Selasa,20 Agustus 2019 | Ats-tsulatsa' 18 Zulhijjah 1440


Beranda » Artikel » Konflik Ideologis "Insan-insan Malang"

Konflik Ideologis "Insan-insan Malang"

Redaksi | Kamis, 21 Februari 2013 15:27 WIB

Lakon Insan-insan Malang karya Bambang Soelarto, kembali dipentaskan dalam rangka ujian Tugas Akhir (TA) mahasiswa jurusan Seni Teater & Film, Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR). Pementasan ini diselenggarakan di Gedung Olah Seni, Taman Budaya Pekanbaru, Minggu 17 Februari, 20.00 WIB. Bertindak selaku sutradara atau yang teruji adalah Rohasimah.

SAGANGONLINE - Lakon Insan-insan Malang karya Bambang Soelarto, kembali dipentaskan dalam rangka ujian Tugas Akhir (TA) mahasiswa jurusan Seni Teater & Film, Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR). Pementasan ini diselenggarakan di Gedung Olah Seni, Taman Budaya Pekanbaru, Minggu 17 Februari, 20.00 WIB. Bertindak selaku sutradara atau yang teruji adalah Rohasimah.

Lakon Insan-insan Malang ini syarat dengan persolan sosial-politik, sebagaimana kondisi latarbelakang sosial ketika naskah ini ditulis, yakni sekitar tahun 60-an. Di mana saat itu Indonesia mengalami perpecahan ideologis, terutama antar organisasi sosial dan partai politik. Dua ideologi yang ketat berlawanan saat itu adalah kapitalisme-Imperealis versus sosialisme-komunis. Pertentangan ideologi ini diwakili tokoh Pelamar I (Sulaiman) dan Pelamar II (Riki).

Begitu layar terbuka, diawali dengan adegan on-stage tokoh Bapak (Syarif) yang mengamati foto anaknya di atas lemari. Wati, nama anak kesayangannya itu, kini sedang dilamar oleh dua pemuda. Tak lama berselang terdengar ketukan pintu, tokoh Pemuda I berpenampilan perlente datang. Bapak menyambutnya dengan sangat ramah. Pemuda ini, seorang sarjana ekonomi jebolan perguruan tinggi Amerika. Punya kedudukan tinggi sebagai direktur sebuah perusahaan industri obat-obatan. Punya rumah gedung tingkat dua, punya dua mobil sedan. Dari status pemuda inilah kemudian yang menyebabkan munculnya konflik dengan Pelamar II.  

Setelah memperkenalkan diri dan mengutarakan maksud hati untuk melamar Wati, pemuda ini mohon diri untuk pergi. Sebelum pergi Bapak mengingatkan bahwa masih ada satu orang pemuda lagi yang datang untuk melamar. Bapak menegaskan bahwa Pemuda I baru berstatus sebagai calon menantu. Setelah pergi, Bapak memperlihatkan ketidaksenangannya, dia menilai pemuda itu adalah laki-laki yang sombong, telah membanggakan kedudukan dan harta kekayaannya.

Pemuda II, seorang pegawai tinggi, asisten ahli dalam bidang sosial-politik di kabinet. Pernah belajar ilmu politik di sebuah universitas di negara sosialis. Sangat tidak suka dengan Pemuda I yang menghinanya sebagai badut politik yang terus menerus mengibuli rakyat. Kerjanya cuma bermain komisi, makan suap, manipulasi, korupsi. Bikin inflasi, memproduksi slogan-slogan basi. Pemuda II datang juga dengan maksud melamar Wati, namun Bapak juga tampak kesal karena mencampurkan urusan keluarga dengan politik.

Melihat dari kedua pelamar ini, B. Soelarto tidaklah melihat persoalan ini dengan sederhana, semata dari permasalahan keluarga. Namun dapat dilihat persoalan besar dibalik itu semua. Persoalan politik dapat dilihat dari pertentangan ideologi besar yang diwakili oleh tokoh Pemuda I dengan Pemuda II yang memperebutkan Wati. Wati barangkali bisa dianalogikan sebagai bangsa Indonesia yang pada saat itu tengah berupaya meneguhkan identitas. Tapi kemudian Bapak tidak mau melepaskan anaknya begitu saja. Sebab ternyata, si Bapak memiliki problem psikologis tersendiri. Setelah kematian istrinya, satu-satunya teman hidupnya adalah anak perempuannya ini. Ia tak mau merasa kehilangan lagi, dengan membiarkan Wati dilamar dan pergi dari rumah.

Problem eksistensial ini, kemudian membuat Bapak merasa sepenuhnya harus memiliki Wati, terutama dengan cara mengekangnya. Pengekangan ini pun tentu menimbulkan persoalan lain terhadap diri Wati, yang tidak terima dengan perlakuan bapaknya ini. Hal ini tampak dalam surat yang dia tulis untuk tokoh Pemuda III (Ridwan), sebelum kemudian pada akhirnya, diketahui Wati meninggal di dalam kamar:

“…kukatakan dengan terus terang, bahwa tidak satupun dari mereka yang menjadi pilihan hatiku, Bapak setuju. Aku mohon memilih jodoh sendiri, Bapak menolak. Sejak itu timbul perasaan aneh dalam diriku, aku merasa berhadapan dengan hantu jahat. Bapak hendak menguasai hidupku, aku jadi benci kepadanya. Aku dikurung dalam kamar dan Bapak menghiburku dengan belaian sayang, tidak sebagai anak kandung sendiri, tetapi sebagai wanita. Aku benci, Mas. Aku tidak tahan, Mas. Selamatkanlah aku dari hantu jahat ini, Mas. Jika tidak, aku akan menyelamatkan diriku, dengan caraku sendiri, jika tak bisa bertahan lagi menghadapi si hantu…”

Bapak merasa terpukul dan merasa bersalah. Belum selesai surat dibaca, Bapak merampasnya dari tangan Pemuda. Emosi bapak bercampur aduk, karena merasa bersalah terhadap pelakuannya sendiri. Bapak kalut, dan masuk ke kamar. Di dalam kamar tercium bau kain terbakar. Bapak berupaya membunuh diri.

Dilihat dari keseluruhan pementasan, lakon realis ini digarap dengan konsep presentasi. Dari latar, tempat, waktu, setting panggung, rias dan kostum dibangun sesuai  dengan tuntutan naskah. Namun, sisi lemahnya adalah, sutradara tampak kurang detil menggarap panggung yang tampak sangat luas itu. Banyak ruang yang mestinya masih bisa diisi dengan beberapa perabotan, dibiarkan kosong. Belum lagi, permainan warna dasar setting yang seragam, hingga terkesan pucat dan monoton. Selain itu, para aktor—yang menurut Stanislavsky—berperan penting dalam sebuah proses produksi, “pemegang kendali tercapainya pesan yang ingin disampaikan oleh penulis naskah melalui konsep yang diciptakan oleh sutradara”, belum sepenuhnya dapat mengendalikan permainan di atas panggung realis.*** (Husin/MZ)  

comments powered by Disqus