Selasa,20 Agustus 2019 | Ats-tsulatsa' 18 Zulhijjah 1440


Beranda » Kabar » Monolog, Mahakarya Seorang Aktor

Monolog, Mahakarya Seorang Aktor

Eriyanto Hadi, Pekanbaru | Minggu, 10 Februari 2013 10:02 WIB

Bagi masyarakat umum, khususnya di Kota Bertuah Pekanbaru, pertunjukan teater mulai mendapatkan tempat sewajarnya. Setiap pementasan, baik di Anjung Seni Idrus Tintin, Taman Budaya Riau maupun ruang publik lainnya selalu ramai. Lalu, bagaimana pula dengan monolog?

Dunia teater di Riau selalu menggeliat dan melahirkan aktor-aktor baru. Foto: fedli azis/riau pos

Jika boleh dikatakan, tidak banyak aktor yang mampu bermonolog dengan baik dan benar. Karena apa? Karena monolog adalah masterpeace-nya seorang aktor. Seorang aktor yang malas, jangan pernah berharap. Bahkan seorang aktor yang rajin sekalipun tidak semuanya bisa memainkan dengan sempurna. Begitu sulitkah monolog hingga terlalu sedikit yang mau melakukannya?

Satu dari sedikit aktor yang tak diragukan lagi, tentu saja almarhum Idrus Tintin. Seorang tokoh teater Riau yang namanya tak pernah mati. Dia diakui banyak pelaku seni, terutama teater, “hidupnya pun teater”. Bahkan, 10 November 2012 lalu, pelaku teater Pekanbaru sekitarnya mencanangkan hari itu sebagai “Hari Teater Modern Riau”.

 Salah satu asuhan Idrus Tintin, Aamesa mengatakan, almarhum pernah mementaskan monolog di Arena Balai Dang Merdu dengan keaktoran yang total berjudul “Ayahku Pulang”. Kala itu, beliau memakai kostum serba putih menggunakan tongkat. Menurutnya, itulah permainan sesepuh teater Riau yang masih hangat sejak 1990-an hingga hari ini. “Waktu ini saya penata lampunya dan saya benar-benar terpukau dibuatnya dan tidak pernah lupa hingga sekarang. Sampai saat ini, di Riau, saya kira belum ada yang bisa menandingi keaktorannya,” ulas Amesa panjang lebar.

Di masa Idrus Tintin (teater Bahana), sutradara Ibrahim Sattah (Bengkel Teater Bhayangkara), Sudarno Mahyuddin (teater Bianglala), Tabrani Rab, OK Nizami Jamil, Taufik Efendi Aria, H Suhaimi, Armawi KH dan generasi di bawahnya seperti Al azhar (teater Bahana), Aris Abeba dan Dasry al Mubari (Bengkel Teater Bersama), Tengku Ubaidillah (teater Laksemana) dan lainnya memang diakui geliat teater berkembang dengan baik. Setiap komunitas dan individu bahu-membahu menghidupkan teater dengan satu tekat untuk kemajuan teater Riau. Di zaman mereka, bisa dikatakan aktor-aktor selain Idrus Tintin hanya Norham Wahab yang sempat tampil monolog.

Berlanjut hingga saat ini, generasi teater juga mulai bangkit setelah ‘tidur’ beberapa tahun. Sebut saja GP Ade Dharmawi, Musrial Al Hajj, Hang Kafrawi, Fedli Azis, Marhalim Zaini, Willy Fwi dan lainnya dengan komunitas masing-masing juga tidak melupakan monolog. Teater Selembayung Riau misalnya, pernah menggelar Festival Teater Monolog se-Riau dan melahirkan satu aktor muda Monda D Gianes yang mewakili Riau ke tingkat nasional. Muncul pula beberapa aktor muda lainnya seperti M Paradison, Ika Elizar, Mimi Suryani, Raju Turangga, Ekky Gurin Andika, Syarif dan sebagainya.

“Riau punya banyak potensi aktor yang kuat. Mereka hanya memerlukan keuletan dan pantang menyerah. Paling tidak, aktor-aktor Riau tak bisa dipandang sebelah mata dan monolog menjadi wadah bagi aktor yang rajin,” ungkap Hang Kafrawi MSn yang juga pernah menggelar helat monolog se-Sumatera bersama Marhalim Zaini dan kawan-kawan.

Kelahiran Monolog
Monolog merupakan istilah keilmuan yang diambil dari kata ‘mono’ yang artinya satu dan ‘log’ dari kata logi yang artinya ilmu.

Secara harfiah monolog adalah suatu ilmu terapan yang mengajarkan tentang seni peran di mana hanya dibutuhkan satu orang atau dialog bisu untuk melakukan adegan/sketsanya. Kata monolog lebih banyak ditujukan  untuk kegiatan seniterutama seni peran dan teater.

Sebenarnya monolog sudah diperkenalkan sejak 1960-an. Saat itu pertelevisian tidak mengenal dubbing atau pengisian suara. Karena itu monolog banyak dipraktikkan untuk membuat film-film komedi dan horror.

Salah seorang pengagas monolog yang terkenal adalah Charlie Chaplin. Monolog diperkenalkan pertama kali di Hollywood sektiar 1964 lalu berkembang menjadi sarana seni dan teater dan sudah menjadi salah satu teori pembelajaran dari karya seni teater monolog adalah percakapan aktor seorang diri.

Pada mulanya, monolog merupakan salah satu bentuk latihan bagi seorang aktor. Dalam sebuah naskah drama biasanya terdapat pembicaraan panjang seorang tokoh di hadapan tokoh lain, dan hanya ia sendiri yang berbicara.

Cakapan tokoh inilah yang disebut monolog dan karena panjangnya cakapan, maka emosi perasaan dan karakter tokoh itu pun berubah-ubah sesuai dengan pokok pembicaraan.

Perubahan emosi dan karakter inilah yang coba dilatihkan oleh aktor. Dinamika perbahan tersebut sangat menarik dan menantang untuk dimainkan.

Daya tarik permainan aktor dalam latihan monolog melahirkan permainan monolog secara mandiri. Pengarang menciptakan cerita monolog yang lepas dan bukan lagi merupakan bagian dari sebuah lakon.

Permainan aktor seorang diri ini akhirnya berkembang menjadi satu bentuk pertunjukan teater. Kreasi monolog terus berkembang hingga munculnya soliloquy dan monoplay.

Jika dalam monolog, aktor berpur-apura atau sedang berada dihadapan tokoh atau orang lain, maka dalam soliloquy tokoh tampil sendirian di atas panggung sehingga ia bisa dengan bebas mengungkapkan isi hatinya, rahasia-rahasia hidupnya, harapan-harapannya, dan bahkan rencana jahatnya.

Sementara itu dalam monoplay, aktor harus bermain drama seorang diri. Kadang ia jadi tokoh tertentu tapi pada satu saat ia menjadi tokoh yang lain.

Dengan bermain seorang diri, aktor dituntut untuk bermain secara prima. Eksplorasi yang dilakukan tidak hanya tertuju pada satu karakter atau satu ekspresi tetapi semua karakter dan ekspresi yang ada dalam cerita harus ditampilkan secara proporsional.

Perpindahan dan perbedaan antara karakter satu dan lainnya harus jelas. Oleh karena itu, aktor betul-betul harus mempersiapkan diri dan mengerahkah segala kemampuannya untuk bermain monolog.

“Kita tentu terus mengharapkan aktor-aktor lahir dari komunitas-komunitas teater yang ada di Riau,” kata Kafrawi mengakhiri.***

comments powered by Disqus