Selasa,20 Agustus 2019 | Ats-tsulatsa' 18 Zulhijjah 1440


Beranda » Melayu Serantau » Kepala Surat dalam Tradisi Surat-menyurat Melayu

Kepala Surat dalam Tradisi Surat-menyurat Melayu

Oleh : Aswandi Syahri | Sabtu, 18 Mei 2013 15:45 WIB
Surat Engku Said Muhammad Zain al-Kudsi di Daik-Lingga kepada Thomas Stamford Raffles di Melaka bertarikh 10 Zulhijjah 1225 H bersamaan 6 Januari 1811, dengan kepala surat di sebelah kiri atas halaman surat dengan ungkapan: Qawluh al-Haqq. (surat asli koleksi British Library, London). foto: dok.aswandi syahri

Pada masa kini, tradisi menulis surat mungkin tak populer lagi bagi sebagian masyarakat Melayu yang hidup di tengah rempuhan gencar teknologi informatika. Terlebih lagi taradisi menulis surat yang indah penuh kaidah, dan berpedoman kepada Kitab Terasul sebagai pegangan dalam ilmu surat-menyurat Melayu.

Tradisi menulis surat yang penuh kaidah dan indah dari segi artistik ini pada masa lalu (abad ke-16 hingga awal abad ke-20), adalah salah satu tradisi agung diantara warisan tradisi tulis Melayu.
Sepucuk surat yang ditulis dengan penuh kaidah dan idah, adalah simbolisasi kedudukan, kelas, derajat, dan wibawa yang berfungsi sebagai wakil mutlak sang pengirim berdepan-depan dengan sang penerima surat.

Demikianlah, sepucuk surat Melayu tempo doeloe: indah, berwibawa, dan penuh kaidah. Sebuah tradisi yang akar tunggangnya dapat ditelusuri jauh hingga ke pusat tamadun Islam dunia seperti: Arab, Parsi, India, Iran, dan Turki. Banyak unsur-unsur dalam sepucuk surat Melayu, juga terdapat dalam surat-surat Parsi, khususnya yang berasal dari India.

174 tahun yang lalu, TJ Newbold dalam bukunya yang bertajuk, Political and statistical account of the British Settlement in the Straits of Malacca (1839), pernah mengatakan ketinggian tradisi surat-surat Melayu. Ia mengatakan:
“The Malay, like the Persians, have a set forms for letter writing, a science in which it requires some study and attention to excel…” (“Orang Melayu, seperti juga orang Persia, memiliki kaidah yang ketat untuk menulis surat, sebuah ilmu yang membutuhkan pembelajaran dan perhatian untuk menguasainya dengan baik…”).

Salah satu unsur yang penting dalam sepucuk surat Melayu adalah tajuk atau kepala surat. Sebuah ungkapan pendek bernuansa Islam dalam bahasa Arab, yang letaknya pada salah satu titik pada bagian atas halaman surat.

Letak dan Bentuk Kepala Surat
Letak sebuah kepala surat dalam sepucuk surat tradisi Melayu mengacu kepada derajat, pangkat, dan sifat hubungan antara pengirim dan penerima. Dalam Kitab Terasul yang disusun oleh M. Abdul Nasir dari Serawak atau Brunei (akhir abad ke-19), dijelaskan bahwa lazimnya, letak sebuah kepala surat pada sepucuk surat adalah sebagai berikut:
“Dalam surat orang yang rendah pangkat (dari orang yang menerima surat), kepala surat di sebelah kiri; antara orang yang setaraf, kepala surat di tengah-tengah, dan dalam surat raja atau pembesar (kepada rakyat jelata), kepala surat di sebelah kanan.”

Pemilihan bentuk ungkapakan dalam bahasa Arab (Arabic formula) yang dipergunakan dalam sepucuk surat Melayu, ditentukan oleh tujuan penulisan surat dan sifat hubungan antara penulis atau pengirim surat dengan sang penerim surat.

Formulasi kata-kata ungkapan yang dipergunakan sebagai kepala surat dalam surat-surat menyurat Melayu itu hampir sebagian besarnya adalah mengacu kepada sejumlah ungkapan-ungkapan keislaman, yang beberapa diantara mengandungi nama atau sifat-sifat kebesaran Ilahiah.

Salah satu bentuk ungkapan kepada surat yang paling populer digunakan pada surat-surat diraja Melayu abad 18 dan 19 kepada bangsa Eropa (yang menurut istilah Kitab Terasul, ungkapan kepala surat dari raja Islam kepada raja kafir) adalah Qauluh al-Haqq, dengan formulasi bentuk panjangnya seperti, Qauluh al-Haqq wa kalamuh al-sidq.

Dalah Tradisi surat-menyurat Melayu di Kepulauan Riau, formulasi ungkapan kepala surat Qawluh al-Haqq, antara lain dapat ditemukan pada beberapa pucuk surat Sultan Johor-Riau-Lingga-dan Pahang, Sultan Madmud Ri’ayatsyah, kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan sejumlah raja di Eropa dan Inggris, yang kini masih tersimpan oleh beberapa perpustakan di Inggris dan Belanda.

Ungkapan Kepala Surat Melayu
Ungkapan-ungkapan dalam bahasa Arab (Arabic formula) yang lazim dipergunakan sebagai kepala surat dalam seni surat-menyurat tradisi Melayu pada abad ke-19 sangat beragam.

RJ Wilkison dalam catatannya tentang kaidah dan seni menulis surat Melayu yang dimuat dalam, Pepers of Malay Subjects (1097:Part III, h. 29-32), mencatat 20 bentuk ungkapan yang lazaim dipergunakan sebagai kepala surat.

