Selasa,21 Agustus 2018 | Ats-tsulatsa' 9 Zulhijjah 1439


Beranda » Kolom Riau Pos » Yusmar Yusuf » Ibrani Nuju Rose?

Ibrani Nuju Rose?

Yusmar Yusuf | Minggu, 03 Juni 2018 11:00 WIB

Andalusia bak kebun menawan. Bahasa Arab lah rosenya. Bahasa ini menerjang ke seluruh sendi kehidupan orang-orang yang bermastautin di tanah Andalusia. Terjangan utamanya  berawal dari bahasa puisi. Dari sini, muncul postulat tajam mengenai kekuatan bahasa; bila hendak menjelitakan bahasa, jadikan dia bahasa puisi. Jika teruji dan bisa menjadi alat utama ekpresi puisi;  kuat pula lambungannya, maka bahasa itu adalah bahasa rose (bahasa mawar, atau mawarnya bahasa). Yang hidup di Andalusia, mencakup kawasan urban Sevila, Murcia, Granada, Cordoba, Almeria, termasuk pula Toledo sepanjang sungai Tagus dengan tebing yang menembok kota, sebagai pusat junjungan kaum puak Visigoth, bukan saja bangsa Iberia, bangsa Arab, tetapi juga bangsa Yahudi yang menjadi muai dan kian dipersolek dengan kedatangan Islam ke tanah ini. Yahudi kian molek dalam interaksi yang bak “bulan mengambang”  dengan Islam dan tradisi Kristen Visigoth.

Orang-orang Yahudi begitu iri dengan kejelitaan bahasa Arab yang kuat dalam jahitan kata lewat makna berdimensi ganda (meta tangue, supra ambigu), melambung dan mendongak riang ke aras langit, menusuk jeluk ke pangkal bumi, melandai sekaligus menikam samudera dan menyisir liuk sungai Guadalquivir (al-Wadi al-Kabir). Sementara bahasa Ibrani sebagai bahasa ibu bagi orang-orang Yahudi di Andalusia, hanyalah sebatas bahasa peribadatan. Tak pernah menjadi bahasa puisi yang benar-benar hidup, dalam lejang waktu yang melonjong. Dia tak lebih dari bahasa peribadatan, bahasa agama dan bahasa doa. Dalam jentera kekuatan bahasa, Ibrani tak lebih dari bahasa kelas dua. Bukan seperti bahasa Arab yang menerjang segala penjuru; bahasa dakwah, bahasa ilmu pengetahuan, bahasa pergaulan dan perdagangan, bahasa ekspresi seni sastra tinggi. Namun, berkat Samuel yang diangkat sebagai Nagid (ketua komunitas Yahudi di Andalusia); bahasa Ibrani menanjak tinggi; “sesuatu yang membuat bahasa Ibrani menjadi benar-benar hebat adalah karena bahasa ini dapat juga digunakan untuk menulis puisi mengenai topik-topik  yang tidak berkaitan dengan agama, tetapi juga mengenai tema-tema yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran agama”.

Lalu, ada tokoh luar Yahudi bernama Dunash di Cordoba, yang melihat potensi bahasa Ibrani untuk meninggi. Begini ujar Dunash; “jalan pertama yang harus dilakukan agar bahasa Ibrani dapat dipakai di luar sinagoge adalah mengemasnya dalam bentuk dan gaya bahasa Arab”. Dengan cara ini, sejatinya Dunash telah melakukan revolusi awal bahasa Ibrani menuju bahasa ekspresi persuratan. Tokoh Samuel (Ibrani) atau dalam bahasa Arab dikenal sebagai Ismail, adalah tokoh penting dalam komunitas Yahudi di Andalusia masa kekhalifahan Umayyah, yang terobsesi melontarkan bahasa Ibrani masuk dalam rezim bahasa sastra dari Andalusia; sebagai satu dari “stupor mundi” (keajaiban dunia) dalam genre bahasa. Sebelumnya, bahasa ini hanya sebagai alat pengurai tangis dalam doa, sebagai rapalan pentateukh, sebagai alat pendorong deraian air mata di dada tembok (wakil dari tembok David).

