Senin,09 Desember 2019 | Al-Itsnain 11 Rabiul Akhir 1441


Beranda » Kabar » Persombahan Betogak Penghulu di Rantau Kuantan

Ekspedisi Kebudayaan Sungai Indragiri/Kuantan

Persombahan Betogak Penghulu di Rantau Kuantan

Laporan FEDLI AZIS, Teluk Kuantan | Minggu, 26 Mei 2013 12:28 WIB

Jelang tengah hari kesibukan tampak terlihat di bangunan kompleks rumah adat di tepi Sungai Kuantan. Bangunan yang dirancang mirip taman budaya tersebut nampak ditumbuhi rerumputan yang tinggi di pekarangannya. Agak jauh dari rumah warga. Jika dilihat, bangunan itu sudah mulai dimakan anai-anai dan proses pelapukan. Dibuat dengan kasar. 

BANGUNAN itu Kompleks Rumah Godang Adat Kenegerian Teluk Kuantan. ‘’Hanya ada beberapa pertemuan saja jika diperlukan,’’ ujar warga di sekitar bangunan tersebut. Hari itu, 5 Mei 2013 dilaksanakan acara Persombahan Betogak Penghulu di kompleks tersebut. Penghulu yang ditegakkan pada peristiwa adat itu, Amrizal bergelar Datuok Simarajo, diangkat menjadi Penghulu Suku Nan IV.

Selain Betogak Penghulu, juga ditetapkan pula sebagai pembantunya: Urang Malin, H HS Muhammad Chatib (Pokia Sulaiman) kitab tekombang kan bokaji nak tontu halal jan horam kan dari beliau terobiknyo. Sondi nan padek, Asmirzhan Azis (Paduko Sinaro) urang nan arif bijaksano tau dirunciang nan kan mencucuak, tau di dahan nan kan moimpok. Dan, dubalang, Murliasdi (Panglimo Sutan) kore nan kan botakiak, lunak nan kan bosudu dari beliau tumbuahnyo. Kemudian dari pado itu, kok cunduang nan kan menungkek. Peristiwa adat tersebut ditetapkan pula monti tungkatan di masing-masing jurai, yakni Jurai Kampuang Jolok, Gusdi Antoni (Mojo Bosar), Jurai Petayo Darek, Sudirman (Paduko Jelelo), dan Jurai Petayo H Ali Rauf (Gindo Melano).

H Ali Rauf pada acara tersebut sibuk berpetatah petitih dan berpantun. Dia ditunjuk sebagai peuleh jari, semacam ‘penyambung lidah’ penghulu nan berompek. Dia tampak berbicara dibimbing oleh sebuah teks yang ditulis sebelumnya. Meski demikian kepetahan lisannya masih baik dalam artian tidak begitu gagap-gagap seperti orang membaca teks tertulis. Sesekali berbicara lepas tanpa teks.

Dalam struktur adat kenegerian Teluk Kuantan Limo Koto Di Tongah, Rantau Nan Kurang Oso Duo Puluah, Datuk Bisai merupakan pimpinan tertingginya, jelas Edyanus Herman Halim yang mewarisi Datuk Bisai XII, yang pada saat Betogak Penghulu tersebut tidak bisa hadir. Meskipun demikian kekuasaannya bukanlah tanpa batas. Datuk Bisai baru berkuasa jika segala sesuatunya sudah ditetapkan dan disepakati bersama. Datuk Bisai dapat menjadi pengawas bahkan semacam hakim pelaksanaan peraturan dan perundang-undangan yang ditetapkan bersama.

Hadir dalam kesempatan tersebut, Datuk Mudo Bisai, Suryawan, S Sos, Wakil Datuk Bisai, Datuk Penghulu Nan Berompek Kenegerian Taluk Kuantan, Ninik Mamak yang tergabung dalam tatanan adat Urang Nan 16 Kenegerian Taluk Kuantan, dan rekan-rekan Ninik Mamak pemangku adat dalam Kenegerian Taluk Kuantan, dan anak, cucu, serta kemenakan. Dari peserta yang hadir terlihat bahwa peristiwa adat ini berwibawa dan memadai untuk dihormati.  

