Kamis, 9 September 2010 WIB
Harian Riau Pos
Bubu Award V.6
Rida K Limasi

Berita Terbaru

Estetika Tubuh dan Teater Eksperimental
Minggu, 22 Agustus 2010
 
 

EKSPOSISI tubuh manusia sebagai refleksi filosofis dari ruang-ruang pergulatan estetis, terkhusus dalam dunia seni teater, telah mencuat demikian mencolok pada beberapa dekade akhir abad ke-20. Sebagaimana yang terjadi dalam lingkungan visual keseharian kita, di mana tubuh hadir dalam citraan-citraannya yang kompleks baik dalam posisinya sebagai kebutuhan primer maupun dalam kerangka konsepsi filosofis demikianlah pula teater telah “mencincang” tubuh menjadi racikan”daging-daging” estetis yang beragam bentuk dan warna.
 
Fenomena penelanjangan tubuh manusia misalnya, sebagai sebuah ungkapan perlawanan terhadap keyakinan modernisme, terutama pada logika liniernya tentang disiplin tubuh, telah menunjukkan betapa teater modern kita telah begitu mengeksplorasi sosok tubuh, baik dalam konteks tubuh fisik yang menjelajahi tema-tema sosiologis-antropologis, maupun penggalian makna tubuh dalam kerangka filosofis-teologis, dalam hubungannya dengan dunia psikis. Keyakinan terhadap tubuh manusia sebagai proyek dalam mambangun sebuah peristiwa di atas panggung teater, telah melahirkan obsesi untuk memproduksi tubuh dalam metafora-metafora artsitik yang mendobrak batas-batas.

 
Marja dan Manjali: Terbebani Sejarah
Minggu, 22 Agustus 2010
 
 

LUKA politik masa lalu yang berhubungan dengan pemberontakan komunis yang gagal (G 30 S PKI), masih menjadi tema favorit bagi sebagian pengarang Indonesia di masa kini. Bukan hanya oleh mereka yang pernah mengalaminya, tetapi juga oleh generasi terbaru yang tak pernah mengalaminya secara langsung, dan hanya mendapatkan cerita dari buku sejarah maupun dari orang tua mereka.
 
Dengan sudut pandang yang agak berbeda, Ayu Utami menulis Manjali dan Cakrabirawa (MdC, Kepustakaan Populer Gramedia [KPG], Juni, 2010) sebagai lanjutan dari Bilangan Fu (BF, KPG, Juni 2008). Dalam novel setebal 252 halaman tersebut, Ayu menyebutnya sebagai novel “spiritualisme kritis”, yang juga ditulis di sampul belakang Bilangan Fu. Dibanding dua novel yang ditulisnya sebelum kedua novel ini, yakni Saman (KPG, April 1998) dan Larung (KPG, November 2001), MdC dan BF terasa lebih cair, baik dari sisi cerita maupun penceritaannya. Bahkan, jika tidak dijejali dengan banyak data sejarah dan njilmetnya dunia arkeologi, kedua novel tersebut seperti novel populer kebanyakan dengan cerita cinta segitiga ala anak remaja.

 
Riau Bisa Jadi Pusat Ekonomi dan Budaya
Selasa, 10 Agustus 2010
 
 

PEKANBARU (RP)- Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri) yakin Pemerintah Provinsi Riau pada tahun 2020 nanti mampu mewujudkan Negeri Lancang Kuning sebagai pusat perekonomian dan kebudayaan Melayu di Asia Tenggara. Ini bisa terwujud asal bekerja keras dan ada komitmen tinggi dari seluruh pemangku kepentingan.

Hal tersebut disampaikan Mendagri Gamawan Fauzi dalam sambutannya yang dibacakan Kapusdatin Komtel Kemendagri, Budi Arianto dalam video conference di Kantor Kemendagri, Senin (9/8) dengan Gubernur Riau HM Rusli Zainal yang mengikuti rapat paripurna Istimewa di Gedung DPRD Riau, menyambut Hari Ulang Tahun Provinsi Riau ke-53, Senin (9/8).

