Selasa,10 Desember 2019 | Ats-tsulatsa' 12 Rabiul Akhir 1441


Beranda » Kabar » Ungkap Keseharian Masyarakat Melayu

Lakon "Gunjing Tak Sudah" Diangkat dalam Sinetron

Ungkap Keseharian Masyarakat Melayu

Firman Agus, Pekanbaru (riaupos) | Selasa, 20 Juli 2010 21:12 WIB

Satu lagi kisah kehidupan sehari-hari tentang masyarakat Melayu Riau dikemas dalam sebuah sinema elektronika (Sinetron) yang bertajuk “Gunjing Tak Sudah”.

 
Sinetron yang dikemas dalam 13 episode ini, berudarasi selama 30 menit telah selesai pembuatannya yang menggambil setting di Desa Buluh Cina, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar.

Adalah Dra Endrawati Razak MSi, penulis juga sekaligus penggagas cerita ini untuk diangkat ke layar kaca. Menurut mantan penyiar RRI Pekanbaru ini, dirinya terinspirasi membuat suatu karya yang bisa bermanfaat bagi semua orang, salah satunya sinetron.

‘’Selama ini kita selalu menyaksikan budaya orang ditampilkan di layar kaca, kenapa budaya kita sendiri kita tidak tampilkan, padahal budaya kita tak kalah dengan mereka, dan layak untuk ditampilkan,’’ kata Endrawati, usai syukuran penyelesaian pembuatan sinetron “Gunjing Tak Sudah” di kediamannya di Jalan Tiram Nomor 12 Pekanbaru.

Menurutnya Endrawati, dirinya harus menunggu satu tahun untuk mendapat persetujuan dari pihak stasiun TVRI atas pengajuan permohonnanya itu tepatnya pada 2009. Dan di awal 2010 ini, harapan yang dinantikannya itu terkabul sudah, dimana manajemen TVRI menyetujui pembuatan sinetron yang diajukannya.

‘’Saya terus jalin komunikasi dengan manajemen TVRI, dan mereka selalu menjawab lagi mempelajari naskah sinetron yang saya buat itu. Terkadang bosan juga mendengarnya, dan saya pasrah saja ketika itu,’’ kata pegawai Humas Pemprov Riau mengenang kejadian itu.

Gayungpun bersambut, di awal 2010 dirinya mendapat kabar yang menggembirakan dimana manajeman TVRI menyetujui dan membiayai usulan naskahnya itu diangkat menjadi sebuah sinetron untuk di diangkat ke layar kaca. Seketika itu juga, dirinya mengumpulkan kru pemain untuk berlatih sembari menuggu kedatangan manajemen TVRI.

Dalam sinetron yang ditulisnya itu, perempuan paruh baya ini menceritakan kehidupan sehari-hari orang Melayu dengan logat Melayu. Dimana dalam kisah semi komedi ini menceritakan sebuah keluarga Pak Bakar (pensiunan PNS) yang diperankan oleh Yan Armani Lubis memiliki istri bernama Munah diperankan oleh Syarifah Nur Laili yang sehari-hari pengajar guru SDN 011 Bukit Raya, yang berperawakan gemuk dan suka berdandan.

Munah ini memiliki hobi bergunjing dan sok tahu dalam segala hal terhadap apa yang didengar dan dilihatnya. ‘’Bila berdialog Munah suka menggunakan istilah yang benar, namun setiap kali menggunakan istilah terdengar sumbang,’’ katanya.***

comments powered by Disqus