Sabtu, 11 September 2010 WIB
Harian Riau Pos
Bubu Award V.6
Rida K Limasi

Berita Terbaru

Estetika Tubuh dan Teater Eksperimental
Minggu, 22 Agustus 2010
 
 

EKSPOSISI tubuh manusia sebagai refleksi filosofis dari ruang-ruang pergulatan estetis, terkhusus dalam dunia seni teater, telah mencuat demikian mencolok pada beberapa dekade akhir abad ke-20. Sebagaimana yang terjadi dalam lingkungan visual keseharian kita, di mana tubuh hadir dalam citraan-citraannya yang kompleks baik dalam posisinya sebagai kebutuhan primer maupun dalam kerangka konsepsi filosofis demikianlah pula teater telah “mencincang” tubuh menjadi racikan”daging-daging” estetis yang beragam bentuk dan warna.
 
Fenomena penelanjangan tubuh manusia misalnya, sebagai sebuah ungkapan perlawanan terhadap keyakinan modernisme, terutama pada logika liniernya tentang disiplin tubuh, telah menunjukkan betapa teater modern kita telah begitu mengeksplorasi sosok tubuh, baik dalam konteks tubuh fisik yang menjelajahi tema-tema sosiologis-antropologis, maupun penggalian makna tubuh dalam kerangka filosofis-teologis, dalam hubungannya dengan dunia psikis. Keyakinan terhadap tubuh manusia sebagai proyek dalam mambangun sebuah peristiwa di atas panggung teater, telah melahirkan obsesi untuk memproduksi tubuh dalam metafora-metafora artsitik yang mendobrak batas-batas.

 
Marja dan Manjali: Terbebani Sejarah
Minggu, 22 Agustus 2010
 
 

LUKA politik masa lalu yang berhubungan dengan pemberontakan komunis yang gagal (G 30 S PKI), masih menjadi tema favorit bagi sebagian pengarang Indonesia di masa kini. Bukan hanya oleh mereka yang pernah mengalaminya, tetapi juga oleh generasi terbaru yang tak pernah mengalaminya secara langsung, dan hanya mendapatkan cerita dari buku sejarah maupun dari orang tua mereka.
 
Dengan sudut pandang yang agak berbeda, Ayu Utami menulis Manjali dan Cakrabirawa (MdC, Kepustakaan Populer Gramedia [KPG], Juni, 2010) sebagai lanjutan dari Bilangan Fu (BF, KPG, Juni 2008). Dalam novel setebal 252 halaman tersebut, Ayu menyebutnya sebagai novel “spiritualisme kritis”, yang juga ditulis di sampul belakang Bilangan Fu. Dibanding dua novel yang ditulisnya sebelum kedua novel ini, yakni Saman (KPG, April 1998) dan Larung (KPG, November 2001), MdC dan BF terasa lebih cair, baik dari sisi cerita maupun penceritaannya. Bahkan, jika tidak dijejali dengan banyak data sejarah dan njilmetnya dunia arkeologi, kedua novel tersebut seperti novel populer kebanyakan dengan cerita cinta segitiga ala anak remaja.

 
Riau Bisa Jadi Pusat Ekonomi dan Budaya
Selasa, 10 Agustus 2010
 
 

PEKANBARU (RP)- Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri) yakin Pemerintah Provinsi Riau pada tahun 2020 nanti mampu mewujudkan Negeri Lancang Kuning sebagai pusat perekonomian dan kebudayaan Melayu di Asia Tenggara. Ini bisa terwujud asal bekerja keras dan ada komitmen tinggi dari seluruh pemangku kepentingan.

Hal tersebut disampaikan Mendagri Gamawan Fauzi dalam sambutannya yang dibacakan Kapusdatin Komtel Kemendagri, Budi Arianto dalam video conference di Kantor Kemendagri, Senin (9/8) dengan Gubernur Riau HM Rusli Zainal yang mengikuti rapat paripurna Istimewa di Gedung DPRD Riau, menyambut Hari Ulang Tahun Provinsi Riau ke-53, Senin (9/8).

 
Semenanjung Pentaskan “Keris Menjadi Saksi”
Selasa, 3 Agustus 2010
 
 

PEKANBARU - Pusat Latihan Seni Semenanjung asal Riau segera mementaskan karya perdananya, Ahad (8/8) pukul 19.30 WIB di Gedung Kesenian Miss Tjitjih Cempaka Putih Jakarta Pusat. Pementasan bertajuk, “Keris Menjadi Saksi” itu disutradarai seniman asal Riau yang berdomisili di Jakarta Asrizal Nur. Naskah Temul Amsal tersebut diangkat dari cerita rakyat Pelalawan yang juga berasal dari Pelalawan, Riau.