 
Semenanjung Pentaskan “Keris Menjadi Saksi”
Selasa, 3 Agustus 2010
 
 

PEKANBARU - Pusat Latihan Seni Semenanjung asal Riau segera mementaskan karya perdananya, Ahad (8/8) pukul 19.30 WIB di Gedung Kesenian Miss Tjitjih Cempaka Putih Jakarta Pusat. Pementasan bertajuk, “Keris Menjadi Saksi” itu disutradarai seniman asal Riau yang berdomisili di Jakarta Asrizal Nur. Naskah Temul Amsal tersebut diangkat dari cerita rakyat Pelalawan yang juga berasal dari Pelalawan, Riau.

 
3.000-an Warga Ramaikan Pawai Pembukaan Pacu Jalur
Jumat, 30 Juli 2010
 
 
TELUK KUANTAN (RP)- Dentuman suara meriam, ayunan dayung tangan-tangan kekar si anak pacu, dan gemercik air Batang Kuantan, serta lautan manusia di sepanjang tebing Tepian Narosa, menjadi tanda helat akbar iven nasional Pacu Jalur Kuantan Singingi 2010 telah dimulai.
Pembukaan pacu jalur itu seakan tak mengabaikan apapun yang terjadi pada perekonomian. Harga cabai, kebutuhan bahan pokok lainnya, serta Tarif Dasar Listrik (TDL) boleh saja naik, tapi kemeriahan iven pacu jalur yang baru dibuka Kamis (29/7) dan berlangsung hingga 1 Agustus mendatang tak berkurang kemeriahannya. Bahkan pada saat pawai budaya pembukaannya saja, tak kurang dari 3.000-an orang meramaikannya. Belum termasuk tamu undangan dan para penonton yang memadati lapangan Limuno, tempat iven wisata nasional ini dibuka.
 

Berita Populer

Nasib Guru dalam ”Kerbau-Kerbau” Karya Abel Tasman
Minggu, 18 April 2010
 
 

Lama sudah kita tidak bisa menikmati karya-karya terbaru Abel Tasman. Padahal dahulu ia seorang penulis produktif dan menjuarai beberapa perlombaan penulisan. Bahkan beberapa karya Abel Tasman telah diterbitkan di surat kabar nasional.

 
Berziarah ke Taman Para Penulis
Minggu, 6 Desember 2009
 
 Dari Workshop Arab Melayu dan Filologi Budpar Riau

Pada mulanya, Pulau Penyengat Indra Sakti merupakan mas kawin atau mahar Sultan Mahmud Syah (Raja Riau-Lingga) kepada permaisurinya Engku Putri atau Raja Hamidah sekitar 1801-1802. Di pulau bersejarah yang dikenal dengan taman para penulis/taman para intelektual inilah pula pengarang Gurindam Dua Belas Raja Ali Haji melahirkan karya-karyanya.

PULAU Penyengat atau Taman Para Penulis ini terletak di sebelah barat Kota Tanjungpinang-Kepulauan Riau (Kepri). Jaraknya, lebih kurang 1,50 Km dari Kota Tanjungpinang atau bisa ditempuh dengan menggunakan jasa pompong selama 20 menit saja. Luasnya hanya berkisar 3,50 Km dengan wilayah berbukit-bukit. Di zaman pemerintah Sultan Mahmud Syah (1761-1812 M), pulau itu dijadikan sebagai mahar untuk meminang Engku Putri binti Raja Haji Syahid Fisabilillah (1801 M).
 
Pemertahanan Bahasa Melayu Riau
Minggu, 21 Februari 2010
 
 

KEPUNAHAN bahasa akhir-akhir ini semakin mencemaskan banyak pihak. Bahasa yang punah itu umumnya adalah bahasa ibu kaum minoritas. Oleh sebab itu, sejak tahun 1991 UNESCO menetapkan Hari Bahasa Ibu Sedunia yang diperingati setiap tanggal 21 Februari.

