Sabtu,07 Desember 2019 | As-Sabt 9 Rabiul Akhir 1441


Beranda » Jejak » Rahman Arge

Jangan Berhenti Berkarya

Rahman Arge

Redaksi | Minggu, 16 Agustus 2015 09:37 WIB
Rahman Arge

RAHMAN Arge atau Abdul Rahman Gega lahir 17 Juli 1935 di Makassar, Sulawesi Selatan. Rahman Arge (RA) pernah mendeklarasikan prinsip hidupnya; menggelinding tanpa banyak cincong. Prinsip hidup tersebut, RA, terus berada dalam pusaran kreativitas. Hingga menjelang usianya yang kurang lebih tujuh puluh, ia masih selalu berkata; Aktor jangan sampai kehilangan panggung. Oleh sebab itu jangan berhenti berkarya.

Rahman Arge bersekolah di SMA Wartawan “Amanna Gappa College” selama dua tahun, kemudian studi di Akademi Seni Drama Indonesia (ASDI) sejak 1959 hingga 1961 di Makassar. Rahman Arge tidak pernah melawan orang tua walau RA dilarang terjung ke dunia seni, terbukti setelah orang tua tau kalau Rahman Arge sekolah wartawan. Orang tua RA tidak menyuruhnya berhenti sekolah. Pekerjaan orang tua RA merupakan karyawan dalam perusahan belanda. Waktu itu kesenian Makassar tidak seperti kesenian yang lahir di Jawa yang sangat pesat.

Karirnya di kesenian berawal dari menekuni seni lukis, namun sejak 1955 RA kemudian tertarik pada bidang sastra dan drama. Saat berusia dua puluh tahun itulah, RA aktif menulis cerpen, naskah drama, puisi, dan essai. Dalam berkesenian saya memkai filosofi paancasila, dalam proses berkesenian tidak ada kata selesai, tapi apa yang dicapai sekarang ini belum sampai disini tapi perjalanan kesenian RA masih mengalir sampai sekarang. Aktivitasnya ditambah lagi dengan menjadi sutradara drama yang berkali-kali menampilkan diri dan karyanya di Taman Ismail Marsuki.

Rahman Arge terdorong untuk mengembangkan dunia  kesenian yang ada di Makassar. RA sadar kalau seni itu tidak ada puncaknya karena prosesnya mengalir, terbukti RA mendirikan Front Sinema Makassar pada tahun 1957, dan teater Makassar tahun 1969. Grup ini dimaksudkan sebagai liga bagi teaterawan Sulawesi Selatan yang siap tampil diberbagai event baik nasional maupun internasional. Haarapan tersebut terus terjaga hingga kini.

Karya-karya tulis RA berupa esai, naskah drama, kritik film, cerpen, dan puisi, dimuat diberbagai media majalah atau koran. Puisi-puisi yang pernah dimuat di Majalah sastra Horizon, Jakarta, Budaya Jaya, Basis, Tempo dan Gatra. Yaang lainnya dimuat di koran Kompas, Indonesia Raya, Harian Kami, Sinar Harapan, Suara Karya, Berita Yudha, dan sampai sekarang masih eksis esainya dimuak di Koran Fajar, salah satu karyanya yang berjudul “ Saya Dipaksa Masuk Rumah Sakit; Sudah Matikah Saya....?” Yang membuat orang-orang mengiranya sudah meninggal.

Cerpennya yang terkenal adalah; Langkah-Langkah Dalam Gerimis. Pernah di film layar lebarkan dengan judul Jangan Renggut Cintaku. Cerita ini mengisahkan konflik antara tumasi dan pelarian dalam cerita seorang laki-laki yang balas dendam yang membawa adenya (Silarian). Karya dramanya yang sering dimainka adalah : Sang Mandor, Pembenci Matahari, dan Kenduri. Naskah dramanya yang lain adalah I Tolok, Opa, Somba Opu, Mereka Mulai Menyerang, Sang Direktur, dan lainnya. Selain menulis, RA kerap menterjemahkan karya sastra dunia. Diantaranya karya-karya Gui de Maupasant, Maxim Gorky dan William  Sarojan.


Sebagai teaterawan, mendapat hadiah seni dari pemerintah Republik Indonesia tahun 1977. Di bidang film RA meneriam penghargaan Piala Citra sebagai aktor pemeran pembantu terbaik, dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1990. Sebelumnya pernah meraih medali emas pemeeran pembantu terbaik pada FFI 1988. Prestasi itu ikut menunjang penunjukannya sebagai Ketua Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) cabang Sulawesi Selatan 1989-1993.(int/fed)

comments powered by Disqus