadi dan apalagi seumpama khotbah. Ia tak sekedar bercerita.

Selari penjelasan di atas elok kita ikuti pendapat “tua” tentang sastra yang diungkapkan Rene Wellek dan Austin Warren yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesiaoleh Melani Budianta (Gramedia, 2013)setiap karya sastra pada dasarnya bersifat umum dan sekaligus bersifat khusus, atau lebih tepat lagi: individual dan umum sekaligus.Yang dimaksud dengan individual di sini tidak sama dengan seratus persen unik atau khusus. Seperti setiap manusia—yang memiliki kesamaan dengan umat manusia pada umumnya, dengan sesama jenisnya, dengan bangsanya, dengan kelasnya, dengan rekan-rekan seprofesinya—setiap karya sastra mempunyai ciri-ciri yang khas, tetapi juga mempunyai sifat-sifat yang sama dengan karya seni yang lain.

Dengan demikian sebagai penulis puisi (penyair) sejatinya dapat memahami apa sebetulnya perkara-perkara yang berkaitan dengan puisi, karena dengan itulah dapat menjadi bekal yang memadai untuk menulis puisi yang baik.  Sebagaimana dikatakan Wellek dan Warren,  puisi jangan diklasifikasikan hanya berdasarkan isi dan temanya, tetapi menyangkut jenis wacananya.  Dalam menguraikan puisi tidak cukup hanya sampai dalam bentuk prosatetapi mempelajari “makna” puisi dari keseluruhan strukturnya yang kompleks, sehingga langsung berhadapan dengan inti struktur puitis: citra, metafora, simbol, dan mitos.

Perkara yang kiranya mustahak  sebagai beranjaknya menulis puisi, tidak dapat diperkatakan hanya suatu hal (sebab) atau perkara saja, melainkan bermacam-macam. Bisa dari perkara yang wujud dan bisa pula dari yang ghaib. Bisa dari peristiwa bersejarah dan juga dari hal-hal yang enteng ataupun remeh-temeh. Bisa dari kejiadian yang hebat ataupun dahsyat dan dari yang sama sekali tidak menggerunkan. Pangkalnya lag-lagi amat tergantung dan ditentukan oleh “kedewasaan” pribadi dan kemampuan secara totalitas sang penulis (pemyair) itu sendiri sengan segala pembacaannya. Maka tulislah puisi sebelum pagi bertukar hari lagi dan sehingga ianya membawa bersama debar dunia!

SAJAK DESEMBER

Sapardi Djoko Damono

kutanggalkan mantel serta topiku yang tua
ketika daun penanggalan gugur:
lewat tengah malam. Kemudian kuhitung
hutang-hutangku pada-Mu

mendadak terasa: betapa miskinnya diriku;
di luar hujan pun masih kudenggar
dari celah-celah jendela. Ada yang terbaring
di kursi, letih sekali
masih patutkah kuhitung segala milikku
selembar celana dan selembar baju
ketika kusebut berulang nama-Mu: taram-
temaram bayang bianglala itu

(1961)

Merimbas Kata Sanggam Puisi
Seperti sudah kita singgung dan pertegas dalam dedahan yang lalu-lalu, puisi begitu bergantung dengan kata-kata. Karena itu sama sekali tidak ada celah bagi seorang penulis puisi (penyair) untuk berleka-leka dengan kata mubazir, rancu, berulang sebagai tak perlu. Penyair akan berupaya semaksimal mungkin untuk menggunakan kata dengan epektif, efisien, padu dan mengena.

Kalau kita umpamakan dalam dunia pertukangan ada alat tajam sejenis kapak, yang disebut dengan cetai atau perimbas. Fungsi alat itu adalah untuk menghalus atau merapikan papan yang sudah ditarah. Dengan perimbas juga bisa membentuk kayu menjadi sesuatu dalam wujudnya yang diinginkan oleh tukangnya. Bahwa pada lazimnya perimbas digunakan untuk menarah bagian-bagian sulit dari sebuah kayu yang sedang dibentuk.

Samalah halnya dengan puisi. Sungguh diperlukan kemampuan dan kemahiran seorang penulis (penyair) untuk mengambil dan menempatkan kata di dalam leretan kata puisinya. Setelah puisi disusun sedemikian rupa, tentu masih ditemukan juga kata yang sebenarnya belum tepat—apakah karena maknanya,  persajakannya ataupun metaforanya—sehingga diperlukan kemampuan memperhalusnya yang kita katakan sebagai merimbasnya. Jadi seorang penyair pun dituntut kepakarannya dalam merimbas kata sehingga terpilih kata yang dapat membangun puisinya dengan baik dan indah.

Dengan demikian, maka bermaksudlah  tidak sengak (semuanya) kata yang terpikirkan atau dirasakan  lalu diluahkan menjadi puisi.  Ini perlu dipahami dan diterapkan secara ketat agar puisi yang dituliskan tidak menjadi meracau, dan mengaruk atau mengaru dengan liar dan sama sekali bukan sebagai puisi. Seorang penulis puisi mesti dapat menggunakan arena tulisan yang sempit dan terbatas, sehingga tidak punya ruang untuk menyembikan puisi-puisinya dengan kata  yang tiada berguna.