Peringatan itu dimaksudkan untuk senantiasa menyadarkan kita akan pentingnya mempertahankan bahasa ibu dan mengupayakan terhindarnya kepunahan yang, jika tidak dicegah, cenderung kian laju prosesnya. Tulisan Andrew Dalby, Language in Danger (2003) menyebutkan bahwa setiap dua minggu dunia kehilangan satu bahasa. Separuh dari 5.000 bahasa di dunia saat ini akan lenyap dalam satu abad ke depan. Dia mengingatkan bahwa kepunahan bahasa berarti hilangnya khazanah ungkapan yang mencerminkan cara pandang penuturnya terhadap dunia. Beralihnya penggunaan bahasa minoritas ke beberapa bahasa dominan dapat mengubah penafsiran terhadap dunia. Keprihatinan itu sudah menjadi perhatian dunia.

 
Riau Rhythm Chambers Bawa Melayu Keluar Angkasa *D
Senin, 13 Juli 2009
 
 
Riau Rhythm Chambers telah menunaikan azam untuk menggelar konser di tanah kelahirannya Kota Bertuah Pekanbaru, Riau. Konser perdananya tersebut cukup menggiurkan dengan tema Starlight of Planet Zapin in Concert. Konser yang mengambil setting luar angkasa tersebut seakan membawa Melayu membumbung ke langit tempat segala ketenangan jiwa tercipta.

?Kota Bertuah negeri Melayu, Elok Melayu memakai adat, Sudah termasyur sejak dahulu, Budaya digelar tuk beradat.? Liriknya saja menegaskan bahwa anak-anak muda yang tergabung dalam grup musik yang lebih populer di luar negeri itu, mencintai tradisi ibunya, yakni budaya Melayu. Apalagi, Riau Rhythm Chambers Indonesia mengusung visi untuk mengkombain musik tradisi dengan dengan musik modern.
 
Fungsi Sosial Karya Sastra
Minggu, 16 Mai 2010
 
 

Realitas sosial yang kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan orang kebanyakan orang.
 
Ketidaksesuaian realitas dengan harapan cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan rasa ketidakpuasan itu mendorong orang untuk melakukan tindakan yang bersifat kontra terhadap realitas, misalnya dengan melakukan demonstasi kepada para pemimpin, penguasa, pejabat, anggota dewan, dan manajemen perusahaan. Bahkan ada teori yang menyatakan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa cenderung menyimpang dari ketentuan yang berlaku akibat syahwat kekuasaan sering sulit untuk dikendalikan.

 

Berita Lainnya

Buruk Muka Statistik Dibelah
Selasa, 6 Juli 2010
 
 

MENGEMBARA di negeri asing selama 40 tahun, tak mengurangi kecintaan Asahan Alham kepada Indonesia. Walaupun adik kandung DN Aidit, gembong utama mantan PKI itu telah menetap di Belanda sejak 1983, dan menjadi warga negara ‘’negeri tulip” sana, ia masih sempat mengoleksi hampir 5.000 peribahasa Nusantara. Memang, bukan pekerjaan setahun dua tahun.

 
Sumber Berharga Membangun Cerita Bernuansa Lokalitas
Selasa, 6 Juli 2010
 
 Etnosentrisme dalam Sastra Riau

Etnosentrisme mengandung pengertian paham memandang budaya orang lain dengan ukuran budaya sendiri. Dalam kajian antropologi sering pemaknaan etnosentrisme bertendensi negatif yang sering dijadikan sumber permasalahan dalam proses hidup berkelompok. Lebih jauh muncul kefanatikan terhadap kelompok yang kita ikuti. Memandang kelompok lain dengan ukuran dan persepsi ukuran kita.

