Selasa,10 Desember 2019 | Ats-tsulatsa' 12 Rabiul Akhir 1441


Beranda » Kabar » Peri Sejarah Melayu

Pulau Penyengat Inderasakti

Peri Sejarah Melayu

Laporan Fedli Azis, Tanjungpinang | Minggu, 03 Maret 2013 08:32 WIB

Engku Putri Raja Hamidah sebagai pemilik Pulau Penyengat dan pemegang Regalia Kerajaan Melayu Riau-Lingga adalah sosok perempuan yang takkan terlupakan. Kecerdasan, ketegasan dan keanggunannya selalu menjadi inspirasi bagi banyak orang. Dialah perempuan perkasa yang dirundung sunyi hingga akhir hayatnya.

Makam Engku Putri Raja Hamidah di Pulau Penyengat. Makam salah seorang cendekiawan perempuan Melayu ini terawat baik dan selalu ramai dikunjungi para peziarah. Foto: fedli azis/Riau Pos

HUJAN yang mengguyur Kota Tanjungpinang, Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau, sejak pagi tak kunjung reda, bahkan semakin lebat. Namun kondisi itu tidak menyurutkan niat Riau Pos menyeberang ke Pulau Penyengat, sebuah pulau bersejarah yang merupakan ‘mahar’ ataupun ‘maskawin’ Sultan Mahmud Syah III untuk pemaisurinya Raja Hamidah dengan nama lain Engku Hamidah atau Engku Putri. Keinginan untuk mengunjungi makam Engku Hamidah begitu besar karena beliau-lah pemilik resmi pulau bersejarah itu.

Riau Pos bersama beberapa kawan langsung bertolak dari penginapan menuju pelabuhan, tempat perahu boat pompong atau pompong boat merapat. Jarak pulau kecil berukuran 2.500 meter x 750 meter itu hanya lebih kurang tiga kilometer dari pusat Kota Tanjungpinang dan  hanya memerlukan waktu berkisar 15 menit saja. Meski basah kuyup, keinginan tetap sampai tuju dan untuk kesekian kalinya pula kaki menginjak pulau dengan kekayaan tak ternilai harganya yang pernah dicalonkan ke UNESCO sebagai salah satu Situs Warisan Dunia.

Perjalanan dari pelabuhan ke pulau kecil yang terlihat dari kota itu tanpa kendala apapun karena gelombang tidak begitu tinggi. Setibanya di pelabuhan utama pulau tersebut, beberapa ratus meter saja, mata langsung dimanjakan sebuah pemandangan berupa bangunan megah berwarna kuning cerah dengan kombinasi warna hijau muda. Bangunan dengan empat kubah besar itu bernama Masjid Raya Sultan Riau atau Masjid Pulau Penyengat. Usai salat zuhur dan beristirahat sejenak, perjalanan langsung dilanjutkan ke komplek makam Raja Hamidah yang tidak terlalu jauh dari masjid, meski hujan tak jua memperlihatkan tanda-tanda akan mereda.

H Muhammad Nur, imam Masjid Raya Sultan Riau menuturkan, hujan sudah berlangsung berhari-hari dan saat ini malah sejak pagi tadi belum juga berhenti. Makanya, para wisatawan yang datang hari itu agak sedikit. Biasanya, ratusan pengunjung dengan berbagai niat dan tujuan tak henti hilirmudik, datang dan pergi ke pulau tersebut. ‘’Lanjutkan perjalanan dan nikmatilah keindahan alam negeri kami ini. Ingat, jangan takabur dan ziarahilah makam-makam bersejarah di sekitar pulau ini,’’ ujarnya lelaki paruh baya yang akrab disapa Pak Long itu.

Dari kejauhan, dalam guyuran hujan, komplek makam Engku Hamidah yang juga didominasi warna kuning dengan kombinasi warna hijau terlihat anggun dan berwibawa. Barangkali seanggun dan sewibawa orangnya, sebagaimana kerap diilustrasikan dalam kronik, hikayat dan sejarah bahkan karya sastra. Bahkan dalam buku Sastrawan Riau almarhum Hasan Junus berjudul Engku Putri Raja Hamidah: Pemegang Regalia Kerajaan Riau (UNRI Press, Riau, 2002) juga menyinggung hal kewibawaan, keanggunan dan kehebatannya dalam mempertahankan kedaulatan kerajaan Riau-Lingga dari berbagai ancaman, baik dari dalam maupun penjajah. Begitu pula dalam makalah Sastawan Riau lainnya Rida K Liamsi berjudul ‘’Engku Putri Perempuan yang Melawan dengan Seribu Kata’’ pada Seminar Bersempena Peringatan 200 Tahun Raja Ali Haji di Pulau Penyengat, 29 November 2008 silam.

