Kamis, 9 September 2010 WIB
Harian Riau Pos
Bubu Award V.6
Rida K Limasi

Berita Terbaru

Estetika Tubuh dan Teater Eksperimental
Minggu, 22 Agustus 2010
 
 

EKSPOSISI tubuh manusia sebagai refleksi filosofis dari ruang-ruang pergulatan estetis, terkhusus dalam dunia seni teater, telah mencuat demikian mencolok pada beberapa dekade akhir abad ke-20. Sebagaimana yang terjadi dalam lingkungan visual keseharian kita, di mana tubuh hadir dalam citraan-citraannya yang kompleks baik dalam posisinya sebagai kebutuhan primer maupun dalam kerangka konsepsi filosofis demikianlah pula teater telah “mencincang” tubuh menjadi racikan”daging-daging” estetis yang beragam bentuk dan warna.
 
Fenomena penelanjangan tubuh manusia misalnya, sebagai sebuah ungkapan perlawanan terhadap keyakinan modernisme, terutama pada logika liniernya tentang disiplin tubuh, telah menunjukkan betapa teater modern kita telah begitu mengeksplorasi sosok tubuh, baik dalam konteks tubuh fisik yang menjelajahi tema-tema sosiologis-antropologis, maupun penggalian makna tubuh dalam kerangka filosofis-teologis, dalam hubungannya dengan dunia psikis. Keyakinan terhadap tubuh manusia sebagai proyek dalam mambangun sebuah peristiwa di atas panggung teater, telah melahirkan obsesi untuk memproduksi tubuh dalam metafora-metafora artsitik yang mendobrak batas-batas.

 
Marja dan Manjali: Terbebani Sejarah
Minggu, 22 Agustus 2010
 
 

LUKA politik masa lalu yang berhubungan dengan pemberontakan komunis yang gagal (G 30 S PKI), masih menjadi tema favorit bagi sebagian pengarang Indonesia di masa kini. Bukan hanya oleh mereka yang pernah mengalaminya, tetapi juga oleh generasi terbaru yang tak pernah mengalaminya secara langsung, dan hanya mendapatkan cerita dari buku sejarah maupun dari orang tua mereka.
 
Dengan sudut pandang yang agak berbeda, Ayu Utami menulis Manjali dan Cakrabirawa (MdC, Kepustakaan Populer Gramedia [KPG], Juni, 2010) sebagai lanjutan dari Bilangan Fu (BF, KPG, Juni 2008). Dalam novel setebal 252 halaman tersebut, Ayu menyebutnya sebagai novel “spiritualisme kritis”, yang juga ditulis di sampul belakang Bilangan Fu. Dibanding dua novel yang ditulisnya sebelum kedua novel ini, yakni Saman (KPG, April 1998) dan Larung (KPG, November 2001), MdC dan BF terasa lebih cair, baik dari sisi cerita maupun penceritaannya. Bahkan, jika tidak dijejali dengan banyak data sejarah dan njilmetnya dunia arkeologi, kedua novel tersebut seperti novel populer kebanyakan dengan cerita cinta segitiga ala anak remaja.

 
Riau Bisa Jadi Pusat Ekonomi dan Budaya
Selasa, 10 Agustus 2010
 
 

PEKANBARU (RP)- Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri) yakin Pemerintah Provinsi Riau pada tahun 2020 nanti mampu mewujudkan Negeri Lancang Kuning sebagai pusat perekonomian dan kebudayaan Melayu di Asia Tenggara. Ini bisa terwujud asal bekerja keras dan ada komitmen tinggi dari seluruh pemangku kepentingan.

Hal tersebut disampaikan Mendagri Gamawan Fauzi dalam sambutannya yang dibacakan Kapusdatin Komtel Kemendagri, Budi Arianto dalam video conference di Kantor Kemendagri, Senin (9/8) dengan Gubernur Riau HM Rusli Zainal yang mengikuti rapat paripurna Istimewa di Gedung DPRD Riau, menyambut Hari Ulang Tahun Provinsi Riau ke-53, Senin (9/8).