 
”Tuntut Merdeka”, ”Dewan Kemaruk”, dan ”Telatah Wak Atan”
Rabu, 16 Juni 2010
 
 Ketika Suman Hs Modern ”Menjentik dan Menggelitik”

/1/

Dalam peta perjalanan sastra Riau, Mosthamir Thalib duduk di kursi tersendiri sebagai sastrawan, pekerja seni, sekaligus wartawan. Menurut saya, penerima Anugerah Adinegoro 1998 dari PWI Pusat ini memiliki karakter tersendiri dalam menghidangkan karya-karya imajinatifnya kepada pembaca. Beliau mempunyai talenta kejeniusan linguistik yang sangat lokal. Dengan ke-Melayu-annya dalam karya kreatif, suami Dewi Kamar ini mampu menyampaikan tumpukan gagasan dan diterima di berbagai kalangan.  


 
”Mengularkan” Kebudayaan
Jumat, 28 Mai 2010
 
 

SECARA etimologi, kebudayaan adalah hasil kegiatan penciptaan batin (akal budi) manusia, seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat. Kebudayaan juga diartikan sebagai keseluruhan pengetahuan manusia selaku makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya yang menjadi pedoman tingkah lakunya.

 
Akulturasi Teater Bangsawan
Senin, 3 Mai 2010
 
 

Keterbukaan suatu komunitas masyarakat akan mengakibatkan kebudayaan yang mereka miliki akan terpengaruh dengan kebudayaan komunitas masyarakat lain. Selain keterbukaan masyarakatnya, perubahan kebudayaan yang disebabkan “perkawinan“ dua kebudayaan bisa juga terjadi akibat adanya pemaksaan dari masyarakat asing memasukkan unsur kebudayaan mereka. Tentulah hal ini terjadi masyarakat asing tersebut mengusai atau menjajah masyarakat tempatan. Proses perubahan kebudayaan yang kedua biasanya akan mendapat perlawanan dari masyarakat tempatan, tetapi bagaimanapun juga lambat-laun perubahan kebudayaan akan terjadi.

 




  BerandaEssei

2010
Selasa
6
Juli
490
Oleh Bersihar Lubis 

MENGEMBARA di negeri asing selama 40 tahun, tak mengurangi kecintaan Asahan Alham kepada Indonesia. Walaupun adik kandung DN Aidit, gembong utama mantan PKI itu telah menetap di Belanda sejak 1983, dan menjadi warga negara ‘’negeri tulip” sana, ia masih sempat mengoleksi hampir 5.000 peribahasa Nusantara. Memang, bukan pekerjaan setahun dua tahun.

Asahan mengumpulkannya semenjak ia berada di Vietnam pada 1966 silam, dan khasanah bahasa Indonesia itu pulalah yang mengantarkannya meraih gelar PhD dari Universitas Negara Hanoi dengan sebuah disertasi yang ditulisnya dalam bahasa Vietnam dan berjudul ‘’Beberapa Masalah Di Sekitar Peribahasa dan Perumpamaan Nusantara” pada 1978 lalu dengan predikat cum laude.


Suatu kali, semasih di Vietnam, Asahan menyerahkan bundelan koleksi itu kepada Profesor Vu Ngoc Phan, seorang pakar bahasa Vietnam di situ. Hati Asahan berbunga-bunga. Rupanya setelah membaca bundelan itu, Phan telah memuji bangsa Indonesia sebagai masyarakat yang sangat menghargai dan memuja kebijaksanaan berpikir. Betapapun Asahan adalah seorang Indonesia yang lahir di Tanjung Pandan, Pulau Bangka Belitung, 4 Desember 1938. Sebelum ke Vietnam, ia bersekolah di SMA Taman Siswa Jakarta, dan melanjutkannya ke Fakultas Sastra Jurusan bahasa dan sastra Rusia UI Jakarta. Lulus dari UI, ia meraih beasiswa dan studi di Universitas Persahabatan Bangsa-Bangsa Lumumba di Moskow dan lulus pada 1966 dengan gelar MA. Kemudian, Asahan terbang ke Hanoi. Sembari kuliah, ia sempat menjadi tentara dan wartawan di negeri yang kala itu dibombardir oleh tentara Amerika Serikat.