19 Rantau
Ketua Tim Ekspedisi Kebudayaan Sungai Indragiri/Kuantan Elmustian Rahman menjelaskan, suatu kawasan yang pada awalnya berada di bawah pemerintahan para datuk sebagai pemegang teraju adat untuk mengawal dan memandu kehidupan masyarakat. Negeri ini disebut rantau karena keberadaannya sangat jauh dari pusat kerajaan wilayah, yakni Inderagiri. Rantau Kuantan meliputi wilayah yang dialiri Batang Kuantan yaitu dari hulu Lubuk Ambacang sampai ke hilir di kampung Pesikaian di Cerenti. Dahulunya dikenal sebagai Rantau Nan Kurang Oso Duo Puluah. Diterjemahkan sebagai Rantau Nan Kurang Satu dari Dua Puluh, yang berarti 19 rantau. Situs budaya tentang keberadaan wilayah para datuk tersebut, Padang Candi di Lubuk Jambi dan di Cerenti.(UU Hamidy, 18)

Ditambahkan Elmustian, dalam catatan sejarah, timbulnya kata Rantau Nan Kurang Oso Duo Puluah berawal dari dua orang datuk di hulu sungai pergi ke Rantau Kuantan dalam rangka menata kembali Kerajaan Melayu raya yang sudah ditinggalkan oleh Sang Sapurba. Maka menghilirlah dua pembesar itu di Batang Kuantan, mulai dari Pulau Rona Lubuk Sampu Rago (saat ini di Ulu Kuantan) sampai ke kampung Muaro Tombongan Pasir Kayan, Cerenti. Konon, mereka menghilir di Batang Kuantan selama 19 hari. Dalam satu hari mereka dapat melalui satu rantau.  

Rantau ialah suatu ruas sungai yang lurus mulai dari satu teluk-tanjung ke teluk-tanjung berikutnya. Mereka berhasil melalui 19 rantau, sehingga akhirnya mereka sebut Rantau Nan Kurang Oso Duo Puluah. Budayawan UU Hamidy mempopulerkannya dalam berbagai buku dan hasil penelitian sebagai Rantau Kuantan. Di hulu sungai ada masyarakat yang memiliki kekerabatan yang dekat dan adat yang sama sehingga mereka menyebutnya dengan Duo Puluah Jo Muaro.

Dalam kronik hulu sejarah, ada catatan yang mengejutkan banyak pihak. Tiga abad sebelum masehi, di rantau Kuantan terdapat beberapa kerajaan. Alkisah, di Kuansing sekarang, ada sebuah kerajaan yang diperkirakan mulai berdiri sebelum tahun masehi yakni Kandis dan Koto Alang. Nama yang terakhir ini bahkan beberapa waktu lalu sempat heboh karena dikaitkan dengan apa yang disebut sejarawan dan filsuf terkemuka Plato, sebagai salah satu pusat peradaban Atlantis. Peradaban ini sebagai adidaya yang tenggelam.

Datuk Mudo Bisai memang tidak mempunyai catatan sejarah yang seperti itu. Menurutnya dari penuturan lisan orang tua-tua, nenek moyang orang Kuantan dari Hindia Belakang, tetapnya sekitar Srilangka, beragama Buddha. Ia menunjukkan beberapa bukti antara lain beberapa tapak Mahligai yang ditemukan di sekitar dusun tuo di seberang Taluk. ‘’Wajah-wajah anak keturunan kami pun mirip dengan orang Srilanka yang lebih mirip dengan India,’’ jelas Datuk Bisai yang sehari-hari sebagai PD III Fakultas Ekonomi Universitas Riau. Dia merujuk kepada sejarah lisan dan para sejarawan menjelaskan ada bukti kuat terjadi hubungan yang sangat intens antara nenek moyang orang Kuantan dengan nenek moyang Cina pada beberapa abad sebelum kedatangan Islam sebelum abad ke-13. Ia menunjuk beberapa pecahan keramik yang ditemukan di Dusun Tuo tersebut. Belum ada pihak yang berencana meneliti benda yang diduga bukti asal usul nenek moyang mereka.

Dalam pemetaan adat istiadat di Riau sebenarnya antara Rantau Kuantan dengan Rantau Singingi berbeda. Rantau Kuantan mempunyai wilayah adatnya sendiri, sedangkan Rantau Singingi termasuk bagian dari Andiko 44 yang bersumbu di Muara Takus. Namun, dalam sejarah kontemporer berikutnya, pendirian Kabupaten Kuantan Singingi adalah penggabungan dua rantau yakni Kuantan dengan Singingi yang berbeda tersebut. Dalam rujukan sejarah, memang dibenarkan juga.

Ceritanya dimulai pada awal abad ke-19, Belanda berhasil menguasai daerah Kuantan melalui Perang Manggis. Akibat kekalahan yang terjadi di pihak Kuantan, Belanda membuat kontrak dengan rakyat Kuantan yang dikenal dengan Perjanjian Pendek (Korte Verklaring) yang ditandatangani oleh Raja Hasan dengan gelar Yang Dipertuan Putih pada 21 Oktober 1905.

Akibat dari perjanjian pendek tersebut rakyat Kuantan tidak mempunyai wewenang lagi. Dalam zaman Belanda inilah daerah Singingi dimasukkan ke dalam Distrik Kuantan oleh Belanda. Distrik Kuantan mempunyai 9 Urang Godang dan seorang raja di daerah khusus Koto Rajo Baserah.

