Warning: include(hari.php) [function.include]: failed to open stream: No such file or directory in /home/sagangon/public_html/sagang.php on line 57

Warning: include(hari.php) [function.include]: failed to open stream: No such file or directory in /home/sagangon/public_html/sagang.php on line 57

Warning: include() [function.include]: Failed opening 'hari.php' for inclusion (include_path='.:/usr/lib/php:/usr/local/lib/php') in /home/sagangon/public_html/sagang.php on line 57
Kamis, 9 September 2010 WIB

  Tokoh

Bookmark (Ctrl+D)
     Bagikan

call our helpline

  Kolom Budaya Riau Pos Ahad

2010
Minggu
29
Agustus
Cerita Pendek
Oleh Gde Agung Lontar 

Tiba-tiba saja sebuah alamat yang asing masuk ke dalam kotak masuk surelku. tuhan@el-langit.com.
 
Apa pula ini?; pikirku. Apakah ada seseorang yang tengah iseng? Dini hari itu aku belum lagi mengantuk, karena itu komputer kuhidupkan dan berselancarlah aku ke dalam dunia maya internet. Beberapa situs segera kubuka secara bersamaan, dan tentu saja satu di antaranya adalah laman-laman lampu merah. Maklumlah, lagi pusing begini. Apalagi beberapa hari belakangan ini dunia maya sedang heboh sekali dengan video-video yang berisi adegan-adegan syur dari orang-orang yang katanya mirip tokoh selebriti. Dan aku hanyalah salah satu dari sekian puluh juta yang akhirnya ikut tergoda.

 

+ Lainnya...

April
Minggu, 29
 
Alexis Zorba, seorang tokoh dalam novel karya sastrawan Yunani Nikos Kazantzakis berjudul Zorba The Greek terbitan tahun 1946 yang dibuat film tahun 1964 berkata tentang sinematografi seperti ini, ‘’Di dalam kepala manusia ada semacam bioskop bersuara.’’ Imajinasi atau film dalam kepala manusia itu selalu diputar ulang demi kesegaran yang senantiasa minta diulang. Dengan demikian orang dapat menandai secara jelas hubungan antara film dan sas­tra. Rangkaian benang penghubung di antara kedua sosok seni itu ialah cerita.
 
Agama Merdeka
Minggu, 22
 

Merdeka, hasil sulingan dari peristiwa bertemu dan mengelak. Pertemuan atau perjumpaan saban waktu memutikkan jemu. Dan kejemuan itu membangun dengki, khianat, menindas, dan ujungnya, melawan. Sepanjang pertemuan itulah pribumi membangun selaan dalam modus ‘tabiat mengelak’. Sebab, sepanjang ‘pertemuan’ atau ‘perjumpaan’ itu, para pribumi tak mempunyai akses menatap matahari. Alias tiada asa. Inilah kisah pertemuan dengan makhluk barat yang datang ke kepulauan Melayu sebagai peniaga rempah-rempah. Perjumpaan ini yang diperluas menjadi penjajahan.

 
Ari
Minggu, 22
 

Seorang yang sudah mapan selalu memandang dan mengatakan tentang para pendatang baru di bidangnya yang biasanya tentu saja lebih muda atau jauh lebih muda usianya dari dirinya dengan ungkapan yang bermuatan pejoratif. Seorang seniman mapan sering mengungkapkan tentang mereka yang baru datang itu sebagai seniman muda yang makna muda-nya bukan ditekankan pada usia saja, tapi lebih-lebih pada karya yang konon belum kokoh. Rampai sekali ini akan melihat peristiwa tersebut dengan sudut-pandang yang paling dekat dengan kebenaran karena karya seni sejati tak ada hubungannya dengan usia kreatornya. Usia hanyalah angka-angka.

 

Index Kolom Budaya

  Beranda

2010
Minggu
29
Agustus
Cerita Pendek
Oleh Gde Agung Lontar 

Tiba-tiba saja sebuah alamat yang asing masuk ke dalam kotak masuk surelku. tuhan@el-langit.com.
 