Setelah beruntung dikirimi Asahan sekitar koleksinya itu, dan saya segera kembali menyadari betapa hebatnya akal budi nenek moyang kita dalam menciptakan peribahasa. Salah satunya adalah ‘’Apa yang kurang pada belida, sisik pun ada tulang pun ada.‘’ Saya menjadi tahu bahwa belida adalah nama ikan dengan nama latin: Notopterus, sejenis ikan darat atau sungai. Tapi bukan lintah darat. Bukan pula buaya darat, judul lagu Duo Ratu yang kini tersohor. Syahdan, peribahasa ini ditujukan kepada para raja dan pengusaha kayaraya di zaman bahari. Mungkin, seperti pejabat negara dan daerah kita yang tadinya adalah seorang pengusaha ‘’kelas belinda” di masa ini.

Namun setelah merasa-rasakan beberapa peribahasa, entah mengapa saya agak merasa keberatan, khususnya peribahasa yang menggunakan hewan sebagai perumpamaan. Bukan sok hendak berobsesi menjadi ‘’pahlawan hewan” tetapi memang banyak sekali peribahasa kita yang menghina, melecehkan dan memojokkan hewan. Seandainya saya adalah Nabi Sulaiman, dan dapat mengerti bahasa hewan, jangan-jangan  para hewan makhluk Tuhan itu tersinggung juga. Sayang, saya bukan Nabi Sulaiman, dan hewan pun tak berbicara sebagai galibnya bahasa manusia.

Peribahasa ‘’mulutmu harimaumu” memang ringkas padat, tapi, apakah pengandaian dan perbandingan ini masih menyakinkan  bahwa harimau akan menerkam diri sendiri jika kita berbicara tanpa sensor atau dipikirkan lebih dulu? Saya bukan mau bercanda. Tapi peristiwa ‘’harimau menerkam” sangat jarang terjadi dalam kenyataan sehari-hari. Ramainya hanya dalam fiksi. Bahkan kisah harimau menerkam dikisahkan para orangtua kita sangat dekat dengan tahayul, misalnya jika ada orang melakukan tabu, sebutlah berzinah, maka akan ada penduduk kampung yang diterkam harimau. Padahal harimau masuk kampung karena habitatnya terusik, mungkin oleh para pemburu yang datang dari kota atas nama hobi dan life style, atau oleh peladangan berpindah dan pembakaran hutan. Ini membuktikan lahirnya pribahasa ‘’mulutmu harimaumu” berhampiran dengan kosmologi masa itu.

Jangan-jangan anak muda masa kini menerjemahkan pribahasa itu untuk menggambarkan seorang tokoh orator yang suaranya ‘’mengaum” saat berpidato. Mungkin, seperti Bung Karno, atau Fidel Castro yang kini jatuh sakit di Kuba. Mendadak makna yang buruk dari pribahasa itu telah berubah bermakna bagus di mata generasi sekarang. Jika semula tujuannya agar orang jangan salah atau terpleset kata karena tidak mustahil kata-kata seperti itu akan menjadi bumerang, kini bermetamorfosis menjadi pujian kepada seorang orator ulung.

Hewan lain yang paling sering disudutkan adalah anjing. Misalnya, ‘’umpama anjing makan muntahnya” atau ‘’seperti anjing beroleh bangkai”. Ada lagi, ‘’bak menolong anjing terjepit”. Padahal, anjing adalah sedikit dari banyak hewan yang setia kepada tuan atau pemiliknya. Beberapa film televisi menggambarkan kesetiaan anjing yang luar biasa, sehingga layakkah jika hewan ini disebut sebagai symbol kesetiaan. Jadi, jika Anda marah pada seseorang, dan meneriakinya sebagai anjing, logikanya akan terdengar lucu. Sebab orang yang Anda benci itu, Anda teriaki sebagai orang yang setia. Tapi, saya belum bisa membayangkan, Anda akan berkata ‘’anjing” kepada teman setia Anda. Orang belum bisa menerimanya karena sudah terlanjur menganggap anjing yang sebenarnya ‘’berbudi” itu sebagai jahat.