Pemegang Regalia Kerajaan Melayu
Komplek makam Engku Putri Raja Hamidah dipenuhi makam-makam kerabatnya, termasuk Raja Ali Haji yang dikenal sebagai ulama dan sastrawan Melayu. Komplek makam bangsawan Melayu itu terawat dengan baik dan ramai diziarahi orang. Memasuki bangunan komplek, aura ketegasan dan kewibawaan sudah cukup terasa. Hanya makam Engku Hamidah saja yang diberi kelambu berwarna kuning. Berbeda dengan makam lainnya, hanya nisannya saja yang diselubungi kain kuning.

Engku Puteri adalah penasehat, bukan ‘pembisik’. Dia adalah pengawal adat istidat, budaya kerajaan Melayu. Sultan Mahmud, memberinya tugas menjadi penjaga dan pemegang Regalia Kerajaan (sebuah perangkat sakral kerajaan, tanda dan panji kebesaran, perangkat nobat, Sirih Besar, gendang, nafiri, dan sebagainya). Perangkat kebesaran ini adalah supremasi tetinggi bagi eksistensi sebuah kekuasaan, sebuah negeri, sebuah kedaulatan tidak akan sah dan berdaulat seorang Sultan, jika pelantikannya tidak menggunakan Regalia ini. Karena itu Pemegang Regalia itu, sekaligus juga adalah penjaga adat istidat, dan tradisi.

Di dalam kesatuan antara Regalia dan adat kebesaran budaya kerajaan itu, melekat marwah (kehormatan), harkat dan martabat kerajaan Riau Lingga. Jika rusak dan binasa kedua kekuatan spritual ini, maka hancur dan runtuhlah harkat dan harga diri bangsa itu.

Bagi Kerajaan-kerajaan Melayu, sebuah kerajaan boleh saja ditaklukan, direbut, dan dikuasai oleh pihak lain. Raja atau Sultannya bisa saja terusir dan melarikan diri ke kawasan lain, mencari perlindungan. Tetapi, selagi Regalia Kerajaan tidak dirampas, tidak direbut, selagi Regalia sakti dan keramat itu masih dipegang sang Rajanya, maka selagi itulah kedaulatan negeri itu masih tegak. Sultannya tetap punya daulat, dan dia bisa berkerajaan di mana saja, dan dirajakan di mana saja. Karena sukma yang sakti itu, belum ditaklukkan. Karena itulah, siapapun yang memegang dan diberi tugas menjaga Regalia itu, adalah seorang yang kuat dan perkasa. Seorang yang kuasanya jauh di atas kekuasaan lain, termasuk sultannya sendiri.

Engku Putri Raja Hamidah anak perempuan Raja Haji, Yang Dipertuan Muda Riau Lingga IV (1778-1874) dengan Raja Perak, puteri Daeng Kamboja, Yang Dipertuan Muda Riau Lingga III (1748 -1777). Raja Hamidah adalah keturunan Melayu Bugis dilahirkan di Ulu Riau, sebagai pusat pemerintahan kerajaan Riau Lingga, setelah pindah dari Johor. Raja Hamidah bermungkinan dilahirkan di istana Kota Piring, karena ayahnya sudah membangun istana megah itu, jauh sebelum dia menjadi Yang Dipertuan Muda. Adiknya, Raja Ahmad, dipastikan lahir di Istana Kota Piring itu, 1778. Raja Hamidah masih mempunyai beberapa saudara yang lain. Saudara seibu dan seayahnya Raja Siti dan saudara seayah berlainan ibu, Raja Djafaar, Raja Idris, dan Raja Ahmad.