 
3.000-an Warga Ramaikan Pawai Pembukaan Pacu Jalur
Jumat, 30 Juli 2010
 
 
TELUK KUANTAN (RP)- Dentuman suara meriam, ayunan dayung tangan-tangan kekar si anak pacu, dan gemercik air Batang Kuantan, serta lautan manusia di sepanjang tebing Tepian Narosa, menjadi tanda helat akbar iven nasional Pacu Jalur Kuantan Singingi 2010 telah dimulai.
Pembukaan pacu jalur itu seakan tak mengabaikan apapun yang terjadi pada perekonomian. Harga cabai, kebutuhan bahan pokok lainnya, serta Tarif Dasar Listrik (TDL) boleh saja naik, tapi kemeriahan iven pacu jalur yang baru dibuka Kamis (29/7) dan berlangsung hingga 1 Agustus mendatang tak berkurang kemeriahannya. Bahkan pada saat pawai budaya pembukaannya saja, tak kurang dari 3.000-an orang meramaikannya. Belum termasuk tamu undangan dan para penonton yang memadati lapangan Limuno, tempat iven wisata nasional ini dibuka.
 

Berita Populer

Nasib Guru dalam ”Kerbau-Kerbau” Karya Abel Tasman
Minggu, 18 April 2010
 
 

Lama sudah kita tidak bisa menikmati karya-karya terbaru Abel Tasman. Padahal dahulu ia seorang penulis produktif dan menjuarai beberapa perlombaan penulisan. Bahkan beberapa karya Abel Tasman telah diterbitkan di surat kabar nasional.

 
Berziarah ke Taman Para Penulis
Minggu, 6 Desember 2009
 
 Dari Workshop Arab Melayu dan Filologi Budpar Riau

Pada mulanya, Pulau Penyengat Indra Sakti merupakan mas kawin atau mahar Sultan Mahmud Syah (Raja Riau-Lingga) kepada permaisurinya Engku Putri atau Raja Hamidah sekitar 1801-1802. Di pulau bersejarah yang dikenal dengan taman para penulis/taman para intelektual inilah pula pengarang Gurindam Dua Belas Raja Ali Haji melahirkan karya-karyanya.

PULAU Penyengat atau Taman Para Penulis ini terletak di sebelah barat Kota Tanjungpinang-Kepulauan Riau (Kepri). Jaraknya, lebih kurang 1,50 Km dari Kota Tanjungpinang atau bisa ditempuh dengan menggunakan jasa pompong selama 20 menit saja. Luasnya hanya berkisar 3,50 Km dengan wilayah berbukit-bukit. Di zaman pemerintah Sultan Mahmud Syah (1761-1812 M), pulau itu dijadikan sebagai mahar untuk meminang Engku Putri binti Raja Haji Syahid Fisabilillah (1801 M).
 
Pemertahanan Bahasa Melayu Riau
Minggu, 21 Februari 2010
 
 

KEPUNAHAN bahasa akhir-akhir ini semakin mencemaskan banyak pihak. Bahasa yang punah itu umumnya adalah bahasa ibu kaum minoritas. Oleh sebab itu, sejak tahun 1991 UNESCO menetapkan Hari Bahasa Ibu Sedunia yang diperingati setiap tanggal 21 Februari.

Peringatan itu dimaksudkan untuk senantiasa menyadarkan kita akan pentingnya mempertahankan bahasa ibu dan mengupayakan terhindarnya kepunahan yang, jika tidak dicegah, cenderung kian laju prosesnya. Tulisan Andrew Dalby, Language in Danger (2003) menyebutkan bahwa setiap dua minggu dunia kehilangan satu bahasa. Separuh dari 5.000 bahasa di dunia saat ini akan lenyap dalam satu abad ke depan. Dia mengingatkan bahwa kepunahan bahasa berarti hilangnya khazanah ungkapan yang mencerminkan cara pandang penuturnya terhadap dunia. Beralihnya penggunaan bahasa minoritas ke beberapa bahasa dominan dapat mengubah penafsiran terhadap dunia. Keprihatinan itu sudah menjadi perhatian dunia.

 
Riau Rhythm Chambers Bawa Melayu Keluar Angkasa *D
Senin, 13 Juli 2009
 
 
Riau Rhythm Chambers telah menunaikan azam untuk menggelar konser di tanah kelahirannya Kota Bertuah Pekanbaru, Riau. Konser perdananya tersebut cukup menggiurkan dengan tema Starlight of Planet Zapin in Concert. Konser yang mengambil setting luar angkasa tersebut seakan membawa Melayu membumbung ke langit tempat segala ketenangan jiwa tercipta.