Contoh lain, ‘’anjing itu jika dipukul sekalipun, berpulang ke tempat yang banyak tulang”, atau, ‘’anjing itu meski dirantai dengan emas sekalipun, niscaya berulang-ulang juga ke tempat najis”. Yang pertama menggambarkan seorang yang tak menjaga nama baiknya, dan terus melakukan kejahatan walaupun sudah dihukum. Yang kedua, melukiskan seseorang yang terus melakukan kejahatan walau hidupnya sudah lumayan, atau bahkan sudah kaya sekalipun. Dua pribahasa barusan, adalah contoh bagaimana manusia mengandalkan dirinya sebagai anjing, setidaknya untuk menggambarkan prilaku manusia yang buruk. Peribahasa yang sudah menjadi fakta kehidupan itu membuktikan bahwa manusia memang ganas dan licik dibanding anjing yang setia.

Tetapi mungkin masyarakat anjing menganggap peribahasa itu justru tidak benar, anjing yang terus kembali ke tempat tulang, memang sudah habitat dan tradisi anjing, seperti halnya manusia berangkat ke tempat pekerjaan. Adapun tentang anjing yang dirantai emas, toh anjing tak pernah menjadi residivis, bukan? Seingat-ingat saya, bahaya anjing adalah bila mereka mengidap penyakit ‘’anjing gila” yang menularkan rabies. Tapi jika sudah ‘’gila” mengapa kita harus berang, bukankah hukum manusia tak berlaku bagi orang gila, dan saya kira juga bagi anjing gila? Saya kira, jangan-jangan masyarakat anjing melihat realitas bahwa memang sangat banyak perilaku manusia yang tidak pantas ditiru oleh anjing. Mungkin itu sebabnya anjing menggonggong karena bosan melihat banyak manusia melakukan korupsi, illegal loging, money laundring dan sebagainya. Jika ‘’anjing menggonggong tidak menggigit”, memang bukan. Aha, anjing itu hanya sinis saja gerangan?

Asahan mengaku hanya dapat mengumpulkan 26 peribahasa yang memakai nama anjing. Lebih banyak di Belanda yang sampai mencapai 30 peribahasa. Sedangkan di Vietnam sama dengan Indonesia. Misalnya, ada peribahasa Nusantara, ‘’seperti anjing dengan kucing”. Ini berpadanan dengan peribahasa Belanda, ‘’Leven als kat end hon”. Kemudian, ‘’Nho Cho voi meo” dalam bahasa Vietnam. Tapi yang menarik, meskipun anjing menjadi bintang dalam peribahasa Nusantara dan Belanda, tetapi di Belanda sifat negatifnya tetap saja lebih banyak. Asahan tak menjelaskan mengapa demikian halnya. Tapi saya kira-kira, Belanda yang continental memang lebih feodalistik dibanding Anglo Saxon yang lebih demokratis dan egaliter.

Rasanya, persis dengan Nusantara yang feodalistis dan paternalistis walaupun konon kabarnya sudah dikoreksi oleh Orde Baru pada 1966 dan Orde Reformasi pada 1998 lalu. Lihatlah berbagai upacara resmi di pusat dan daerah selalu berjalan penuh protokoler, hikmad, dan bapak-bapak yang terhormat selalu berada di podium dan tribun, atau setidaknya duduk dengan nyaman di bawah tenda plastik  sehingga terhindar dari teriknya sang surya. Sementara sinar matahari dengan leluasa menerpa khalayak ramai.

Perumpamaan Sezaman
SYAHDAN, filologi adalah ilmu yang mempelajari teks tertulis, baik berupa karya sastra (termasuk peribahasa) dan nilai budaya masyarakat. Bertolak dari sini, kita patut salut kepada generasi pendahulu yang telah menyusun ribuan peribahasa Nusantara. Kaum filolog memberitahu kita, bahwa karya sastra lama, termasuk peribahasa, selalu mencerminkan pengalaman hidup dan keadaan masyarakat pendukungnya pada masa itu. Tak halnya geografi dan manusianya, perjalanan sejarah, tetapi juga emosi yang dilalui serta pemikiran dan filsafat hidupnya.

