Sabtu, 11 September 2010 WIB
Harian Riau Pos
Bubu Award V.6
Rida K Limasi

  Kolom Budaya Riau Pos Ahad          + Index

2010
Minggu
29
Agustus
Bengkel Sastra
Oleh : Marhalim Zaini 

Seorang sobat Xpresi yang gemar menulis sastra, mengajukan pertanyaan menarik pada saya via email begini, “Boleh tidak buat cerpen dengan bahasa daerah total atau lebih banyak menggunakan bahasa daerah?”

 

+ Lainnya...

Sastra dan Rasa Cinta pada Tuhan
Minggu, 22 Agustus 2010
 
 Bengkel Sastra

Ada sajadah panjang terbentang
Dari kaki buaian
Sampai ke tepi kuburan hamba
Kuburan hamba bila mati


Masih ingatkah adik-adik dengan cuplikan di atas ? Itu baris-baris lirik dari sebuah lagu yang dipopulerkan oleh kelompok musik legendaris, Bimbo, berjudul “Sajadah Panjang.” Tahukah adik-adik, bahwa lirik lagu itu adalah bait pertama (dari 4 bait) puisi karya Taufiq Ismail ?

 
Menulis Cerpen, Jadinya Novel
Minggu, 27 Juni 2010
 
 

SALAH seorang anggota Sekolah Menulis Paragraf (SMP) yang saya (dan beberapa kawan penulis Riau) gerakkan, sering tak bisa menulis cerpen yang “standar.” Selalu saja, cerpen yang ia tulis, panjang-panjang. Memang, kata “standar” itu batasan-batasannya masih relatif. Setidaknya kita bolehlah bersepakat dengan sastrawan Amerika, Edgar Allan Poe, yang pernah bilang bahwa cerpen itu “dapat dibaca sekali duduk.”

 

2010
Minggu
29
Agustus
Oleh : Hasan Junus 
Alexis Zorba, seorang tokoh dalam novel karya sastrawan Yunani Nikos Kazantzakis berjudul Zorba The Greek terbitan tahun 1946 yang dibuat film tahun 1964 berkata tentang sinematografi seperti ini, ‘’Di dalam kepala manusia ada semacam bioskop bersuara.’’ Imajinasi atau film dalam kepala manusia itu selalu diputar ulang demi kesegaran yang senantiasa minta diulang. Dengan demikian orang dapat menandai secara jelas hubungan antara film dan sas­tra. Rangkaian benang penghubung di antara kedua sosok seni itu ialah cerita.
 

+ Lainnya...

Ari
Minggu, 22 Agustus 2010
 
 

Seorang yang sudah mapan selalu memandang dan mengatakan tentang para pendatang baru di bidangnya yang biasanya tentu saja lebih muda atau jauh lebih muda usianya dari dirinya dengan ungkapan yang bermuatan pejoratif. Seorang seniman mapan sering mengungkapkan tentang mereka yang baru datang itu sebagai seniman muda yang makna muda-nya bukan ditekankan pada usia saja, tapi lebih-lebih pada karya yang konon belum kokoh. Rampai sekali ini akan melihat peristiwa tersebut dengan sudut-pandang yang paling dekat dengan kebenaran karena karya seni sejati tak ada hubungannya dengan usia kreatornya. Usia hanyalah angka-angka.

 
Menyimak, Suara, Sagang, dan…
 
 

KETIKA TIJ yaitu Taufik Ikram Jamil dan Ion yakni Mafirion pada bulan Oktober 1992 mengajak saya ikut menyelenggarakan media sastra tiga bulanan Menyimak yang nomor perdananya tercatat 28 Oktober 1992–29 Januari 1993 saya segera menjawab ya biarpun berhonorarium kecil. Media terbit sampai delapan terbitan dengan nomor terakhir tercatat 28 Juli 1994–28 Oktober 1994.

 

2010
Minggu
29
Agustus
Oleh : Yusmar Yusuf 
“Panser terakhir telah pergi, tetapi debu jejaknya melekat pada daun-daun buah badam, pir, pohon ara, mawar, rambatan anggur di rambut dan wajahku”. Inilah sekalung ungkap Nelofer Pazira, seorang gadis berusia 16 tahun di tanah Afganistan yang berdebu, berserak darah. Nyawa dan waktu tiada harga di tanah ini. Jam seakan tak pernah berdetak. Dan Pazira pun terbang ke Kanada bersama sang ayah. Menghidu tanah baru. Sebuah dunia yang serba asing dan menyergah kemajuan tertata. Di tanah baru ini sistem kesejahteraan sosial dan jaminan kesehatan, tersaji molek. Tiada sisi yang koyak.
 

+ Lainnya...

Agama Merdeka
Minggu, 22 Agustus 2010
 
 

Merdeka, hasil sulingan dari peristiwa bertemu dan mengelak. Pertemuan atau perjumpaan saban waktu memutikkan jemu. Dan kejemuan itu membangun dengki, khianat, menindas, dan ujungnya, melawan. Sepanjang pertemuan itulah pribumi membangun selaan dalam modus ‘tabiat mengelak’. Sebab, sepanjang ‘pertemuan’ atau ‘perjumpaan’ itu, para pribumi tak mempunyai akses menatap matahari. Alias tiada asa. Inilah kisah pertemuan dengan makhluk barat yang datang ke kepulauan Melayu sebagai peniaga rempah-rempah. Perjumpaan ini yang diperluas menjadi penjajahan.