?Kota Bertuah negeri Melayu, Elok Melayu memakai adat, Sudah termasyur sejak dahulu, Budaya digelar tuk beradat.? Liriknya saja menegaskan bahwa anak-anak muda yang tergabung dalam grup musik yang lebih populer di luar negeri itu, mencintai tradisi ibunya, yakni budaya Melayu. Apalagi, Riau Rhythm Chambers Indonesia mengusung visi untuk mengkombain musik tradisi dengan dengan musik modern.
 
Fungsi Sosial Karya Sastra
Minggu, 16 Mai 2010
 
 

Realitas sosial yang kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan orang kebanyakan orang.
 
Ketidaksesuaian realitas dengan harapan cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan rasa ketidakpuasan itu mendorong orang untuk melakukan tindakan yang bersifat kontra terhadap realitas, misalnya dengan melakukan demonstasi kepada para pemimpin, penguasa, pejabat, anggota dewan, dan manajemen perusahaan. Bahkan ada teori yang menyatakan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa cenderung menyimpang dari ketentuan yang berlaku akibat syahwat kekuasaan sering sulit untuk dikendalikan.

 

Berita Lainnya

April
Minggu, 29 Agustus 2010
 
 
Alexis Zorba, seorang tokoh dalam novel karya sastrawan Yunani Nikos Kazantzakis berjudul Zorba The Greek terbitan tahun 1946 yang dibuat film tahun 1964 berkata tentang sinematografi seperti ini, ‘’Di dalam kepala manusia ada semacam bioskop bersuara.’’ Imajinasi atau film dalam kepala manusia itu selalu diputar ulang demi kesegaran yang senantiasa minta diulang. Dengan demikian orang dapat menandai secara jelas hubungan antara film dan sas­tra. Rangkaian benang penghubung di antara kedua sosok seni itu ialah cerita.
 
Ari
Minggu, 22 Agustus 2010
 
 

Seorang yang sudah mapan selalu memandang dan mengatakan tentang para pendatang baru di bidangnya yang biasanya tentu saja lebih muda atau jauh lebih muda usianya dari dirinya dengan ungkapan yang bermuatan pejoratif. Seorang seniman mapan sering mengungkapkan tentang mereka yang baru datang itu sebagai seniman muda yang makna muda-nya bukan ditekankan pada usia saja, tapi lebih-lebih pada karya yang konon belum kokoh. Rampai sekali ini akan melihat peristiwa tersebut dengan sudut-pandang yang paling dekat dengan kebenaran karena karya seni sejati tak ada hubungannya dengan usia kreatornya. Usia hanyalah angka-angka.

 
Menyimak, Suara, Sagang, dan…
 
 

KETIKA TIJ yaitu Taufik Ikram Jamil dan Ion yakni Mafirion pada bulan Oktober 1992 mengajak saya ikut menyelenggarakan media sastra tiga bulanan Menyimak yang nomor perdananya tercatat 28 Oktober 1992–29 Januari 1993 saya segera menjawab ya biarpun berhonorarium kecil. Media terbit sampai delapan terbitan dengan nomor terakhir tercatat 28 Juli 1994–28 Oktober 1994.

 
Im Herzen waren wir Indonesien
Minggu, 13 Juni 2010
 
 

ARTINYA dalam bahasa kita Dalam Hati Kami ialah Orang Indonesia demikianlah terbitnya sebuah memoir yang ditulis oleh seorang wanita berkebangsaan Swiss dalam bahasa Jerman bernama Gret Surbek dari kota Bern yang merapah koloni Belanda di Pulau Sumatra dan Jawa dari tahun 1920 sampai tahun 1945 yang terbit di Basel tahun 2007. Buku setebal 509 halaman dan dilengkapi dengan 68 foto, dan 4 ilustrasi dilahirkan oleh penerbit Limmat Verlag Zürich und Schweizerische Gesellschaft für Volkskunde di Basel. Gret Surbek antara lain mengalami kehidupannya karena dia menggeluti arkeologi dan memburu bidang itu dan bersama dengan dua anaknya berkelana di perkebunan kopi di Pagaralam.

 
Arin
Minggu, 6 Juni 2010
 
 

Riwayat masa lalu dan silsilah Fedya, tokoh utama novel Arthur Koestler yang kurang dikenal The Age of Longing tertuang dalam Bab 4 dari halaman 60 sampai 75 dari buku setebal 350 halaman yang diterbitkan oleh A Signet Books New American Library, New York, 1953.