 
Semenanjung Pentaskan “Keris Menjadi Saksi”
Selasa, 3 Agustus 2010
 
 

PEKANBARU - Pusat Latihan Seni Semenanjung asal Riau segera mementaskan karya perdananya, Ahad (8/8) pukul 19.30 WIB di Gedung Kesenian Miss Tjitjih Cempaka Putih Jakarta Pusat. Pementasan bertajuk, “Keris Menjadi Saksi” itu disutradarai seniman asal Riau yang berdomisili di Jakarta Asrizal Nur. Naskah Temul Amsal tersebut diangkat dari cerita rakyat Pelalawan yang juga berasal dari Pelalawan, Riau.

 
3.000-an Warga Ramaikan Pawai Pembukaan Pacu Jalur
Jumat, 30 Juli 2010
 
 
TELUK KUANTAN (RP)- Dentuman suara meriam, ayunan dayung tangan-tangan kekar si anak pacu, dan gemercik air Batang Kuantan, serta lautan manusia di sepanjang tebing Tepian Narosa, menjadi tanda helat akbar iven nasional Pacu Jalur Kuantan Singingi 2010 telah dimulai.
Pembukaan pacu jalur itu seakan tak mengabaikan apapun yang terjadi pada perekonomian. Harga cabai, kebutuhan bahan pokok lainnya, serta Tarif Dasar Listrik (TDL) boleh saja naik, tapi kemeriahan iven pacu jalur yang baru dibuka Kamis (29/7) dan berlangsung hingga 1 Agustus mendatang tak berkurang kemeriahannya. Bahkan pada saat pawai budaya pembukaannya saja, tak kurang dari 3.000-an orang meramaikannya. Belum termasuk tamu undangan dan para penonton yang memadati lapangan Limuno, tempat iven wisata nasional ini dibuka.
 

Berita Populer

Nasib Guru dalam ”Kerbau-Kerbau” Karya Abel Tasman
Minggu, 18 April 2010
 
 

Lama sudah kita tidak bisa menikmati karya-karya terbaru Abel Tasman. Padahal dahulu ia seorang penulis produktif dan menjuarai beberapa perlombaan penulisan. Bahkan beberapa karya Abel Tasman telah diterbitkan di surat kabar nasional.

 
Berziarah ke Taman Para Penulis
Minggu, 6 Desember 2009
 
 Dari Workshop Arab Melayu dan Filologi Budpar Riau

Pada mulanya, Pulau Penyengat Indra Sakti merupakan mas kawin atau mahar Sultan Mahmud Syah (Raja Riau-Lingga) kepada permaisurinya Engku Putri atau Raja Hamidah sekitar 1801-1802. Di pulau bersejarah yang dikenal dengan taman para penulis/taman para intelektual inilah pula pengarang Gurindam Dua Belas Raja Ali Haji melahirkan karya-karyanya.

PULAU Penyengat atau Taman Para Penulis ini terletak di sebelah barat Kota Tanjungpinang-Kepulauan Riau (Kepri). Jaraknya, lebih kurang 1,50 Km dari Kota Tanjungpinang atau bisa ditempuh dengan menggunakan jasa pompong selama 20 menit saja. Luasnya hanya berkisar 3,50 Km dengan wilayah berbukit-bukit. Di zaman pemerintah Sultan Mahmud Syah (1761-1812 M), pulau itu dijadikan sebagai mahar untuk meminang Engku Putri binti Raja Haji Syahid Fisabilillah (1801 M).
 
Pemertahanan Bahasa Melayu Riau
Minggu, 21 Februari 2010
 
 

KEPUNAHAN bahasa akhir-akhir ini semakin mencemaskan banyak pihak. Bahasa yang punah itu umumnya adalah bahasa ibu kaum minoritas. Oleh sebab itu, sejak tahun 1991 UNESCO menetapkan Hari Bahasa Ibu Sedunia yang diperingati setiap tanggal 21 Februari.