Sementar itu, Annabel The Gallop, mencatat 23 bentuk ungkapan yang populer dipergunakan sebagai kepala surat, dalam 100 pucuk surat Melayu dari Indonesia dan Malayasia yang diselengarakan dalam sebuah buku mewah bertajuk, The Legacy of The Malay Letter (1994).

Berikut ini adalah contoh beberapa contoh ungkapan-ungkapan kepala surat Melayu yang sering dipergunakan dan yang jarang dipergunakan (namun ada, dan dikenal dalam tradisi surat-menyurat Melayu) sebagaimana yang dicatat oleh RJ Wilkinson:

Ya Amir al-Mukminin. Ungkapan bermakna, Wahai Pemimpin Yang Setia. Pada masa lalu, adalah kepala surat yang tepat pada sepucuk surat dari rakyat kepasa seorang penguasa yang sangat berkasa. Ungkapan ini tak terpakai lagi pada awal abad 20.

Qawluh al-Haqq. Ungkapan ini bermakna, PerkatanNya Benar. Lazim digunakan sebagai kepala surat ketika dua penguasa yang sederajat berkirim surat.

Lazim juga dipergunakan pada surat-surat dari penguasa pribumi kepada Gubernur Jenderal, Resident, atau sebaliknya. Dalam surat-surat mereka kepada Herman von de Wall, Asistent Resident Riouw di Tanjungpinang, Raja Ali Haji dan Haji Ibrahim dari Pulau Penyengat juga menggunakan ungkapan ini sebagai kepala surat.

Wa-Qalam al-Shadiq. Ungkapan ini bermakna, Dan TulisanNya Sangat Tulus. Ungkapan ini adalah sebuah bentuk lain atau kelanjutan dari ungkapan Qawluh al-Haqq. Fungsi dan penggunanannya juga sama. Bentuk lain ungkapan yang serupa dengan ungkapan ini adalah al-Mustahakk, yang bermakna: “kebenaran” atau “yang sebenarnya”.

Ya-Allah Ya-Muhammad. Ungkapan ini adakalanya dipergunakan ketika bangsawan-bangsawan pribumi saling berkirim surat, akan tetapi tak terpakai dalam suarat-surat antara Gubernur Jenderal atau resident yang beragama Kristen dan seorang bangsawan pribumi.

Ya Nur al-Shams wa-al-qamar. Ungkapan ini bermakna, Wahai Cahaya Matahari dan Bulan. Sebuah pujian-semua (quasi-compliment) yang mengandungi makna ‘bersinar cemerlang. Namun tanpa cahaya agama yang sejati’. Ungkapan kepala surat ini lazim digunakan seorang Raja Melayu ketika melayangkan sepucuk surat yang dialamatkan kepada seorang “penguasa kafir” (“infidel potentate”).

Ya Ghafur al-Rahim. Ungkapan ini bermakna, Wahai Yang Maham Pemurah Lagi Maha Pengampun. Sangat lazim dipergunakan sebagai kepala surat dalam warkah-warkah atau petisi yang ditujukan kepada pejabat-pejabat daerah oleh para penghulu atau kepala kampung, dan kepada kepala-kepala sebuah kantor oleh bawahannya.

Ya Ghafur al-Rahim sesungguhnya adalah sama nama sifat Allah, dan para pejabat atau kepala kantor dingatkan dengan salah satu sifat kemuliaan ilhiah ini dengan harapan dapat mengabulkan permohonan si pembuat petisi.

Ya Fatah al-Qulub. Ungkapan ini bermakna, Wahai Pembuka Segala Pintu Hati. Kepala surat dalam bentuk ungkapan seperti ini, langka.

Sebuah unkapan kepala surat yang tepat digunakan dalam sebuah petisi atau desakan agar dilakukan penyelidikan atas sejumlah masaalah. Dalam ugkapan ini, sekali lagi penguasa atau pemerintah diingatkan akan tugasnya sebagai perwujudan kuasa Ilahiah, “yang tak ada rahasia disembunyikan daripadaNya”.

Ya Qadi al-Hajat. Ungkapan ini bermakna, Wahai Yang Mepertimbangkan Segala Harapan. Kepala surat seperti ini langka. Cocok dipergunakan pada surat petisi yang mengandungi sebuah permintaan tentang beberapa hal. Dalam ungkapan ini, sekali lagi, sebuah pengharapan si penulis surat dikaitkan dengan salah satu sifat kebesaran Ilahiah.
Ya ‘Aziz. Ungkapan ini bermakna, Wahai Yang Maha Mulia.

Ini adalah sebuah ungkapan atau pernyataan yang dipergunaan sebagai kepala surat dalam sepucuk surat kepada seorang guru, kepada seorang Tuan Said, kepada seorang Tuan Kadhi, atau ulama besar.

Ya Karim. Maknanya adalah Yang Maha Pemurah. Sebuah ungkapan kepala surat yang lazim dipergunakan pada sepucuk surat dari seorang anak kepada seorang ayah atau ibu.

Wa-al-Shams al-Qamar. Makna harfiahnya adalah, Matahari dan Bulan. Suatu bentuk ungkapan sanjungan yang lazim dipergunakan sebagai kepala surat.

Ungkapan ini antara lain pernah dipergunan oleh Engku Putri Raja Hamidah dari Pulau Penyengat dalam sepucuk suratnya kepada Gubernur Jenderal Gerard Philip Baron van der Capellen di Batavia, yang bertarikh 7 Rabi’ul-awal 1238 H bersamaan dengan 20 November 1822. ***

Sumber :  tanjungpinangpos.com

comments powered by Disqus