 




  BerandaRampai

2010
Minggu
28
Februari
247
Oleh : Hasan Junus 
Hasan Junus

KALAU Anda sampai ke India, sempat melihat Taj Mahal dan mengunjungi makam Akbar, singgah jugalah ke desa Kako di Bihar, karena ada suatu kubur yang sangatlah istimewa di situ. Istimewa?


Istimewanya ialah itu kubur seorang yang dianggap suci, sebangsa wali atau orang keramat. Biasanya wali keramat itu seorang lelaki tapi Bîbî Kamâlo yang empunya kubur di Kako, Bihar, sejak abad ke-14 ini seorang perempuan. Saya tak pernah sampai menjejakkan kaki di India tapi karena baru-baru ini mendapat kiriman sebuah buku setebal 588 halaman dari École française d’Extrême-Orient hasil kumpulan Henri Chambert-Loir dan Claude Guillot ‘’Ziarah dan Wali di Dunia Islam’’ saya menjadi tertarik pada tokoh wali keramat perempuan ini seperti tertariknya saya kepada Syaripah Syuhada dan seorang wali keramat di Penyengat dalam buku kumpulan ‘’Cakap-cakap Rampai-rampai Bahasa Melayu Johor’’ karya Haji Ibrahim tahun 1868.

Barangkali nama-nama seperti Bîbî Kamâlo di Kako dan Syaripah di sebuah pulau di kawasan Riau, seorang keramat keturunan Arab di Penyengat, orang gila tak dimakan api di Senggarang akan saya tuliskan dengan senafas atau sambil satu kali bernafas dalam novel yang tak juga selesai. Kalau tokoh perempuan yang hanyut dari pantai utara Pulau Jawa ke Riau lalu jatuh hanyut di laut Riau dan tersadai telanjang bulat berbungkus daun di sebuah pulau itu berasal dari tulisan Haji Ibrahim, tokoh Bibi Kamâlo saya dapatkan dari tulisan Catherine Champion ‘’Wali Perempuan di India – Bibi Kamâlo di Kako’’ dari halaman 261 sampai 267 dalam buku Ziarah dan Wali di Dunia Islam hasil kumpulan Henri Chambert-Loir & Claude Guillot terbitan bersama Serambi & École française d’Extrême-Orient & Forum Jakarta-Paris & Jakarta 2007.

Bîbî Kamâlo rajin dan tunak beribadat, tapi dia juga seorang yang suka membangkang dan juga dikenal sebagai seorang tukang sihir yang hebat. Pada kata ‘’tukang sihir’’ ini kita berhenti sejenak. Karena perempuan ini seorang muslimah yang sangat taat, baiklah kata ‘’tukang sihir’’ diartikan sebagai seorang yang bisa mengobat orang-orang sakit secara gaib.

Le Petit Larouse Illustré 1993 halaman 1183 mencatat bahwa Bihar ialah suatu negara bagian India seluas 174 000 kilometer persegi, berpenduduk 69 823 000 jiwa, dengan ibukota Patnâ. Keterangan Catherine Champion tentang Bihar ialah bahwa agama Islam masuk ke kawasan itu pada akhir abad ke-12 dan sekarang jumlah penganut agama itu sebanyak 14% dari jumlah penduduk. Enam tariqat besar Islam yang dikenal di kawasan ini ialah Firdausiyah, Suhrawardiyah, Chistiyah, Qâdiriyah, Shattâriyah, dan Madâriyah.

Di antara kubur keramat para wali yang bertebaran di sekotah Bihar itu ada pula kubur keramat Bîbî Kamâlo yang terletak di desa Kalo, distrik Jahanabad. Orang-orang bersalut mistis seringkali menyakitkan hati kebanyakan orang dan orang kebanyakan. Konon suami Bîbî Kamâlo bosan dengan isterinya yang terlalu saleh, lalu pada suatu malam meninggalkannya dengan diam-diam. Namun setiap kali si suami tiba di ujung jalan, ternyata ia berada di samping ranjang suaminya. Demikian terjadi sekian kali sehingga suami ingin lari itu berkesimpulan Bîbî Kamâlo memang seorang perempuan dan isteri yang sakti sehingga suami itupun mengalah.

Wali keramat perempuan ini berasal dari keturunan sederetan panjang sufi-sufi Bihari terkenal sebagai pengamal tariqat Suhrawardiyah dan Firdausiyah. Dari garis ayahnya dia berasal dari pakar ilmu qalam Jerusalem Tâl Faqîh yang datang menyebarkan agama Islam ke India tahun 1180. Sedangkan garis ibunya membabit kadi-kadi penyebar Islam dari Turkestan di Bihar pada abad ke-13.

