Selasa,20 Agustus 2019 | Ats-tsulatsa' 18 Zulhijjah 1440


Beranda » Kabar » * Ladang Hati, di Akhir Pekan

''Nyanyi Seniman, Lagu Rebana,Ya dana, Ya dana''

* Ladang Hati, di Akhir Pekan

Redaksi | Sabtu, 04 April 2009 10:34 WIB

Usai menggelar empat pertunjukan seperti monolog, pantomim dan sulap atau magician di Panggung Ladang Hati, Komplek Bandar Serai, Sabtu (21/3) dilanjutkan dengan diskusi menarik. Diskusi tersebut makin hangat, sebab Fakhrunas MA Jabbar, Deni Kurnia dan Mr Brain hadir dan terlibat di dalamnya.

Empat pertunjukan itu adalah monolog berjudul Akhirnya Negara Memeliharanya (AKMR), pantomim Aku Ingin Duduk riauberaksi, magician/sulap oleh Komunitas Fatamorgana dan monolog, Ketika Waktu Mati Hang Kafrawi. Tidak pertunjukan itu benar yang dibahas tapi justru kumpul-kumpul dan bincang-bincang soal senilah yang mendominasi.

Komunitas kecil yang diberi nama Ladang Hati itu diazamkan sebagai wadah untuk mengapresiasikan diri bagi para pelaku seni. Tentunya, seni-seni yang mengandung nilai estetika, etika, edukasi dan mengutamakan proses. Bukan sekedar tampil hanya untuk mengisi kekosongan.

Dalam diskusi yang penuh nuansa humor, akrab dan bernas itu, Fakhrunas yang kerap mencetuskan ide lucu, kembali beraksi. Dia sempat menyanyikan sepenggal lagu rebana, ''ya dana, ya dana,'' yang menjadi lagu wajib para seniman di negeri ini, terutama Riau. Dari lagu itu pula, peraih anugerah Seniman/Budayawan Pilihan Sagang tersebut memulai.

Fakrunas menilai, selama ini, karya-karya kreatif yang lahir tidak sempat besar. Di samping, pelakunya kesulitan membesarkan, juga karena persoalan dana. Barangkali inilah penyebab, mengapa karya-karya unggul yang lahir dari Riau tidak terekspos lebih luas.

''Kondisi ini sudah kita alami cukup lama. Kita harus punya solusi yang ampuh. Misalnya, berkolaborasi dengan orang-orang yang punya uang banyak di Riau dengan cara santun dan saling isi-mengisi,'' ulasnya panjang lebar.

Begitu pula Deni Kurnia. Ketua Umum PWI Riau ini menilai, wadah-wadah kecil semacam ini membangkitkan semangat pelaku seni yang sudah lama hilang dari pandangan. Cukup banyak komunitas memang, tapi banyak pula yang tidak bertahan lama. Karena itu, agar seni dan wadah ini bisa bertahan, perlu igarap secara profesional sehingga diterima semua kalangan.

''Kita perlu saling bahu-membahu untuk membesarkan seni dan kesenian secara bersama-sama,'' katanya.

Sementara itu, Mr Brain (LSM) asal Afrika Selatan yang mengajarkan dan mengembangkan guru berbahasa Inggris di Pekanbaru cukup antusias. Dia juga berjanji akan mengajak tamu-tamunya dari luar negeri untuk ikut terlibat di Ladang Hati untuk mengapresiasi karya-karya seni yang ditampilkan.

''Saya janji, akan mengajak tamu saya kesini. Bahkan jika ada pekerja seni dari luar negeri, saya janji akan minta dia tampil disini,'' ungkapnya dengan bahasa Indonesia yang lumayan lancar.***

comments powered by Disqus