Peringatan itu dimaksudkan untuk senantiasa menyadarkan kita akan pentingnya mempertahankan bahasa ibu dan mengupayakan terhindarnya kepunahan yang, jika tidak dicegah, cenderung kian laju prosesnya. Tulisan Andrew Dalby, Language in Danger (2003) menyebutkan bahwa setiap dua minggu dunia kehilangan satu bahasa. Separuh dari 5.000 bahasa di dunia saat ini akan lenyap dalam satu abad ke depan. Dia mengingatkan bahwa kepunahan bahasa berarti hilangnya khazanah ungkapan yang mencerminkan cara pandang penuturnya terhadap dunia. Beralihnya penggunaan bahasa minoritas ke beberapa bahasa dominan dapat mengubah penafsiran terhadap dunia. Keprihatinan itu sudah menjadi perhatian dunia.

 
Riau Rhythm Chambers Bawa Melayu Keluar Angkasa *D
Senin, 13 Juli 2009
 
 
Riau Rhythm Chambers telah menunaikan azam untuk menggelar konser di tanah kelahirannya Kota Bertuah Pekanbaru, Riau. Konser perdananya tersebut cukup menggiurkan dengan tema Starlight of Planet Zapin in Concert. Konser yang mengambil setting luar angkasa tersebut seakan membawa Melayu membumbung ke langit tempat segala ketenangan jiwa tercipta.

?Kota Bertuah negeri Melayu, Elok Melayu memakai adat, Sudah termasyur sejak dahulu, Budaya digelar tuk beradat.? Liriknya saja menegaskan bahwa anak-anak muda yang tergabung dalam grup musik yang lebih populer di luar negeri itu, mencintai tradisi ibunya, yakni budaya Melayu. Apalagi, Riau Rhythm Chambers Indonesia mengusung visi untuk mengkombain musik tradisi dengan dengan musik modern.
 
Fungsi Sosial Karya Sastra
Minggu, 16 Mai 2010
 
 

Realitas sosial yang kita hadapi sering tidak sesuai dengan harapan orang kebanyakan orang.
 
Ketidaksesuaian realitas dengan harapan cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan rasa ketidakpuasan itu mendorong orang untuk melakukan tindakan yang bersifat kontra terhadap realitas, misalnya dengan melakukan demonstasi kepada para pemimpin, penguasa, pejabat, anggota dewan, dan manajemen perusahaan. Bahkan ada teori yang menyatakan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa cenderung menyimpang dari ketentuan yang berlaku akibat syahwat kekuasaan sering sulit untuk dikendalikan.

 

Berita Lainnya

Kesempatan Promosikan Budaya Melayu
Minggu, 22 Agustus 2010
 
 

JAKARTA – Momen Hari Ulang Tahun (HUT) Taman Mini Indonesia Indah (TMII) ke-35 betul-betul dimanfaatkan Anjungan Riau untuk menyuguhkan kekhasan budaya daerah yang dimilikinya. Provinsi yang dikenal sebutan Lancang Kuning tersebut pada Ahad, (18/4) bertempat di Anjungan Riau TMII, menyuguhkan berbagai kesenian bernuansa Melayu yang menjadi kebangganan masyarakat Riau, seperti tari tradisional, musik, serta berbagai kerajinan tangan yang berasal dari Riau.

 
Hang Kafrawi
Senin, 3 Mai 2010
 
 Sastrawan dan Teaterawan

Hang Kafrawi lahir di Teluk Belitung, Bengkalis, 22 Maret 1974, dari orang tua Jamil Nur dan Azizah. Menamatkan S1 di Fakultas Sastra Unilak Jurusan Sastra Indonesia. S2 di selesaikannya di Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jurusan Penciptaan Teater tahun 2005.