Jika hewan ditempatkan dalam posisi yang negatif, bisa dimaklumi oleh pengalaman, imaginasi, emosi dan kosmologi masyarakat pada masa itu. Lagi pula berbagai metafora dan makna simbolis itu dimaksudkan sebagai media didaktif dan instruktif. Ada sifat utile alias pengajaran dan bimbingan moral. Supaya tidak membosankan, bahkan ada sifat dulce atau permainan bunyi yang merdu, keteraturan irama dan kata yang memikat dan indah seperti kita temui dalam berbagai pantun nasehat dan sejenisnya.

Barangkali, itu sebabnya ada sinisme terhadap peribahasa lama, seperti ‘’biar lambat asal selamat” dan dianggap ketinggalan kereta. Sekarang kan ‘’cepat tapi tepat.” Sebetulnya tergantung konteksnya. Asahan bilang, bahwa di pabrik modern kerap kita baca peringatan: Safety first, walau tanpa kata slowly. Pula, keselamatan selalu penting saban zaman. Jika jalanan macet, masih ngebut juga, bisa berbahaya. Jadi, ‘’biar lambat asal selamat.” Tentu saat lomba lari 100 meter, peribahasa itu harus dibuang. Jika dilakoni, pasti kalah. Sangat relatif. Jangankan peribahasa, bahkan computer yang kita beli sekarang, mungkin enam bulan lagi sudah kuno. Tapi toh masih bisa dipakai untuk menulis kolom, atau cerita pendek, bukan? Perempuan yang kita nikahi tiga puluh tahun silam, bagaimana pula? Ah, perkara ini kita bahas lain kali, walau ada saja orang yang tergoda, karena ‘’rumput tetangga lebih hijau.”

Yang jelas peribahasa selalu menarik. Bahkan nama flora pun merasuki dunia peribahasa Nusantara. Ambillah contoh, ‘’Bagai kacang tengah dua bulan.” Maksudnya, tanaman kacang yang sudah berumur satu setengah bulan. Biasanya diibaratkan kepada perkembangan bayi atau bocah yang lekas besar dan subur. Rupa-rupanya nenek moyang kita sangat peka kepada sekeliling, termasuk dunia agraris di mana kacang ikut di dalamnya, walaupun IPB belum ada masa dahulu. Masih ingat peribahasa, ‘’bak padi bunting?” yang melukiskan keindahan betis perempuan? Rupa-rupanya, selain agraris, floris, peribahasa Nusantara juga romantis. Kita ingat lagi ‘’bibir yang bagai buah delima.” Atau ‘’alis mata bagai semut beriring.” Yang menyebalkan, mungkin, adalah ‘’bak menanam tebu di bibir.” Rakyat hanya dihadiahi ‘’tinggi gunung seribu janji” dari ‘’lidah tak bertulang,‘’ maka ingatlah, ‘’buaya muncul disangka mati / jangan percaya mulut lelaki / / berani sumpah takut mati.”

Mungkin, kita harus belajar dari Vietnam. Peribahasa agraris mereka sangat informative bagi para petani. Misalnya, ‘’Nang tot dua, mua tot lua” (Musim panas baik untuk padi, musim hujan baik untuk semangka). Atau ‘’Thang hai trong ca, thang ba trong do” (Bulan dua menanam terong, bulan tiga menanam kacang). Ada lagi, ‘’Thang gieng trong truc, thang luc trong tieu” (Bulan Januari menanam bambu, bulan Juni menanam pisang). ‘’Tot going tot ma, tot ma tot lua” (Jenis atau turunan yang baik, benih pun akan baik, padi pun akan baik). Rasanya, mirip bibit bobot bebet, dalam perumpaan Jawa. Masih ada lagi: Nguoi dep ve lua, lua tot ve ohan (Orang itu cantik karena sutra, padi itu baik karena pupuk).

