Berita Terbaru
EKSPOSISI tubuh manusia sebagai refleksi filosofis dari ruang-ruang pergulatan estetis, terkhusus dalam dunia seni teater, telah mencuat demikian mencolok pada beberapa dekade akhir abad ke-20. Sebagaimana yang terjadi dalam lingkungan visual keseharian kita, di mana tubuh hadir dalam citraan-citraannya yang kompleks baik dalam posisinya sebagai kebutuhan primer maupun dalam kerangka konsepsi filosofis demikianlah pula teater telah “mencincang” tubuh menjadi racikan”daging-daging” estetis yang beragam bentuk dan warna.
Fenomena penelanjangan tubuh manusia misalnya, sebagai sebuah ungkapan perlawanan terhadap keyakinan modernisme, terutama pada logika liniernya tentang disiplin tubuh, telah menunjukkan betapa teater modern kita telah begitu mengeksplorasi sosok tubuh, baik dalam konteks tubuh fisik yang menjelajahi tema-tema sosiologis-antropologis, maupun penggalian makna tubuh dalam kerangka filosofis-teologis, dalam hubungannya dengan dunia psikis. Keyakinan terhadap tubuh manusia sebagai proyek dalam mambangun sebuah peristiwa di atas panggung teater, telah melahirkan obsesi untuk memproduksi tubuh dalam metafora-metafora artsitik yang mendobrak batas-batas.
LUKA politik masa lalu yang berhubungan dengan pemberontakan komunis yang gagal (G 30 S PKI), masih menjadi tema favorit bagi sebagian pengarang Indonesia di masa kini. Bukan hanya oleh mereka yang pernah mengalaminya, tetapi juga oleh generasi terbaru yang tak pernah mengalaminya secara langsung, dan hanya mendapatkan cerita dari buku sejarah maupun dari orang tua mereka.
Dengan sudut pandang yang agak berbeda, Ayu Utami menulis Manjali dan Cakrabirawa (MdC, Kepustakaan Populer Gramedia [KPG], Juni, 2010) sebagai lanjutan dari Bilangan Fu (BF, KPG, Juni 2008). Dalam novel setebal 252 halaman tersebut, Ayu menyebutnya sebagai novel “spiritualisme kritis”, yang juga ditulis di sampul belakang Bilangan Fu. Dibanding dua novel yang ditulisnya sebelum kedua novel ini, yakni Saman (KPG, April 1998) dan Larung (KPG, November 2001), MdC dan BF terasa lebih cair, baik dari sisi cerita maupun penceritaannya. Bahkan, jika tidak dijejali dengan banyak data sejarah dan njilmetnya dunia arkeologi, kedua novel tersebut seperti novel populer kebanyakan dengan cerita cinta segitiga ala anak remaja.

PEKANBARU (RP)- Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri) yakin Pemerintah Provinsi Riau pada tahun 2020 nanti mampu mewujudkan Negeri Lancang Kuning sebagai pusat perekonomian dan kebudayaan Melayu di Asia Tenggara. Ini bisa terwujud asal bekerja keras dan ada komitmen tinggi dari seluruh pemangku kepentingan.
Hal tersebut disampaikan Mendagri Gamawan Fauzi dalam sambutannya yang dibacakan Kapusdatin Komtel Kemendagri, Budi Arianto dalam video conference di Kantor Kemendagri, Senin (9/8) dengan Gubernur Riau HM Rusli Zainal yang mengikuti rapat paripurna Istimewa di Gedung DPRD Riau, menyambut Hari Ulang Tahun Provinsi Riau ke-53, Senin (9/8).

PEKANBARU - Pusat Latihan Seni Semenanjung asal Riau segera mementaskan karya perdananya, Ahad (8/8) pukul 19.30 WIB di Gedung Kesenian Miss Tjitjih Cempaka Putih Jakarta Pusat. Pementasan bertajuk, “Keris Menjadi Saksi” itu disutradarai seniman asal Riau yang berdomisili di Jakarta Asrizal Nur. Naskah Temul Amsal tersebut diangkat dari cerita rakyat Pelalawan yang juga berasal dari Pelalawan, Riau.
Berita Populer
Lama sudah kita tidak bisa menikmati karya-karya terbaru Abel Tasman. Padahal dahulu ia seorang penulis produktif dan menjuarai beberapa perlombaan penulisan. Bahkan beberapa karya Abel Tasman telah diterbitkan di surat kabar nasional.