 
Griven H. Putera
Senin, 26 April 2010
 
 

Nama lengkap  : H. Griven Herrie Putera, M.Ag
Nama Pena  : Griven H. Putera
Jenis Kelamin   : Laki-laki
Tempat/tgl lahir : Rantaubaru/ 28 Juli 1976
Agama    : Islam
Negeri Asal (suku) : Rantaubaru (Melayu Riau)
Status    : Sudah Menikah
Pendidikan   :

  • SD Negeri 003 Rantaubaru (1982 - 1988)
  • MTS/MA Pondok Pesantren Daarun Nahdhah Thawalib Bangkinang (1988 - 1995)
  • S1 Fakultas Dakwah IAIN Susqa Pekanbaru (1995 - 2000)
  • S2  Pasca Sarjana IAIN Susqa Pekanbaru (2002 - 2004)

Alamat :   Rumah :Perumahan Astakarya Panam, blok k.21
Kantor: - Kantor Kemenag Kab. Pelalawan, Komplek perkantoran Bhakti  Praja Pangkalan Kerinci
Sekretariat Dewan Kesenian Riau, (gedung Purna MTQ) jalan Sudirman- Pekanbaru

 
Yayasan Sagang
Minggu, 3 Januari 2010
 
 

Yayasan Sagang

 
Bekantan di Tiang Gantungan
Selasa, 29 Desember 2009
 
 

MUNZIR tak beristri lagi. Lelaki tiga puluh lima tahun itu juga bukan duda. Dia adalah lelaki hitam legam, berkumis, dan bertubuh tambun. Lelaki yang nampak paruh baya itu menjadi lajang dalam pengembaraan. Kebiasaanya yang aneh adalah kerap bercerita ini-itu pada anaknya. Dalam sehari Munazir bercerita satu cerita pada anak lelakinya. Kadang bocah gagah itu tertidur di tengah-tengah cerita. Jika demikian cerita akan dilanjutkan keesokan harinya. Cerita bersambung. Tak heran, bocah kecilnya itu kerap mengangguk dan geleng-geleng kepala sendiri mengikuti jalan ceritanya. Cerita yang disodorkan bervariasi : tentang akhlak, strata sosial, moral, kemanusiaan, kepedulian pada sesama, pemerintahan, agama, dan lingkungan. Dalam setiap ceritanya, kapasitas dan komposisinya komplit.

 




  BerandaTokoh Melayu Riau Masih Hidup

2009
Senin
06
April
Seniman dan Budayawan Terbaik Pilihan Sagang 1999
1795
 
Hasan Junus

Lahir di Penyengat, Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau pada 12 Januari 1941. Pada pertengahan tahun 1960-an, selepas sekolah tingkat atas di Penyengat, Tanjungpinang, Hasan Junus merantau ke Bandung, Jawa Barat, untuk menuntut ilmu di Jurusan Sejarah dan Antropologi, Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran Bandung ? namun tidak selesai. Keturunan langsung dari pujangga Raja Ali Haji ini juga pernah belajar di Jurusan Bahasa Timur, Institute for Foreign Languages, dan memperdalam bahasa-bahasa Eropa di berbagai balai kursus dan perkumpulan budaya.