Semua Urang Godang dengan gelar Datuk itu antara lain: Pertama, Empat Koto Di Atas, meliputi negeri Serosa, Lubuk Ambacang, Sampurago, dan Sungai Pinang. Kesatuan negeri ini berada di bawah pimpinan Datuk Paduko Rajo yang berkedudukan di Lubuk Ambacang. Datuk Paduko Rajo berkedudukan di Koto Kombu.

Kedua, Lubuk Jambi si Gajah Tunggal, berada dalam pegangan pemangku adat Datuk Habib yang berkedudukan di Lubuk Jambi.

Ketiga, Tigo Koto di Lubuk Ramo, dengan pegangan teraju adat Datuk Timbang Tail berkedudukan di daerah Lubuk Ramo. Kesatuan wilayahnya meliputi Lubuk Ramo, Pantai, dan Air Buluh.

Keempat, Empat Koto di Mudik, meliputi negeri Gunung, Toar, Keresek dan Teluk Ringin, di bawah pimpinan Datuk Bandaro.

Kelima,  Lima Koto di Tengah, meliputi Kari, Teluk Kuantan, Siberakun, Simandolak, Sibuayo dengan pemegang teraju.

Keenam, Ulu Teso Tanah Darek, diterajui oleh pembesar adat Datuk Rajo Ruhum.

Ketujuh, Tigo Koto di Hilir, meliputi Pangian, Baserah dan Inuman. Kawasan ini dikuasai oleh Datuk Dano Sekaro  berkedudukan di Inuman. adat Datuk Bisai

Kedelapan, Cerenti, di bawah teraju Datuk Dano Puto berada di Koto Cerenti.

Kesembilan, Singingi, di bawah kekuasaan Urang Godang Datuk Jalo Sutan dan Datuk Bendaharo berkedudukan di Muara Lembu.

Kesepuluh, Rajo Koto Rajo Baserah, khusus menguasai Koto Rajo Baserah.

Masih Bertelingkah
Pembagian di atas sebenarnya masih dalam proses pembakuan. Ada beberapa pihak yang tidak sepakat. Masyarakat Lubuk Ambacang ketika dibeberkan pembagian di atas memandang dengan sinis. Menurut Syamsuddin Hasbi, gelar Paduko Majo dari suku Caniago, seperti yang diaminkan oleh Datuk Japilus gelar Maja Lelo dan M Rivai gelar Samponi Majo dari suku Melayu, pembagian Orang Godang di atas itu versi LAM (Lembaga Adat Melayu). Tidak begitu jelas LAM yang mereka maksudkan, apakah LAM Kabupaten Rantau-Singingi atau LAM Riau. Tetapi kedua institusi adat yang resmi itu sebenarnya tidak pernah membuat pembakuan seperti itu, selain tidak berhak, juga belum ada penelitian yang kredibel diakui semua pihak. ‘’Barangkali ini penelitian yang dilakukan oleh peneliti universitas yang kebetulan dia pengurus LAM Riau,’’ jelas Edyanus Herman Halim.

Menurut Syamsuddin Hasbi, yang mengakui versi anak kemenakan dan sejarah nenek moyang mereka yang ada itu, Urang Godang Empat Koto Di Atas itu adalah Datuk Songgo. Beliau mempunyai tunas tumbuh di mata. Di depan Masjid Jamik Koto Kombu pun dipasang struktur adat Empat Koto di Atas. Masalahnya, menurut Syamsuddin Hasbi, mereka sudah tidak memiliki tanah ulayat lagi, karena tanah ulayat yang mereka miliki oleh Empat Koto Di Atas sudah dijual kepada pemburu rente.

Edyanus Herman Halim mengakui belum jelasnya dan masih bertelingkahnya pengakuan struktur kepemimpinan adat di Rantau Kuantan tersebut. Beberapa waktu yang lalu setelah Amrizal dilantik sebagai Datuok Simarajo ada pula pelantikan tandingan, oleh suku sakat yang sama. ‘’Jangan kan Penghulu Adat, Datuk Bisai saja masih ada yang mengkomplainnya. Bagi saya tak masalah, kalau semua bisa diselesaikan baik-baik maka ambil gelar datuk bisai ini,’’ jelas Edyanus.

Terlepas dari pertelingkahan kepemimpinan datuk adat tersebut di atas, masih ada hal yang positif dari peristiwa tersebut, yakni terbitnya keinginan untuk kembali menegakkan kewibawaan adat istiadat yang sudah teruji berabad-abad silam. Ketika sore kami kembali ke posko tenda Ekspedisi kebudayaan Sungai Indragiri/Kuantan, masih terbersit sinar senja kala matahari.***

comments powered by Disqus