Pada mulanya, Pulau Penyengat Indra Sakti merupakan mas kawin atau mahar Sultan Mahmud Syah (Raja Riau-Lingga) kepada permaisurinya Engku Putri atau Raja Hamidah sekitar 1801-1802. Di pulau bersejarah yang dikenal dengan taman para penulis/taman para intelektual inilah pula pengarang Gurindam Dua Belas Raja Ali Haji melahirkan karya-karyanya.
KEPUNAHAN bahasa akhir-akhir ini semakin mencemaskan banyak pihak. Bahasa yang punah itu umumnya adalah bahasa ibu kaum minoritas. Oleh sebab itu, sejak tahun 1991 UNESCO menetapkan Hari Bahasa Ibu Sedunia yang diperingati setiap tanggal 21 Februari.
Peringatan itu dimaksudkan untuk senantiasa menyadarkan kita akan pentingnya mempertahankan bahasa ibu dan mengupayakan terhindarnya kepunahan yang, jika tidak dicegah, cenderung kian laju prosesnya. Tulisan Andrew Dalby, Language in Danger (2003) menyebutkan bahwa setiap dua minggu dunia kehilangan satu bahasa. Separuh dari 5.000 bahasa di dunia saat ini akan lenyap dalam satu abad ke depan. Dia mengingatkan bahwa kepunahan bahasa berarti hilangnya khazanah ungkapan yang mencerminkan cara pandang penuturnya terhadap dunia. Beralihnya penggunaan bahasa minoritas ke beberapa bahasa dominan dapat mengubah penafsiran terhadap dunia. Keprihatinan itu sudah menjadi perhatian dunia.

Realitas sosial yang kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan orang kebanyakan orang.
Ketidaksesuaian realitas dengan harapan cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan rasa ketidakpuasan itu mendorong orang untuk melakukan tindakan yang bersifat kontra terhadap realitas, misalnya dengan melakukan demonstasi kepada para pemimpin, penguasa, pejabat, anggota dewan, dan manajemen perusahaan. Bahkan ada teori yang menyatakan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa cenderung menyimpang dari ketentuan yang berlaku akibat syahwat kekuasaan sering sulit untuk dikendalikan.
Berita Lainnya
Hang Kafrawi lahir di Teluk Belitung, Bengkalis, 22 Maret 1974, dari orang tua Jamil Nur dan Azizah. Menamatkan S1 di Fakultas Sastra Unilak Jurusan Sastra Indonesia. S2 di selesaikannya di Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jurusan Penciptaan Teater tahun 2005.
Nama lengkap : H. Griven Herrie Putera, M.Ag
Nama Pena : Griven H. Putera
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tempat/tgl lahir : Rantaubaru/ 28 Juli 1976
Agama : Islam
Negeri Asal (suku) : Rantaubaru (Melayu Riau)
Status : Sudah Menikah
Pendidikan :
- SD Negeri 003 Rantaubaru (1982 - 1988)
- MTS/MA Pondok Pesantren Daarun Nahdhah Thawalib Bangkinang (1988 - 1995)
- S1 Fakultas Dakwah IAIN Susqa Pekanbaru (1995 - 2000)
- S2 Pasca Sarjana IAIN Susqa Pekanbaru (2002 - 2004)
Alamat : Rumah :Perumahan Astakarya Panam, blok k.21
Kantor: - Kantor Kemenag Kab. Pelalawan, Komplek perkantoran Bhakti Praja Pangkalan Kerinci
Sekretariat Dewan Kesenian Riau, (gedung Purna MTQ) jalan Sudirman- Pekanbaru
Sosok Husni Thamrin memang tidak seakrab dan se-monumental karyanya di telinga orang-orang Melayu serantau, terutama Melayu Riau. Dua lagu terbaik ciptaannya, senantiasa di dendangkan seperti Hang Tuah dan Tuanku Tambusai. Kepergiannya menghadap Sang Khaliq, Selasa (20/4) pukul 03.00 WIB di RSUD Arifin Ahmad dan dimakamkan di TPU Senapelan itu takkan menghapus nama besarnya sebab layaknya nama besar seniman selalu dikenang lewat karyanya hingga akhir zaman.
HUSNI Thamrin adalah pencipta lagu-lagu pop Melayu yang hingga akhir hayatnya tetap memberikan inspirasi kepada banyak orang. Meski lama berkiprah di Jakarta namun nilai-nilai kebudayaan Melayu tak sedikit pun aus dari dirinya. Bahkan Sastrawan Riau Taufik Ikram Jamil mengakui, saat bertemu almarhum di Jakarta, dirinya seakan tetap berada di Riau. Kenapa? Karena almarhum memiliki lisan Melayu yang kental dan membumi, dimanapun ia berada. Tidak heran, dalam dunia musik Melayu, Husni adalah tokoh terbaik yang pernah dimiliki negeri berjuluk Lancang Kuning ini.

Tak banyak birokrat yang menyukai seni, apalagi seni tradisi. Said Parman adalah satu di antara yang sedikit itu. Latar belakang pendidikannya sebagai calon guru SD, serta keterlibatannya dalam semacam program revitalisasi makyong pada 1978/1979, menjadi semacam jalan pembuka. Setelah ikut bermain makyong dan sempat tampil di beberapa tempat, benih kecintaan pada seni tradisi ini pun terus tumbuh.