Sebagai puteri seorang Panglima perang, Kelana Jaaya Putera, Yang Dipertuan Muda, maka Raja Hamidah tentulah dibesarkan dalam tradisi istana, tradisi kebangsawanan, tradisi perang dan militerisasi. Ayahnya, Raja Haji juga seorang yang sangat taat beragama, menghargai para ulama, dan ke istannya di Kota Piring, dia telah mendatangkan banyak guru dan ulama, dan mereka mengajar ilmu-ilmu, baik agama Islam maupun ilmu pengetahuan lainnya, termasuk baca tulis huruf Jawi, kepada keluarga istana, dan para pembesar negeri. Raja Hamidah pun dibesarkan dalam tradisi adat yang kuat, baik tradisi adat Melayu melalui Ibunya, maupun dari para pemuka adat dari garis Bugis.

Tradisi ini tentu ikut membentuk karakter dan pemahaman Raja Hamidah tentang dirinya, posisinya sebagai puteri bangsawan, sebagai ahli waris dari seorang Yang Dipertuan Muda, dan garis keturunan yang unggul, baik dari garis Melayu maupun Bugis. Proses pendidikan di Dalam Besar istana Yang Dipertuan Muda, pengembaraannya di tengah perang bersama abang sepupunya Raja Ali, dan konflik politik yang mewarnai masa mudanya, tentulah akhirnya mewujudkan sosok Raja Hamidah yang anggun, kukuh, beradat istiadat, cerdas, dan berpengetahuan.

Sebagai perempuan keturunan campuran Melayu yang jelita, gemulai, dengan Bugis yang tegar, teguh, dan karismatis, tentulah dapat dibayangkan pada sosoknya. Beberapa sumber tertulis, menyebutkan Raja Hamidah sebagai seorang perempuan yang sangat elegan, cerdas dan bijaksana. Wanita anggun dan sangat berwibawa. Beliau telah pula masuk ke wilayah kekuasaan dan politik begitu dia dewasa, dan kemudian dipersunting Sultan Mahmud III dan menjadi permaisuri kerajaan Riau Lingga.

Saat menikah dengan Sultan Mahmud pada 1803, Raja Hamidah memang sudah menjadi seorang perempuan yang matang, dan karena itu dinilai sanggup memikul berbagai masalah pelik bagi seorang perempuan istana, baik beban politik maupun tekanan kekuasaan lain dipundaknya, yang dititipkan para pemuka adat dan pembesar negeri, khususnya keturunan Bugis. Usianya yang sekitar 29 tahun, tentulah telah memberikan Raja Hamidah usia yang matang dan bijak, baik sebagai seorang bangsawan dan pihak Bugis, maupun sebagai seorang permaisuri.

Dia begitu setia mendampingi sang Sultan sebagai permaisuri yang gahara sampai Sultan Mahmud III mangkat (1812). Bukan hanya sebagai permaisuri, tetapi juga seorang penasehat, pemegang teraju adat dan tradisi, serta menjalankan tugasnya sebagai Pemegang Regalia Kerajaan. Wanita Ranggi, Peri sejarah ini, meninggal 5 Agustus 1844, di istananya, di pulau Penyengat. Jika benar dia lahir pada 1774, maka saat meninggal, wanita perkasa dan berhati baja ini, berusia sekitar 70 tahun. Dia memang hidup lebih lama dibanding sang abangnya Raja Djaafar, Yang Dipertuan Muda Riau Lingga VI, yang meninggal 1831, yang saat meninggal diperkirakan berusia 66 tahun. Keduanya meninggal dengan memendam rasa pedih dan kecewa atas takdir politik, meski keduanya merasa, telah mengemban tugas dipundak masing-masing dengan sekuat rasa. Mereka harus memendam luka persaudaraan yang lama dan berdarah.

Sepak terjangnya sebagai permaisuri, sebagai ibu suri, sebagai pemegang regalia kerajaan, telah membuat namanya ditulis dan dicatat dalam berbagai buku kronik dan sejarah. Orang mengaguminya sebagai perempuan yang tegar, keras, dan tak kenal menyerah atas prinsip hidup dan amanah yang dilimpahkan kepadanya, dan juga seorang permaisuri yang kesepian.

Perjalanan untuk kesekian kalinya ke Pulau Penyengat memberi pemahaman akan pentingnya sejarah bagi kehidupan masa kini dan masa akan datang. Jelang magrib, Riau Pos kembali ke Tanjungpinang, masih dalam guyuran hujan lebat.***

comments powered by Disqus