Sekembali dari perantauan, HJ ? dia biasa disapa begitu ? balik kampung ke Tanjungpinang, dan menjadi guru di SMP, SMA, SMEA, MTs di Tanjungbatu, selain terus menulis. Tahun 1981 ia hijrah dan menetap di Pekanbaru. Di ibukota Provinsi Riau ini selain terus menulis, ia kembali mengajar di SMA dan perguruan tinggi. Tahun 1983?1986 ia mengajar sebagai dosen luar biasa di Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Islam Riau (PSBSI FKIP UIR), setelah itu mengajar Sastra Bandingan dan Bahasan Naskah Melayu di Fakultas Sastra, Universitas Lancang Kuning, Pekanbaru hingga tahun 1989.
Kronologis Hidup dan Kesenimanan
1941
12 Januari, lahir di pulau Penyengat-sebuah pulau kecil bersejerah Tanjung Pinang.
1960-1960 Masuk Sekolah Rakyat, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas di kampung kelahirannya pulau Penyengat dan Tanjung Pinang.
1960
  • Melanjutkan pendidikan di Bandung, mengambil Jurusan Sejarah dan Antropologi pada Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, serta belajar pula pada Jurusan Bahasa Timur, (Jepang) pada Institut for Foreign Langunges.
  • Pendidikan di Peguruan Tinggi tak satu pun diselesaikan Hasan Junus. Sebelum tahun 1960-an sampai sekarang Hasan Junus aktif menulis esei, artikel, cerita pendek, dan terjemahan dibeberapa harian nasional.
1975 Menjadi guru Sekolah Lanjutan Atas di Tanjung Batu Kundur, Ri?u.
1979 Bersama Iskandar Leo dan Eddy Mauntu menerbitkan karaya ?Jelaga?.
1981 Atas permintaan Ibrahim Sattah, Hasan Junus pun pindah ke Pekanbaru dan meninggalkan pekerjaannya sebagai guru di Kundur. Di Pekanbaru pulalah Hasan Junus menikah dengan Tengku Arfah dan sampai sekarang hidup bahagia tinggal di Pekanbaru.
1982
Salah satu karyanya masuk dalam bagian Anthologi of Asean Literature of Indonesia.
1986 Terakhir sebagai tenaga pengajar luar biasa pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Riau. beberapa tahun kemudian hingga tahun 1998 mengjar Sastra Bandingan dan Bahasan Naskah Melayu pada Fakultas Sastra Universitas Lancang Kuning Pekanbaru.
1988 Tulisan Hasan Junus berjudul Raja Ali Haji - Budayawan di Gerbang abad XX diterbitkan oleh UIR Press.
1992 Novelet ?Burung Tiung Sri Gading? diterbitkan oleh Penerbit Pucuk Rebung. Menjadi Penasehat Majalah Sastra Menyimak yang diterbitkan Yayasan membaca sampai 1994.
1993 Duduk sebagai pengurus Komite Sastra Dewan Kesenian Riau periode pertama, Menulis ?Peta Sastra Daerah Riau? dikerjakan bersama Ediruslan Pe Amanriza.
1995 Salah satu cerita pendek Hasan Junus disertakan dalam antologi pemenang dan unggulan Sayembara Kincir Emas Paradoks Kilas Balik. Cerpen ?Pengantin Boneka? diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Jeanette Lingard dan diterbitkan dalam Diverse Lives - Contemporary Stories form Indonesia (Oxford University Press).
1996
  • Karya Mencari Junjungan Buih Karya Sastra di Riau dan Furu?al-Makmur diterbitkan oleh PPBKM Universitas Riau.
  • Karya Furu?al-Makmur (Artefak) diterbitkan oleh PPBKM Universitas Riau.
  • Terpilih sebagai penerima Anugrah Sagang atas bukunya Raja Ali Haji Budayawan di Gerbang abad XX.
1998
  • Bersama Elmustian Rahman dan Al-azhar menerbitkan berkala Sastra Suara. Anggota redaksi dan kemudian menjadi pimpinan redaksi majalah budaya ?Sagang? sampai sekarang.
  • Karya kumpulan cerita pendek Tiada Bermimpi Lagi diterbitkan oleh Unri Press.
  • Kumpulan cerita pendek Sekumtum Mawar Untuk Emily dan Lima Betas cerita Iainnya oleh unri Press.
  • Cakap-Cakap Rampai-Rampai dan pada Masa ini Sukar Dicari.
1999
  • Seniman-Budayawan pilihan Sagang:
  • Karya Buku Dan Saudagar Bodoh dan Fakir Yang Pintar Menuju Sastra yang Mendunia.
  • Sampai sekarang Hasan Junus tetap produktif menulis esei, cerpen, artikel sastra budaya dan tulisan kreatif lainnya, diantaranya sebagai penulis tetap halaman sastra budaya ?Sagang? rubrik
  • Cakap-Cakap Rampai-Rampai dan kemudian diganti dengan halaman ?Budaya? rubrik Rampai.
  • Selain itu Hasan Junus menulis cerita pendek terjemahan.
2001
  • Terbit buku kumpulan cerita sandiwara yang berjudul Tiga Cerita Sandiwara Melayu, diterbitkan oleh Cindai Wangi Publishing House, Batam.

 

Bookmark (Ctrl+D)
     Bagikan


Komentar

Berikan Komentar

Nama:


E-mail:


Judul:


Silahkan tulis komentar anda :


  Connect  5 Users Online
Sagang Online 2009 Redaksi Gedung Riau Pos Jl. HR Soebrantas Km 10,5 Panam Pekanbaru-Riau