Selasa,20 Agustus 2019 | Ats-tsulatsa' 18 Zulhijjah 1440


Beranda » Folklor » Teka-teki

Teka-teki

Redaksi | Selasa, 21 Mei 2013 14:52 WIB

Teka-teki sama dengan "pertanyaan tradisional," yang dalam budaya Melayu bisa digolongkan juga ke dalam jenis pantun. Bedanya, teka-teki memiliki semacam pembayang-pembayang (disamarkan sedemikian rupa) yang bertujuan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan tertentu untuk ditebak jawabannya. Nah, jawabannya ini biasanya selain untuk menguji kecerdasan seseorang juga berupa jawaban-jawaban yang unik, menarik, dan mengundang tawa (kelakar).

Menurut Robert A. George dan Alan Dundes teka-teki adalah "ungkapan lisan tradisional yang mengandung satu atau lebih unsur pelukisan (descriptive), sepasang daripadanya dapat saling bertentangan dan jawabnya (referent) harus diterka," (George & Dundes, 1963:113). Menurut mereka, ada dua kategori umum yang dapat digolongkan, yakni : (1) teka-teki yang tidak bertentangan, dan (2) teka-teki yang bertentangan.

Teka-teki yang tidak bertentangan unsur-unsur pelukisannya bersifat harfiah, yakni seperti apa yang tertulis (literal), atau kiasan (metaphorikal). Teka-teki bertentangan berciri pertentangan antara (paling sedikit) sepasang unsur pelukisannya. Sedangkan menurut Archer Taylor di dalam bukunya yang berjudul English Riddles from Oral Tradition (1951), telah membedakan teka-teki dalam dua golongan umum, yakni : (1) teka-teki yang sesungguhnya (true riddle) dan (2) teka-teki yang tergolong bentuk lainnya (lihat Brunvand, 1968: 49-58). Perbedaannya terletak pada hubungan yang ada pada jawaban dengan pertanyaannya, sehingga dapat dipecahkan dengan logika. Hal itu berlaku pada teka-teki sesungguhnya, tetapi tidak berlaku pada teka-teki yang tergolong bentuk lainnya, karena pada golongan yang terakhir ini jawabnya tidak ada hubungan, sehingga tidak dapat diterangkan dengan mempergunakan logika saja, melainkan diperlukan pengetahuan tertentu (Brunvand, 1968:52).

Sementara itu, menurut Winstedt (1939:3), teka-teki digolongkan menjadi dua bagian, yaitu teka-teki bernilai sastra dan teka-teki tak bernilai sastra. Contoh teka-teki tak bernilai sastra misalnya, “tumbuhan apa yang mempunyai daun seperti pedang dan buahnya seperti gong?” jawabnya “nenas”. Sedangkan teka-teki yang bernilai sastra adalah yang seperti berjenis pantun. Contoh berikut:

Ikan selar dalam kuali,
Kuali diletak celah dapur;
Yang mengejar tidak berkaki,
Yang dikejar tiada berekor?

Tanam pisang sulung tahun,
Malam-malam tanak nasi;
Dalam batang ada daun,
Dalam daun ada isi?

Tarik pukat dari pangkalan,
Gula Melaka dibuat inti;
Bila diikat ia berjalan,
Bila dibuka ia berhenti?

Buah cermai di dalam dulang,
Tepung digaul minyak sapi;
Anak ramai ibunya seorang,
Bila bergesel berapi-rapi?

Mulut manis hati nak baik,
Itulah amalan turun temurun;
Benda apa yang akan naik,
Apabila saja hujan turun.




comments powered by Disqus