Minggu,17 Desember 2017 | Al-Ahad 28 Rabiul Awal 1439

PUSTAKA

Dari Seberang Perbatasan

Pandangan mata Hamdan yang terus menatap saya menyebabkan tiba-tiba ada rasa gerun menyusuo ke dalam hati. “orang yang khatam mempelajari spiritualisme bila dilihat sekali imbas seperti manusia cacat: tak lagi memiliki rasa benci, marah dan cemburu. Kau boleh saja memeluk Mariani tapi tak dia tak akan pernah menerima kau dengan hatinya.” Tidak hanya cerpen Dari Seberang Perbatasan karya Hasan Junus, tapi banyak lagi cerpen karya para cerpenis Riau seperti Tebing karya Berry Budiman Alqodri, Kelebak Sejarah karya Jefri Al

Sekeping Ubi Goreng

Sepanjang 2012 dari Januari hingga Oktober, cukup banyak penyair yang mengirimkan sajak-sajak mereka ke halaman budaya Riau Pos, ditujukan  ke Kompartement Ranggi yang terbit setiap Ahad. Dalam buku Sekeping Ubi Goreng, Sajak Pilihan Sagang Riau Pos 2012 ini, yayasan sagang memilih 23 penyair dengan 84 karyanya. Di dalam buku Sekeping Ubi Goreng ini, judul diambil dari salah satu penggal sajak karya sastra Riau Taufik Ikram Jamil berjudul Pujangga Hasan Junus. Sajak yang dimuat pada 1 April 2012. Selain

Sebuah Legenda Sastra

Sebuah Legenda Sastra (Tinta Terakhir Hasan Junus) diambil sebagai judul dalam kumpulan esai pilihan Riau Pos 2012. Pemilihan judul tentu saja tanpa alasan yang kuat, pemilihan judul terkait dengan sastrawan Riau yang berpulang pada 30 Maret 2012. Salah satu tulisan Hasan Junus di “Rampai” yang rutin menghampiri pembaca setiap Ahad di Riau Pos, seakan memberikan isyarat akan bertemu dengan sang khaliq. Dalam sebuah rampainya, Hasan Junus menulis tentang “Sajak-sajak Epitaf”, yakni sajak-sajak yang ditulis di batu nisan. Puisi bertema Efitaf

Kumpulan Karya Jurnalistik Rida Award 2012

Pembukaan perkebunan yang merajalela satu darsawasa terakhir di Dharmasraya, telah merusak ekosistem hutan, sehingga sangat sulit bagi orang Rimba untuk mendapatkan makanan. Bagi orang rimba, hutan alami adalah “nyawa” mereka. “Mereka berada dalam kondisi memprihatinkan. Status mereka tidak diakui. Mereka tak punya hak seperti yang dinikmati masyarakat luas,” kata Pandong Spenra. Jika orang Rimba terus digusur, ada nilai berharga akan hilang. Aspek social dan budaya mereka yang kaya, lambat- laut terkikis seiring hilangnya hutan tempat mereka berlindung. Hutan ditukar dengan kebun

Peta dan Arah Sastra

BAHASA adalah rumah, tanah air para penyair. Di sinilah dia lahir dan dibesarkan. Di sinilah dia tumbuh dan berkembang. Dari sinilah kemudian dia mengembara untuk memberi makna kehidupannya, sebelum pada akhirnya pulang kembali ke rumah keabadiannya. Bahasa adalah jati diri penyair. Karenanya, penyair yang kehilangan bahasanya, akan kehilangan segalanya. Kehilangan jati diri. “Yang tak berumah takkan menegakkan tiang,” begitu kata salah satu bait puisi penyair Rainer Maria Rielke “Di Batu Penghabisan ke Huesca” yang diterjemahkan Goenawan Mohammad, salah satu penyair

Riwayat Tanah

Ada 19 penyair yang karyanya masuk dalam antalogi ini. Ada beberapa nama yang secara usia maupun proses berkarya sudah dianggap senior. Mereka antara lain Rida K Liamsi, Taufik Effendi Aria, Isbedi Stiawan ZS, Raudal Tanjung Banua, Marhalim Zaini, atau Yoserizal Zen. Di barisan kedua ada nama Sobirin Zaini, Benny Arnas, Jefry al Malay, Riki Utomi, Alvi Puspita, Arif Rizky, Esha Tegar Putra, Budy Utamy, Cahaya Buah Hati. Sedangkan nama-nama yang masih asing bagi kita ada Guri Ridola, Said Mustafa Husin,

Dongeng tentang Seorang Nenek di Bulan

Buku ini adalah kumpulan cerpen yang berisikan dongeng tentang seorang nenek yang berjalan terbungkuk-bungkuk dengan tongkatnya seolah mencari jarum yang hilang di dataran yang sangat luas dan kemudian tergambar di permukaan bulan. Bertahun-tahun, berbulan-bulan, dia melakukan hal yang sama, membungkuk dengan memegang tongkat dari potongan kayu sepanjang sedepan lebih dari tinggi tubuhnya. Tetapi bagaimana mengukur tinggi tubuhnya. Tetapi bagaimana mengukur tingginya kalau selamanya dia terbungkuk sebab punggungnya tidak dapat diluruskan kembali, sudah telanjur terkutuk demikian. Mungkin usianya sudah lebih dari