Apa pula ini?; pikirku. Apakah ada seseorang yang tengah iseng? Dini hari itu aku belum lagi mengantuk, karena itu komputer kuhidupkan dan berselancarlah aku ke dalam dunia maya internet. Beberapa situs segera kubuka secara bersamaan, dan tentu saja satu di antaranya adalah laman-laman lampu merah. Maklumlah, lagi pusing begini. Apalagi beberapa hari belakangan ini dunia maya sedang heboh sekali dengan video-video yang berisi adegan-adegan syur dari orang-orang yang katanya mirip tokoh selebriti. Dan aku hanyalah salah satu dari sekian puluh juta yang akhirnya ikut tergoda.

 

+ Lainnya...

Estetika Tubuh dan Teater Eksperimental
Minggu, 22 Agustus 2
 
Oleh Marhalim Zaini 

EKSPOSISI tubuh manusia sebagai refleksi filosofis dari ruang-ruang pergulatan estetis, terkhusus dalam dunia seni teater, telah mencuat demikian mencolok pada beberapa dekade akhir abad ke-20. Sebagaimana yang terjadi dalam lingkungan visual keseharian kita, di mana tubuh hadir dalam citraan-citraannya yang kompleks baik dalam posisinya sebagai kebutuhan primer maupun dalam kerangka konsepsi filosofis demikianlah pula teater telah “mencincang” tubuh menjadi racikan”daging-daging” estetis yang beragam bentuk dan warna.
 
Fenomena penelanjangan tubuh manusia misalnya, sebagai sebuah ungkapan perlawanan terhadap keyakinan modernisme, terutama pada logika liniernya tentang disiplin tubuh, telah menunjukkan betapa teater modern kita telah begitu mengeksplorasi sosok tubuh, baik dalam konteks tubuh fisik yang menjelajahi tema-tema sosiologis-antropologis, maupun penggalian makna tubuh dalam kerangka filosofis-teologis, dalam hubungannya dengan dunia psikis. Keyakinan terhadap tubuh manusia sebagai proyek dalam mambangun sebuah peristiwa di atas panggung teater, telah melahirkan obsesi untuk memproduksi tubuh dalam metafora-metafora artsitik yang mendobrak batas-batas.

 
Marja dan Manjali: Terbebani Sejarah
Minggu, 22 Agustus 2
 
Oleh Hari B Koriun 

LUKA politik masa lalu yang berhubungan dengan pemberontakan komunis yang gagal (G 30 S PKI), masih menjadi tema favorit bagi sebagian pengarang Indonesia di masa kini. Bukan hanya oleh mereka yang pernah mengalaminya, tetapi juga oleh generasi terbaru yang tak pernah mengalaminya secara langsung, dan hanya mendapatkan cerita dari buku sejarah maupun dari orang tua mereka.
 
Dengan sudut pandang yang agak berbeda, Ayu Utami menulis Manjali dan Cakrabirawa (MdC, Kepustakaan Populer Gramedia [KPG], Juni, 2010) sebagai lanjutan dari Bilangan Fu (BF, KPG, Juni 2008). Dalam novel setebal 252 halaman tersebut, Ayu menyebutnya sebagai novel “spiritualisme kritis”, yang juga ditulis di sampul belakang Bilangan Fu. Dibanding dua novel yang ditulisnya sebelum kedua novel ini, yakni Saman (KPG, April 1998) dan Larung (KPG, November 2001), MdC dan BF terasa lebih cair, baik dari sisi cerita maupun penceritaannya. Bahkan, jika tidak dijejali dengan banyak data sejarah dan njilmetnya dunia arkeologi, kedua novel tersebut seperti novel populer kebanyakan dengan cerita cinta segitiga ala anak remaja.

 
Riau Bisa Jadi Pusat Ekonomi dan Budaya
Selasa, 10 Agustus 2
 
 

PEKANBARU (RP)- Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri) yakin Pemerintah Provinsi Riau pada tahun 2020 nanti mampu mewujudkan Negeri Lancang Kuning sebagai pusat perekonomian dan kebudayaan Melayu di Asia Tenggara. Ini bisa terwujud asal bekerja keras dan ada komitmen tinggi dari seluruh pemangku kepentingan.

Hal tersebut disampaikan Mendagri Gamawan Fauzi dalam sambutannya yang dibacakan Kapusdatin Komtel Kemendagri, Budi Arianto dalam video conference di Kantor Kemendagri, Senin (9/8) dengan Gubernur Riau HM Rusli Zainal yang mengikuti rapat paripurna Istimewa di Gedung DPRD Riau, menyambut Hari Ulang Tahun Provinsi Riau ke-53, Senin (9/8).

 

Index Berita

1 User Online