Kamis,12 Desember 2019 | Al-Khomis 14 Rabiul Akhir 1441


Beranda » Jejak » Augustin Sibarani

Pelukis Wajah Sisingamangaraja

Augustin Sibarani

| Senin, 01 Juni 2015 08:24 WIB
Augustin Sibarani : Pelukis Wajah Sisingamangaraja

AUGUSTIN Sibarani lahir di Pematangsiantar, Hindia Belanda, 20 Agustus 1925 dan meninggal di Depok, Jawa Barat, 19 Desember 2014 pada umur 89 tahun. Ia adalah seniman berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal melalui karya lukisan Raja Sisingamangaraja XII yang dicetak pada uang kertas Rp 1.000. Agustin juga seorang tentara dengan pangkat terakhir Letnan.

Agustin Sibarani, sejak kecil sudah mengakrabi dunia seni, utamanya senirupa. Dia sudah mahir melukis pada usia 10 tahun. Waktu itu ia menerima penghargaan Bintang Emas dari Asisten Residen Tichelman karena melukis Pangeran Willem Van Oranje. Pemerintah Hindia Belanda pun pernah memberikan beasiswa kepadanya untuk belajar di Akademi Senirupa Belanda. Sayang sekali, Perang Dunia II mengoyakkan kesempatan itu, sebab Jerman sedang menduduki wilayah Belanda, pada 1940. Gelora seni lukisnya diredam, ketika ibunya minta agar dia belajar di MIS (Middelbare Landouw School Sekolah Menengah Pertanian) di Buitenzorg, Bogor. Sang ibu berharap anaknya dapat menjadi Ajunct Landbouw Consulent (wakil penyuluh pertanian) di perkebunan milik ayahnya seluas 300 Ha di Pariasan. Bulan April 1945 ia menyelesaikan pendidikannya, kemudian bekerja di perkebunan Merbuh, sebelah Selatan Semarang. Setelah itu menjadi karyawan di United States Information Service (USIS) Jakarta sebagai ilustrator.

Tahun 1952, ia membuat tiga judul buku ala Walt Disney untuk anak-anak, diterbitkan oleh PT Timun Mas milik Poppy Sjahrir dan Alex Sutantio. Tahun berikutnya ia menulis buku kartun Senyum Kasih Senyum dan Si Ucok yang diterbitkan oleh penerbitan Belanda, Godfried. Ia juga mendapat kesempatan untuk menggelar pameran di Jerman Barat, Moskow (Uni Sovyet), dan Wina, Austria, 1959.

Agustin Sibarani adalah pelukis wajah Raja Sisingamangaraja XII pada 1961 berdasarkan riset panjang mengenai sosok pejuang dari Tapanuli ini. Lukisan itu diselesaikannya pada 1962, dan diserahkan kepada pemerintah pada saat diumumkannya pengakuan Sisingamangaraja XII sebagai pahlawan nasional. Karya-karya karikaturnya, pada era 1950-an hingga awal 1970-an tersebar di sejumlah penerbitan dan sering menjadi perbincangan orang.

Karena masalah politik, ia tidak bisa mengirimkan karikaturnya ke media massa di dalam negeri waktu itu. Namun demikian, ia terus berkarya dan hasilnya dimuat di sejumlah media luar negeri seperti Le Monde, Reporters Sans Frontiers, L’Humanite (Perancis), dan Jurnal Indonesia (Cornell University, Amerika Serikat). Pencapaiannya dalam bidang seni antara lain meraih Bintang Emas dari Assisten Residen Tichelman, dan Beasiswa dari pemerintah Hindia-Belanda untuk belajar di Akademi Seni Rupa di Belanda.(int/fed)


Karya

  • Senyum, Kasih Senyum, (1953)
  • Si Ucok (1953)
  • Rumah Si Bolang (1953)
  • Musik Si Beber (1953)
  • Si Kasimin Pergi Ke Kota (1953)
  • Karikatur dan Politik (2001)
comments powered by Disqus