Jangan-jangan karena pengaruh peribahasa Vietnam itulah, negeri ini terkenal dengan gabah padinya. Indonesia bahkan selalu mengimpor beras dari Vietnam, jika tidak dari Thailand dan Amerika. Petaninya membaca alam dengan peribahasa, dan kemudian menyesuaikan diri untuk menentukan kapan musim tanam dan hendak menanam apa. Di sana ada peribahasa ‘’Dong Sao thi nang, yang sao thi mua” (Bintang banyak akan  panas, tanpa bintang akan hujan). Ada pula petunjuk ‘’Rang vang thi gio, Rang doO thi mua” (Langit kuning akan berangin, langit merah akan hujan). Tak kalah pentingnya: ‘’Mong dai thi lut, mong cut thi mua” (Pelangi panjang akan banjir, pelangi pendek akan hujan).

Alam Vietnam sesungguhnya tak beda jauh dengan Indonesia. Mungkin, oleh pergeseran musim atau hutan yang tak lagi hijau, di sana pun kerap sekali musim kemarau terlalu kering, dan musim hujan malah banjir. Hanya di bagian lebih utara Vietnam mempunyai empat musim, walaupun di musim dingin tak turun salju. Tapi ingin musim dingin yang bertiup dari Danau Baikal Rusia teramat dingin menusuk tulang. Bencana alam pun kerap terjadi. Dan yang terakhir ini pun sangat bertubi-tubi mendera Indonesia, yang diawali dengan amuk tsunami dan gempa bumi Aceh-Nias hingga gempa Yokyakarta, tsunami pantai selatan Jawa hingga semburan Lumpur gas Porong Sidoarjo maupun pembakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan.

Jika dahulu nenek moyang kita selalu menangkap fenomena alam, dan kemudian menampilkannya dalam berbagai peribahasa sebagai pedoman kehidupan bagi anak cucu, apakah gerangan yang telah kita lakukan di masa ini, khususnya oleh para intelektual bahasa kita? Apalagi sekarang ketika kosmologi manusia, baik emosi, imajinasi dan cara berpikir sudah bergeser bersama ilmu-ilmu dan peradaban yang mengalir, semestinya peribahasa lama boleh juga (sebagian) mengalami pergeseran. Sayangnya, kita hanya mampu mewarisi khasanah peribahasa Nusantara lama itu dengan sikap taqlid. Jangankan sikap pembaruan, bahkan sikap kritis dan skeptisme pun tak punya, alih-alih hendak menciptakan peribahasa baru, dan menunjukkan kita sudah macet dalam berpikir. Mestinya, minimal harus ada koreksi, menampi yang antah dan hampa, dan mengambil yang bulir berisi padi, sehingga peribahasa tentang hewan, misalnya, mengalami adaptasi, dan jika perlu dekonstruksi.

Sebetulnya, dengan banyak fenomena alam, margasatwa, flora, fauna dan berbagai peristiwa di Tanah Air, seyogianya bisa menjadi inspirasi bagi munculnya peribahasa baru. Saya bayangkan, akan ada peribahasa ‘’mulutmu tsunamimu”. Pandai berbedak formalin. Ayam mati di lumbung emas. Tak suara, bokong pun jadi. Bak mencencang semburan Lumpur Porong. Buruk muka, statistik dibelah. Bak ayam disambar flu burung. Dan sebagainya.

Akhirulkalam, karena ‘’terlangsung perahu boleh balik, terlangsung cakap tidak boleh balik”, saya mohon beribu maaf jika ada kata-kata yang salah dan harap jangan disimpan dalam hati. Selain karena ‘’mulutmu harimaumu”, eh, ‘’mulutmu tsunamimu”, saya juga takutkan ‘’sebab pulut santan binasa, sebab mulut badan binasa”. Tabik. ***

Penulis tinggal di Depok.


 

Bookmark (Ctrl+D)
     Bagikan


Komentar

Berikan Komentar

Nama:


E-mail:


Judul:


Silahkan tulis komentar anda :


  Connect  2 Users Online
Sagang Online 2009 Redaksi Gedung Riau Pos Jl. HR Soebrantas Km 10,5 Panam Pekanbaru-Riau