Gempita Samuel dari Andalusia ini diperkeras lagi melalui “ketokohan purwa” semacam “arke-tipe” David yang menjadi idaman kolektif orang Yahudi Andalusia. Mungkin pula semacam figur imajinatif (bak Hangtuah dalam tradisi Melayu -?-); yang kemudian menjadi pendorong utama bagi Samuel, dan mengelopak bak kuntum mekar; sebagai orang besar dengan jabatan tertinggi Wazir (Perdana Menteri) Granada. Sebelumnya, dia adalah seorang pedagang kaya dan makmur di Malaga. Kisah ini masuk dalam korpus besar hagiografi seputar peralihan dari saudagar menak menjadi seorang Wazir di negeri berpanorama cerah yang selalu diliputi salju itu (sesuai dengan julukan dan sapaan negeri itu sebagai Sierra Nevada atau Pegunungan Salju). Orang-orang Yahudi di Granada menjadi satu contoh harmoni tentang kehidupan nan ragam (pulralisme dan toleransi). Demikian pula pemuliaan bahasa Ibrani memasuki masa emas yang menerobos mitos yang  keluar dari “bahasa gua”; yang dikepung oleh sejuk Sinagoge selama ini. Dan orang-orang Yahudi di Granada ini memperoleh sapaan hangat dari kaum Arab dengan sapaan Gharnata al-Yahud atau “Granada orang Yahudi”.

Tak sekedar bahasa, komunitas Yahudi ini mendiami kawasan nan molek panoramanya. Dia menjadi kawasan puitis. Penggambaran puitis itu terjelma dari julukan “Benteng Merah” (al-Hamra atau al-Qala al-Hamra). Kawasan itu adalah perbukitan di atas lembah sungai, suatu kawasan yang mempesona; di satu sisi menjulang ke atas bak batu karang menungkai, sebuah benteng alami yang menggerunkan. Di atasnya berdiri sebuah kastil kuno. Bangunan dengan arsitektur unik ini amat kukuh dan ditandai oleh tanah liat merah mencolok (terrakota pekat), sebagai bahan utama pembuatan kastil. Itulah al-Hamra (Hisn al-Hamra; istana merah). Kawasan ini sekilas bak tanah liar, namun dia adalah jelmaan tanah rose yang terbiar dan meliar, namun menakjubkan. Sesuatu yang liar, ketika mengalami domestikasi, dia adalah sebuah cerita panjang yang tiada henti untuk ditularkan dari generasi ke generasi, dari satu bangsa ke bangsa lain, dalam waktu yang berjulur-julur.

Ibrani dan Yahudi itu satu entitas yang ada di muka bumi. Di sini Yahudi, bukan sebagai teks. Namun wajah dari sfera-sosial. Sebagai wajah kecantikan sosial. Yahudi sebagai teks, termaktub di dalam kitab-kitab suci dengan ide dan wacana yang menggeram, mengenas dan serba culas. Teks ini juga diikat oleh konteks yang hendak diujarkan kepada dunia, dengan meminjam Yahudi sebagai gejala simbolik. Sesuatu yang simbolik, adalah pinjaman untuk sebuah salinan, untuk sebuah renungan dan untuk diiktibar dalam jeda pendek, jeda panjang sekalipun. Dia bukanlah alamat referensial yang menunjuk ke suatu rumpun etnik, bukan ajsam (tungal; jisim) atau benda-benda material, namun lebih sarat ke bentuk ruhani (sosok spiritual); tabiat, pembawaan. Mereka yang bertutur bahasa Ibrani pada sebuah masa, di era Umayyah Andalusia pernah berlari-lari gembira dan bercengkerama riang dan ria dengan sesama umat manusia. Kebun rose yang sirna itu, memang menungkai rindu untuk dihidu.***

comments powered by Disqus