Senin,09 Desember 2019 | Al-Itsnain 11 Rabiul Akhir 1441


Beranda » Jejak » Jan Engelbert Tatengkeng

Bersentuhan Aliran Kesusastraan Belanda

Jan Engelbert Tatengkeng

| Minggu, 27 September 2015 09:08 WIB
Jan Engelbert Tatengkeng


Jan Engelbert Tatengkeng dilahirkan di Kalongan, Sangihe, Sulawesi Utara, Hindia Belanda, 19 Oktober 1907 dan meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia, 6 Maret 1968 pada umur 60 tahun. Jan adalah penyair Indonesia dari era Pujangga Baru. Selain itu ia juga pernah menjabat sebagai Perdana menteri Negara Indonesia Timur.

JE Tatengkeng berasal dari latar belakang keluarga Kristen yang taat. Ayahnya guru Injil dan kepala sekolah Zending. JE Tatengkeng menempuh pendidikan pertama kali di Zendingsvolksschool berbahasa Sangihe di Mitung. Sesudah itu ia melanjutkan ke HIS di Manganitu. Dari sana ia meneruskan ke Christelijk Middagkweekschool di Bandung, Jawa Barat, lalu Christelijk Hogere Kweekschool di Solo, Jawa Tengah.

Pada masa bersekolah ini, JE Tatengkeng mulai berkenalan dengan Tachtigers, suatu aliran kesusastraan Belanda yang disebut juga sebagai Angkatan 80-an. Aliran kesusastraan inilah yang kemudian banyak mempengaruhi sajak-sajaknya.

Selain sebagai penyair, JE Tatengkeng juga merupakan tokoh pendidikan dan negarawan. Sebagai tokoh pendidikan ia pernah menjadi guru bahasa Indonesia di Tahuna pada 1932, Kepala Schakelschool di Pulau Siau, Kepala Sekolah HIS di Tahuna, Menteri Muda urusan Pengajaran pada 1948, dan terakhir Kepala Jawatan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Kemendikbud perwakilan Sulawesi pada 1951. Di Makassar, ia turut mengajar dan membidani lahirnya Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin.

Sebagai negarawan, JE Tatengkeng pernah menjabat sebagai Perdana menteri Negara Indonesia Timur pada rentang 1949-1950. Karyanya yang terkenal ialah Rindu Dendam (1934) yang berisi 32 sajak yang ia tulis.(fed/int)



Karya-karyanya yang lain antara lain:

Puisi – Di Majalah Poedjangga Baroe

Hasrat Hati
Anak Kecil
Laut
Beethoven
Petang
en:Alice Nahon
O, Bintang
Gambaran
Sinar dan Bayang
Katamu Tuhan
Sinar di Balik
en:Willem Kloos
Tangis
Puisi di majalah-majalah lain

Anak Kecil
Penumpang kelas 1
Gadis Bali
Aku Berjasa
Gua Gajah
Cintaku
Ke Balai
Mengheningkan Cipta
Sekarang Ini
Aku dan Temanku
Sinar dan Bayang
Kepada Dewan Pertimbangan Kebudayaan
Aku Dilukis
Sang Pemimpin (Waktu) Kecil
Bertemu Setan
Prosa

Datuk yang Ketularan
Kemeja Pancawarna
Prawira Pers Tukang Nyanyi
Saya Masuk Sekolah Belanda
Sepuluh Hari Aku Tak Mandi

Drama
Lena (1958)

comments powered by Disqus