Nyanyian Panjang Balam Ponganjuw

HERMAN MASKAR, lahir di Kuala Terusan, Kabupaten Pelalawan tanggal 21 November 1960. menamatkan pendidikan sekolah dasar di Kuala Terusan, sedangkan pendidikan sekolah menengah tingkat pertama dan atas diselesaikannya di Pekanbaru. Tahun 1984-2011 mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil Direktorat Jenderal Kebudayaan, Taman Budaya Provinsi Riau. Masa-masa menjadi pegawai negeri sipil, menyelesaikan pendidikan stara 1 FKIP universitas Islam Riau dan menyelesaikan program Master Administrasi Bisnis pada Universitas Riau Pekanbaru. Mengasah bakat seni dalam dirinya, tahun 1984 bergabung dengan Sanggar Teater Republik, tahun 1995

Kami Laskar Pendayung dari Melebung

Buku ini adalah kumpulan karya jurnalistik Rida Award 2011. Selain Kami Laskar Pendayung dari Melebung oleh Saidul tombang masih ada sembilan karya jurnalistik lainnya seperti Menengok Kampung ’pendaratan’ Suku Laut Sepuluh dri Tiga Belas Anak Jamal Lahir di Perahu oleh Ahmad Sultan, Cewek-cewek pangilan di Penjara Tanjung Gusta oleh Ahmad Faisa, Orang-orang Albino di Nagari Singgalang ”Cukup Kami yang Menikmati Takdir Ini” oleh Sanny Yohana dan lain-lainnya. Selain karya jurnalistik juga terdapat Foto-foto Rida Award 2011 dan Dahlan Iskan Award

Krisis Sastra Riau

Buku krisis Sastra Riau ini merupakan esai pilihan sagang Riau Pos 2007. Buku ini menceritakan  Problematika Sastra Riau, di dalamnya terdapat lima bagian. Bagian pertama adalah Problematika Sastra, bagian kedua Krisis Kritik Sastra Riau, Bagian ketiga Mencari Celah di Jalan Buntu, bagian keempat Belajar dari Keteladanan, bagian kelima Membaca Karya, Memahami Makna.Pada bagian pertama diantaranya terdapat Krisis Sastra, Ellyzan Katan (Anarkisme Budaya), Hary B Kori’un (Masih Pentingkah Lembaga Kesenian bagi Pelaku Seni), Arman Rambah (Impian Kemarau), Musa ismail (Mengalami Sastra

Orgasmaya Kumpulan Sajak Hasan Aspahani

Buku ini merupakan kumpulan sajak Hasan Aspahani. Sajak-sajaknya pernah dimuat di Kompas, koran Tempo, Media Indonesia, Seputar Indonesia, Pikiran Rakyat, Majalah Gong, Majalah Imajio, Jawa Pos, Batam Pos, Lantang, dan di situs Cybersastra. Cysbersastra memberinya penghargaan sebagai penyair terbaik 2000-2005. Dalam buku ini ada tiga kategori judul sajak, kategori pertama berjudul “Bibirku Bersujud di Bibirmu” di dalam judul pertama terdapat 32 sajak diantaranya, Orgasmaya, Sepasang Kartu Pos, Malaikat Pencopet Nyawa, Kisah Kota Penjara, Kisah Kita Hujan dan lain-lain. kategori kedua berjudul

Tamsil Syair Api

Buku Tamsil Syair Api ini merupakan kumpulan dari sajak-sajak para penyair yang di muat selama setahun di rubrik Budaya Harian Riau Pos (Oktober 2007-September 2008). Penulis sajak buku ini ada yang sudah tunak makan asam garam dunia kepenulisan, karyanya sudah tersebar di berbagai media dan sudah memiliki buku kumpulan tunggal hingga penyair pemula. Mulai dari Fakhrunas MA Jabbar, Marhalim Zaini, Mila Duchlun, M Badri, Sobirin Zaini, Isbedy Stiawan ZS, Pandapotan MT Siallangan, Dian Hartati, Jefy al Malay, Murparsaulian, Ramon Damora,

Perjalanan Spiritual Rida K Liamsi

Kumpulan sajak ini berjudul Perjalanan Kelekatu karya Rida K Liamsi, sastrawan dan budayawan kebanggaan Riau. Judul itu diambil dari dua buah sajak yang ada di dalam kumpulan karya tersebut. Namun ternyata bukan dua sajak “Perjalanan” dan “Kelakatu” yang terbaik dalam kumpulan ini. Dua sajak itu memang dipakai Rida K untuk melangkah seluruh isi kumpulan sajaknya yang merupakan sebuah perjalanan fisik dan spiritual. Sajak yang paling baik lantaran paling lengkap gagasannya, paling lengkap unsur-unsurnya bahasa manjasinya, paling lengkap unsur musiknya, kilatan