Julianto dengan puisinya “Harapan Kosong” (Tanjungpinang Pos, 4 Mei 2014), sebenarnya mempunyai potensi untuk merangkai kata dengan elok sehingga menjadi puisi. Dari leretan kata yang digunakan dalam puisinya itu memang terlihat dan terbaca jelas ada beberapa kata yang sebenarnya tidak perlu diulang. Misalnya “Kata mereka”, “semua akan”. “kami”, dan “yang tertipu”. Padahal puisinya mungkin dapat dirimbas menjadi: kata mereka semua akan berubah/ menjadi baik// kami yang tertipu oleh kata bijaknya/ janji manisnya// datang saat mereka butuh/ setelah itu tak// apakah harus seperti itu?// kami binatang jalanan/ orang bodoh/ yang mudah engkau tipu// kami yang tidak mengerti dunia/ gemerlapmu/ permainan emasmu// yang kami tahu hanyalah/ ketenangan/ keamanan/ dilindungi/ dihargai// bagi kami/ sangat berharga// kami berharap/ kepadamu/ pemimpin kami.

Jika ditilik terhadap keseluruhan puisi Julianto, maka kita akan menemukan bagaimana masih perlunya merimbas kata-kata. Dalam kaitan ini kata yang terpilih, dengan persajakan, simbol, metafora, ciri dan citra. Untuk mendapatkan puisi yang elok tidak ada cara lain yang mesti dilakukan oleh Julianto selain membaca puisi-puisi pengarang lain, lalu selanjutnya menulis dan terus menulis. Sebati dengan itu senantiasa merimbas atau memperhalusnya bersama lenggang perjalanan waktu yang terus berubah dan berganti dari hari ke hari. Julianto, sebagai pesan sederhana, selamilah secara mendalam dan sampai apa-apa tradisi sastra di Kepulauan Riau, khasnya di Kijang-Bintan. Sebab bagaimanapun sebuah puisi mesti ada keuinikan dan keunikan itu akan terasa menjadi pembeda kalau ianya berpautan pula dengan nuansa (lokal genius) tempatan (Kijang-Bintan-Kepri).

Dalam Tanjungpinang Pos (Ahad, 4 Mei 2014)  terdapat pula puisi penyair perempuan Susy Aning Setya (Seragen), yakni “Perempuan Hujan”, “Menyentuh Langit”, “Seripa Wajah Papa”, dan “Rumah”. Seperti sudah dijelaskan dalam dedahan terdahulu, puisi-puisi Susy Aing Setya (SAS) nyatalah sebagai mempertegas ianya sudah sebagai seorang penyair. Bagi kita yang terasa menonjol dari puisi-puisi penyair perempuan ini, adalah kemampuan dan kemahirannya dalam menganjung berbagai hal menjadi sebuah puisi. Berbabit itu pula, ia terlihat begitu percaya diri dan kuat di dalam menempatkan kata judul setiap puisinya. Bahwa kata judul puisinya saja sebenarnya sudah sebagai puisi.

Tanjungpinang Pos (Ahad, 18 Mei 2014) terdapat empat puisi karya E. Naz Achmad yang berjudul “Kalam Riau”, “Sepanjang Jalan Kenangan Abadi”, “Di Tulisan Kertas Berwarna” dan “Tanpa Syair”.  Saya menyebutnya—mungkin tidak tepat dan apalagi mengena dan pas, mohon maaf jika tak mengena—bahwa  puisi-puisi E. Naz Acmad sangat kaya akan eksistensi lokal genius (rasa tempatan). Dengan kata lain bahan, materi, muatan (fakta) sebagai  yang diambil olehnya untuk menjadi serangkaian puisinya, sudah menukik dan mengena.

Hanya menjadi catatan kita—dan dalam ulasan lalupun sudah kita dedahkan—penyair kita ini masih sangat kita harapkan untuk memanfaatkan kata-kata sebagai metafora, puitika, khas dan unik serta mengena di dalam serangkaian puisi-puisinya. Bahwa sebuah puisi yang dinarasikan dari apapun obyeknya dan hanya dengan mengedepankan persajakan dari kata awal sehingga akhir atau beberapa kalimat, masih ada terasa yang kurang bagi puisi itu utuh sebagai sebuah puisi.

Jika penyair ini memasukkan kata-kata metafora, simbol, puitika maka niscayalah puisinya terasa mencakau makna yang dalam, luas dan seni sediakalanya. Sebagai usul—tentu selama ini sudah—tidak ada salahnya penyair kita ini membaca dan membandingkan dengan karya-kaya penyair lainnya sebagai “naratif” seperti Taufiq Ismail, WS Rendra ataupun Rida K Liamsi. (bersambung)

comments powered by Disqus