Sabtu,07 Desember 2019 | As-Sabt 9 Rabiul Akhir 1441


Beranda » Jejak » Nashar

Ditempah Penderitaan

Nashar

| Minggu, 26 Juli 2015 09:53 WIB
Nashar (internet)

Nashar lahir di Sumatera Barat, 3 Oktober 1928 dan meninggal di Jakarta, 13 April 1994 pada umur 65 tahun. Nashar adalah seorang pelukis ternama Indonesia. Nashar banyak belajar senirupa dari S Sudjojono di Yogyakarta, seorang pelukis besar yang kemudian hari dinobatkan sebagai Bapak Seni Lukis Modern Indonesia. Dia juga menerima pelajaran dari perupa ekspresionis, Affandi, yang mengajarinya melukis dengan mengambil objek kehidupan sehari-hari, yang terus dipertahankan sepanjang hidupnya.

Ditambah dengan didikan yang keras dari seorang ayah dan dibesarkan dalam kelaparan dan penderitaan, telah menjadikannya legenda yang nyaris sempurna untuk seorang pelukis, sehingga dia-pun dianggap sebagai salah satu maestro senirupa Indonesia.

Nashar pernah mengajar di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ), namun kemudian dia mengundurkan diri dari lembaga itu karena perbedaan pandangan mengenai sistem pendidikan bagi siswa senirupa. Dia menolak sistem akademis yang dilaksanakan LPKJ. Dia seorang pengajar yang suka bergaul langsung dan menggambar bersama dengan siswa-siswanya, sehingga ia dianggap sebagai pengajar yang simpatik. Bagi Nashar, teori yang diajarkan di akademi senirupa tak begitu penting, meski teori boleh saja diajarkan pada siswa. Baginya aspek penjiwaan dalam diri seorang pelukis jauh lebih penting bagi seorang siswa yang mau mendalami senirupa.

Nashar pernah mengadakan pameran tunggal di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada 22-28 Februari 1973 dengan menampilkan empat puluh buah karya-karya lukisannya yang baru dan yang lama. Bahkan, Balai Lelang Larasati pernah menyelenggarakan lelang dengan tema  “Traditional & Contemporary Art” pada Sabtu 13 Agustus di Nyoman Sumerta Fine Art Gallery Bali. Warna-warna yang cemerlang sering tidak mengungkapkan kecerahan, tetapi menceritakan efek dramatis kehidupannya.

Untuk mencapai kedalaman esensi objek-objek dan kemurnian perasaan dalam lukisannya, dia merumuskan perjuangan kreativitas lewat kredo “Tiga Non”. Pertama yaitu non konsep. Maksudnya adalah, ketika mulai melukis dia belum punya gambaran, konsep, bahkan gaya yang akan dipakai. dia hanya mengandalkan pada keinginan jiwa dan intuisi yang akan mengalir.

Kedua, yaitu non objek. Dalam kredo ini ia percaya bahwa suasana intens dalam melukis akan mendorong untuk mendapatkan suatu bentuk atau objek sendiri dalam kanvas. Ketiga, adalah non teknik. Dalam melukis dia selalu tidak berangkat dari pola teknik. Teknik akan menyesuaikan dengan citra dalam berkarya. Dengan kredo tiga non itu diharapkan melukis harus melalui proses perjuangan yang sulit, sehingga situasi jiwa murni selalu terjaga.(fed/int)

comments powered by Disqus