 
Tuhan, Negara
Minggu, 27 Juni 2010
 
 
TUHAN memperkenalkan diri-Nya secara tidak selesai kepada manusia. Selanjutnya, tugas manusialah yang menamatkannya. Tuhan itu maha hadir. Hadir di setiap kala dan ruang. Maka, setiap orang yang ingin ‘bersua’ Tuhan’, dia hendaklah menghargai ‘kehadiran demi kehadiran. Dalam senggau warna ros mempesona, Tuhan ‘menghadir’. Dalam tugas perkembangan seorang bayi menuju masa kanak-kanak, Tuhan hadir, di sebatang sungai Tuhan hadir, di puncak gunung, di tengah samudera, Tuhan menghadir dan senantiasa hadir (present).
 

2010
Selasa
6
Juli
Oleh Bersihar Lubis 

MENGEMBARA di negeri asing selama 40 tahun, tak mengurangi kecintaan Asahan Alham kepada Indonesia. Walaupun adik kandung DN Aidit, gembong utama mantan PKI itu telah menetap di Belanda sejak 1983, dan menjadi warga negara ‘’negeri tulip” sana, ia masih sempat mengoleksi hampir 5.000 peribahasa Nusantara. Memang, bukan pekerjaan setahun dua tahun.

 

+ Lainnya...

Sumber Berharga Membangun Cerita Bernuansa Lokalitas
Selasa, 6 Juli 2010
 
 Etnosentrisme dalam Sastra Riau

Etnosentrisme mengandung pengertian paham memandang budaya orang lain dengan ukuran budaya sendiri. Dalam kajian antropologi sering pemaknaan etnosentrisme bertendensi negatif yang sering dijadikan sumber permasalahan dalam proses hidup berkelompok. Lebih jauh muncul kefanatikan terhadap kelompok yang kita ikuti. Memandang kelompok lain dengan ukuran dan persepsi ukuran kita.

 
”Tuntut Merdeka”, ”Dewan Kemaruk”, dan ”Telatah Wak Atan”
Rabu, 16 Juni 2010
 
 Ketika Suman Hs Modern ”Menjentik dan Menggelitik”

/1/

Dalam peta perjalanan sastra Riau, Mosthamir Thalib duduk di kursi tersendiri sebagai sastrawan, pekerja seni, sekaligus wartawan. Menurut saya, penerima Anugerah Adinegoro 1998 dari PWI Pusat ini memiliki karakter tersendiri dalam menghidangkan karya-karya imajinatifnya kepada pembaca. Beliau mempunyai talenta kejeniusan linguistik yang sangat lokal. Dengan ke-Melayu-annya dalam karya kreatif, suami Dewi Kamar ini mampu menyampaikan tumpukan gagasan dan diterima di berbagai kalangan.  


 

   Budaya Riau Pos


   53

Tanggal Judul Tulisan Hits
29 Agustus 2010 Sastra Berbahasa Daerah, Bolehkah? 178
22 Agustus 2010 Sastra dan Rasa Cinta pada Tuhan 235
27 Juni 2010 Menulis Cerpen, Jadinya Novel 662
24 Juni 2010 Membaca Dekonstruksi Machbeth 467
13 Juni 2010 Bolehkah Perasaan Penulis Masuk dalam Tulisan? 533
6 Juni 2010 Puisi Pendek dan Puisi Panjang 2283
30 Mai 2010 Puisi yang Baik adalah Puisi yang Jujur 1266
16 Mai 2010 Bagaimana Memotivasi Diri untuk Terus Menulis? 345
25 April 2010 Masih Tentang Sudut Pandang dalam Cerita 1325
1 April 2010 Memainkan Sudut Pandang dalam Cerita 665
11 April 2010 9 Trik Menembus Media Massa (Bagian 4) 470
4 April 2010 9 Trik Menembus Media Massa (Bagian-3) 458
28 Maret 2010 9 Trik Menembus Media Massa (Bagian-2) 476
21 Maret 2010 9 Trik Menembus Media Massa (Bagian-1) 601
14 Maret 2010 Sastra Serius dan Sastra Populer 851
7 Maret 2010 Amanat dan Moral dalam Sastra 1344
28 Februari 2010 Cinta Sastra = Cinta Buku 592
21 Februari 2010 Tentang Latar Cerita dalam Fiksi 1236
14 Februari 2010 Mencatat Pengalaman Puitik 477
12 Februari 2010 Apa Guna Karya Sastra Bagi Kita? 627
31 Januari 2010 Berikan Surprise pada Pembaca 473
24 Januari 2010 Membangkitkan Suspense Pembaca 443
17 Januari 2010 Membangun Konflik yang Dramatik 889
10 Januari 2010 Apresiasi Sastra Riau 764
3 Januari 2010 Langit Kelabu: Sawit, Banjir dan Cinta Segi Tiga 1034
27 Desember 2009 Ibu Pelestari Kebudayaan 637
20 Desember 2009 Puisi Tak Menjelaskan Kemutlakan, tapi Menegaskan Keasingan 754
14 Desember 2009 Sekolah Menulis Paragraf Buka Pendaftaran Angkatan II 796
14 Desember 2009 Inferioritas Anak Negeri dalam ?Pipa Air Mata? dan ?Jalan Sumur Mati? 457
13 Desember 2009 Baca Puisi Nuansa Empat Zaman 851
  Connect  5 Users Online
Sagang Online 2009 Redaksi Gedung Riau Pos Jl. HR Soebrantas Km 10,5 Panam Pekanbaru-Riau