Ziarah Angin Kumpulan Sajak

Ziarah Angin merupakan kumpulan Sajak Pilihan Riau Pos 2009. Terdapat beberapa sajak,  diantaranya UUD Republik Korupsi, Proklakorupsi, Riauku Risau karya Eddy Akhmad RM. Selain Eddy Akhmad RM ada beberapa penyair seperti: Alvi Puspita, Cahaya Buah Hati, Chaidir, Esha Tegar Putra, Jefri Almalay, Mutia Sukma, Yoserizal Zen, Hang Kafrawi, Hasan Aspahani, Margaretha Charisna Sari, M badri, Musa Ismail, Mutia Sukma, Riki utomi, Sobirin Zaini, Susi Susanti, Zurnila Emhar Ch.

Ya Allah, Nak, Kami Lapar

Buku ini merupakan kumpulan karya Jurnalistik Rida Award 2010.  terdapat 12 tulisan. Salah satu judul karya Jurnalistik yang terpilih adalah “Ya Allah, Nak, Kami Lapar”. Karya ini ditulis oleh Afni Zulkifli (Pekanbaru Pos). Bercerita tentang Provinsi Sumatera Barat sehari usai dihantam gempa dahsyat berkekuatan 7,6 skala Richter. Selainitu ada juga karya jurnalistik lainnya yakni Nuke Fatmasari (Riau Pos) Mereka Berpura-pura Demi Segenggam Recehan, Abdul Hamid (Batam Pos) Menggali Kubur Untuk Anak Cucu, Arnes dan Irwan Nasution (Posmetro Medan) Gadis Desa

Sastra yang Gundah

Buku ini merupakan kumpulan Esai Riau Pos 2009. Menurut Editor Hary B Kori’un buku ini merekam gelombang pasang dan surut perjalanan kesenian sastra Riau yang ditulis dari berbagai prespektif dan pandangan. Baik yang ditulis dengan nada skeptis, pesimis, gundah-gulana dan satir. Meski demikian ada sikap optimis akan masa depan yang lebih baik dari setiap wacana dan pandangan yang ditulis. Buku ini memuat enam bab yakni (1) Kultur dan arah sastra Indonesia, (2) Sastra Riau: Sebuah Polemik (?), (3) Dari Bulang Cahaya hingga Bulu

Pipa Air Mata

Buku ini merupakan kumpulan cerpen pilihan Riau Pos 2008. Di dalamnya terdapat 15 cerita pendek. Cerita utama yang diangkat adalah “Pipa Air Mata”.  Ia menceritakan tentang hutan yang diambil oleh orang asing dan dijadikan tempat pengeboran minyak dan isi hutan dijadikan kayu lapis dan kertas. Cerita ini karya M Badri, selain Pipa Air Mata terdapat juga cerpen Kurir Peluru Karya Dedy Arsya, Pil-Kadal karya Eddy Akhmad RM, Kiamat Kecil di Sempadan Pulau Karya Fakhrunnas MA Jabbar dan lain-lain.

Keranda Jenazah Ayah

Buku ini merupakan kumpulan cerpen yang terpilih oleh yayasan sagang pada tahun 2007. Terdapat 24 ceritak pendek, cerita utamanya  “Keranda Jenazah Ayah” karya Olyrinson. Cerpen ini menceritakan tentang rakyat kecil yang bodoh dan diperbodohi  oleh penguasa. Dan hanya menjadikan mereka sebagai tunggul kayu yang tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa menyerah untuk menunggu ajal menjemput.

Kolase Hujan

Buku Kolase Hujan merupakan kumpulan cerpen pilihan Riau Pos 2009. Dalam buku ini terdapat 24 cerpen pilihan yang ditulis oleh penulis yang ada di Riau seperti, Budy Utami (Perempuan Penenun Hujan), Dian Hartati (Perempuan Kupu-kupu), Ellyzan katan (Ular), Endah Sulwesi (Kelana), Fariz Ikhsan Putra (In Compto), Fedli Aziz (Suku Pompong), Hang Kafrawi (Man Tampak dan Mempelam Petir), Hary B Kori’un (Hujan Bulan Juli), Jefri Al Malay (Pulau Asap), Marhalim Zaini (Percakapan-percakapan yang tak Selesai), M Badri (Menekin dari Seberang), Musa

Berbusana Melayu Penuh Makna

Buku ini bercerita tentang bagaimana berbusana melayu penuh makna khususnya bagi remaja yang dikaji berdasarkan penelitian penulisnya. Selain itu buku ini juga mengupas tentang melayu secara umum, mulai dari pengertian melayu, orang melayu, perkembangan melayu, aturan berbusana melayu, dan stategi membudayakan berbusana melayu.