Kamis,12 Desember 2019 | Al-Khomis 14 Rabiul Akhir 1441


Beranda » Jejak » Andy Liany

Vokalis Slank Formasi Awal

Andy Liany

Redaksi | Minggu, 10 Mei 2015 10:26 WIB
Andy Liany


ANDY Liany lahir 1966 dan merupakan seorang penyanyi musik rock Indonesia kelahiran Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Namanya dikenal secara nasional pada paruh awal 1990-an. Ia wafat pada 1995 karena kecelakaan mobil.

Awal karier bermusik diawali dengan bergabung dalam grup musik “Z Liar”. Bersama grup ini, dua singel, “Fitnah” dan “Bumi”, dirilis bersama dalam album kompilasi “Indonesian Rock Metal 1” garapan Bursa Musik pada 1990. Andy pernah menjadi vokalis Slank formasi awal. Ia juga pernah menjadi vokalis Elpamas.

Pada 1991 ia merilis satu album singel dengan lagu “Satu Cita”, namun tidak sukses. Selanjutnya ia bergabung bersama Pay, Ronald, dan Once membentuk Fargat 27, dan merilis album “Seribu Angan”. Album solo pertamanya adalah “Misteri”, di bawah label Wins Record. Salah satu lagunya, “Sanggupkah Aku”, mengangkat namanya ke pentas nasional. Setahun kemudian keluar album solo kedua, “Antara Kita” dengan hit berjudul sama, “Antara Kita”.

Sederet prestasi sudah pernah disabetnya. Satu yang tidak mungkin dilupa adalah predikat penjualan terbaik pada album bertajuk ‘Sanggupkah Aku‘. Bukan hanya sebatas itu saja. Ezra Simanjuntak, gitaris legendaris Indonesia, menyebut lengkingan khas Andy Liany merupakan suara asli musik rock Indonesia.

“Suara Andy itu ya rock asli. Nggak diubah ataupun diapa-apain,” kata Ezra. Karena kualitas suaranya pula yang membuat Pay, mantan gitaris Slank, mengajak penyanyi bernama asli Juli Hendri ini pernah menjadi vokalis sementara di formasi awal Slank.

Masih ada sederet musisi papan atas Indonesia yang dekat dengan Andy Liany. Seperti Baron dan Dewa Budjana. Keduanya sama-sama mengakui dunia musik Indonesia amat kehilangan dengan kepergian Andy Liany 1995 silam akibat kecelakaan mobil. “Dia seharusnya bisa memberikan sesuatu yang baru buat blantika musik Indonesia,” kata Baron mantap.

Menilik serangkaian pengakuan dan pencapaian Andy Liany, maka sudah sepatutnya sebuah konser ditaja untuk mengenang penyanyi rock yang juga piawai menulis lagu ini. Bukan sekadar mengenang, namun untuk memberikan inspirasi bagi pemusik muda dari Tanjungpinang, tanah kelahiran Andy Liany.

Sosok serta lagu-lagu Andy Liany yang semula hanya melekat di benak pencinta musik 1990-an, meloncat ke benak anak-anak muda Tanjungpinang hari ini. Semula mereka yang nol besar tentang Andy Liany menjadi tahu dan lekas terinspirasi. Tidak ada batasan untuk berprestasi. Meski berasal dari kota kecil seperti Tanjungpinang. Hal ini memang menjadi tujuan sebenarnya di balik konser megah tribute to Andy Liany, Sabtu lalu.

“Kami ingin mencari dan memberikan ruang gerak kepada para generasi muda. Karena kita yakin dari Tanjungpinang ini, akan lahir Andi Liany yang baru,” ucap Kapten Rio, sang penggagas konser.

Lantas, bagaimana caranya menjadi seorang rockstar besar macam Andy Liany? Ojonk, sang adik yang juga vokalis Cordova, mengatakan, mendiang abangnya bernyanyi dengan ketulusan hati. “Karena filosopi hidupnya itu, ia menjadi rocker sejati,” kata Ojonk. Senada dengan apa yang Ezra katakan lewat video timeline yang sengaja direkam untuk konser ini.(fed/int)

 Menurut gitaris yang pernah mengenyam pendidikan musik di Amerika Serikat ini, Andy Liany tidak pernah berambisi menjadi penyanyi rock papan atas.

“Dia pokoknya bisa nyanyi, bisa manggung, udah happy bener,” kata Ezra, yang tak sempat menghadiri pemakaman karibnya itu. Selain itu, Ezra menambahkan, Andy adalah penyanyi besar yang tidak berkepala besar.

Suatu hari, Ezra mengaku terkejut ketika tahu Andy sedang duduk di halte menunggu bis kota. “Dia tetep nggak canggung naik angkutan umum. Padahal gue tahu banget, dia udah punya mobil,” kenang Ezra.

Hal semacam itu, kata Ezra, tidak pernah terjadi untuk penyanyi rock papan atas di Amerika. “Itulah yang membuat Andy menjadi penyanyi rock besar,” lanjut Ezra.

Sembilan belas tahun sudah ‘Sanggupkah Aku‘ dan ‘Antara Kita‘ tidak menghiasi ruang dengar pencinta musik rock Tanjungpinang. Dan Sabtu kemarin, lapangan Pamedan menjadi saksi bisu betapa seorang rocker besar pernah lahir dari negeri segantang lada ini. Kata Andy Liany, ‘Mungkinkah aku hidup tanpa ada dirimu’. Jawabannya, kata dia, ‘Hanya waktu yang bisa jawab semua itu’.(fed/int)

comments powered by Disqus