Cerita lain tentang Bîbî Kamâlo ialah mirip dengan cerita Haji Ibrahim dalam bukunya Cakap-cakap Rampai-rampai Bahasa Melayu Johor (huruf Arab, Percetakan Gubernemen Batavia, 1868) tentang orang gila tak dimakan api yang kononnya terjadi di Senggarang atau Seberang (dari Pulau Penyengat). Bukankah para wali keramat sering dipandang oleh anggota masyarakat sebagai orang yang istimewa, genius, dan kadang-kadang mungkin gila? Ketika api mendekati rumahnya, Bîbî Kamâlo tetap dan terus saja tidur. Dan begitu api sudah sangat mendekati rumahnya kebakaran itu lenyap dengan menakjubkan. Konon dari peristiwa inilah munculnya ungkapan orang Kako yang berbunyi, ‘’Sekotah Kako terbakar, tetapi Bîbî îKamâlo tidur nyenyak.’’ Begitulah bunyi sindiran terhadap seorang wali keramat perempuan dilantunkan berbancuh dengan kekaguman yang jujur.

Kalau Anda berziarah ke kubur Bîbî Kamâlo sambil berobat penyakit gaib Anda akan disuruh melakukan ritual khusus, mula-mula ditanya hal-hal semacam ini: ‘’Siapa Anda? Agama Hindu atau Islam? Anda jin? Atau kirat (semacam hantu kubur), atau dev (yaitu iblis), atau devî (roh gadis yang meninggal sebelum kawin), atau curail (perempuan yang meninggal sebelum melahirkan), atau bhût (roh orang yang mati sebelum waktu kematiannya), atau pari (yaitu semacam peri). Apakah Anda roh pertapa Hindu yang mati tak wajar? Tinggal di mana? Mengapa kau mengganggu orang ini? Mau apa Anda? Apa yang harus kami lakukan agar Anda pergi?’’

Tempat kuburan keramat Bîbî Kamâlo di tempat ketinggian itu ialah sebuah situs suci agama sebelumnya. Ada tersebar legenda bahwa tempat itu dulu digunakan untuk praktek religius lokal Hindu membabit nama Dasaratha dalam epos Ramayana. Konon danau yang ada di bawah sengaja dibuat oleh isteri sang raja yang bernama Kaikeyi. Selain dari Hindu tempat itu juga membabit Buddhisme karena seorang arkeolog menemukan sebuah arca Buddha yang memperlihatkan bahwa di situ dulu ada sebuah biara.

Bîbî Kamâlo berupaya keras mempertahankan tempat itu sebagai kawasan suci Islam. Ketua umat Buddha bernama Kanaka merasa terganggu oleh kehadiran wali keramat perempuan itu. Ia pun mencari akal agar dia pergi dari kawasan tersebut. Lalu diantarnya persembahan yang khas kepada Bîbî Kamâlo yang terdiri dari daging tikus. Ajaibnya ketika perempuan wali keramat itu hendak menyantap makanan itu tikus-tikus hidangan itu tiba-tiba hidup. Lalu Bîbî Kamâlo melepaskan kutukan kepada ketua umat Buddha itu dengan pengikut dan keturunannya. Tak lama setelah kejadian itu raja dan keturunannya dibunuh oleh para penduduk yang adalah rakyatnya sendiri.

Ketertarikan Anda dan atau saya kepada Bîbî Kamâlo boleh kita tingkatkan sampai setinggi-tingginya sehingga mungkin kita menjadikan perempuan wali keramat itu sebagai salah-seorang tokoh utama atau tak-utama dalam sebuah karya sastra, entah dari genre apapun. Dengan semangat post-modernisme yang menggebu-gebu kita berdua mengajak para pengarang di sini mengisi luang dan ruang yang ada dalam mengisi gelanggang kesusastraan yang tersedia bagi kita. Bîbî Kamâlo mungkin berteman atau bertengkar dengan Syaripah karena mereka bertemu di Singapura. Mereka berdua sama-sama mandi air sulung di perigi suluk di belakang mesjid Pulau Penyengat.***


 

Bookmark (Ctrl+D)
     Bagikan


Komentar

Berikan Komentar

Nama:


E-mail:


Judul:


Silahkan tulis komentar anda :


  Connect  4 Users Online
Sagang Online 2009 Redaksi Gedung Riau Pos Jl. HR Soebrantas Km 10,5 Panam Pekanbaru-Riau