Selasa,20 Agustus 2019 | Ats-tsulatsa' 18 Zulhijjah 1440


Beranda » Kabar » UU Hamidy - Al Azhar Sedih, Bidang Budaya Banyak Dicampuri Birokrat

UU Hamidy - Al Azhar Sedih, Bidang Budaya Banyak Dicampuri Birokrat

Redaksi | Rabu, 25 Maret 2009 10:37 WIB
Al Azhar melihat visi misi Riau 2020 dan Tahun Kunjungan Wisata Riau 2012 bersamaan dengan pelaksanaan PON XVIII 2012 di Riau tak akan terwujud bila masalah budaya masih saja dicampuri mereka yang tak ahlinya.
Al-Azhar
Budayawan senior Riau UU Hamidy dan anak didiknya Al Azhar merasa sedih karena akhir-akhir ini masalah kebudayaan daerah ini kurang mendapat perhatian hampir di semua lini kehidupan. Baik dalam kehidupan bermasyarakat, di sekolah, di perguruan tinggi, di pemerintahan, dan lain-lain. Bahkan banyak dicampuri birokrat yang bukan ahlinya.

Ini ditegaskannya dalam sesi terakhir rapat koordinasi (Rakor) kebudayaan dan pariwisata Dinas Pariwisata Riau di Hotel Aryaduta Pekanbaru, Rabu (25/3) yang sedikit dihadiri pejabat karena berangsur-angsur meninggalkan ruangan rakor. Awalnya pagi hingga siang jelang makan siang cukup ramai hadirin apalagi pembukaan dihadiri Wagubri HR Mambang Mit. Namun ketika sesi terakhir jelang petang hari kemarin, hadirin berkurang. Apalagi UU Hamidy dan AL Azhar tampil dengan tegas dan penuh dengan berbagai kritik seni dan budayanya mencuci sejumlah eksekutif dan politikus dan masyarakat yang menyepelekan seni budaya Melayu.

Menurut UU Hamidy, masalah kebudayaan jangan banyak dicampuri pemerintah, tapi berikanlah kepada budayawan. Selama ini kenapa kebudayaan di daerah ini memudar, karena banyak dicampuri oleh mereka yang tak ahli dibidang kebudayaan. Lebih banyak dicampuri dan diambil alih oleh Pemerintah, birokrat. Kurang perhatiannya birokrat, kata UU Hamidy dibuktikan dengan tak adanya donatur menyumbang untuk pencetakan buku yang dikarangnya mengenai Sejarah Pacu Jalur di Teluk Kuantan, Kuansing. Buku ini berisikan tentang sejarah Pacu Jalur lengkap dengan para juaranya zaman dulu sampai sekarang, hadiahnya, dan lain-lain.


Sementara Al Azhar melihat visi misi Riau 2020 dan Tahun Kunjungan Wisata Riau 2012 bersamaan dengan pelaksanaan PON XVIII 2012 di Riau tak akan terwujud bila masalah budaya masih saja dicampuri mereka yang tak ahlinya. Harusnya semua elemen di Riau ini bekerja sama untuk meningkatkan apresiasi terhadap budaya Melayu.

Sebelum sesi ini, rakor berlangsung seru. Ketua Riau Tourism Board Fadlah Sulaiman SH mengkritik Ketua Bappeda Riau Emrizal Pakis. Kata Fadlah ada usulan yang diajukan pengusul dicoret oleh Bappeda Riau. Menanggapi hal ini dibantah keras Emrizal Pakis. Menurut Emrizal Pakis, sepanjang program yang diajukan benar-benar bermanfaat pasti akan disetujui Bappeda. ''Waktu saya jadi Ketua Bappeda Riau sudah Rp100 miliar untuk anggaran kebudayaan dan pariwisata per tahun. Ketika Saya tak jadi Ketua Bappeda cuma Rp60 miliar kan?'' kata Emrizal menangkis. Jadi menurut Emrizal ia sangat besar perhatian pada kebudayaan dan pariwisata Riau.(azf)
comments powered by Disqus