Selasa,21 Agustus 2018 | Ats-tsulatsa' 9 Zulhijjah 1439


Beranda » Kolom Riau Pos » Yusmar Yusuf » Jentera Puasa

Jentera Puasa

Yusmar Yusuf | Minggu, 27 Mei 2018 11:20 WIB

Hidup ini, kata orang bijak, adalah antrean panjang menuju kematian. Selama antrean berlangsung, setiap orang melakukan persuaan demi persuaan, persapaan, gelak-tawa, rintih meringis, berbagi kisah sendu, dan tak sedikit pula ‘mabuk madu’ dalam cerita bahagia dan kembarannya suka cita. Semasa kecil saya di kampung, kami berbondong-bondong ke kuburan, untuk mengantar “sebuah isterahat yang tak terhingga”. Arak-arakan dalam nada pilu dan sedih, namun dengan ikhlas melepas jenazah saudara, jenazah orang kampung, atau bapa ibu guru, aki, nenek; itulah ujung dari kehidupan. Pada sebuah liang, jasad bersatu dan mengurai dalam waktu.

“Kau kirim bulan, agar ku kirim matahari”, ujar seorang teman lama. Inilah teman diskusi saya dalam kelana dan pencarian, sekaligus mengkritisi kehidupan, termasuk pula mengkritisi ‘langit”. Duhai langit nan tinggi, terlalu banyak endapan misteri yang terkandung di bawahnya. Tak cukup ilmu, untuk menukil dan mencungkil. Dan Tuhan tidak pernah tunduk pada ilmu. Firman itu sendiri satu dari sekian banyak citra efek Ilahiah yang dikopulasi menjadi kata-kata. Ya, kata-kata yang transenden. Berada jauh tinggi di Lauh Mahfuz (“iPad Allah”). Dan kita menerima copy kata-kata itu dalam makna dan konstruksi bahasa manusia. Hanya se per sekian dari “samudera kata” transenden yang terhidu dan termaknai. Selebihnya misteri. Mushaf Usmaniyah, memang membantu dalam kodifikasi, walau tak sedikit pula hirauan mengenai kisah dan dimensi ‘antologi surat-surat’ yang terhimpun. 

Pada bulan yang memeluk senyap, merangkul diam ini, tak sedikit pula kehebohan yang muncul; demi mera’ikan bulan mubaraq. Simbol-simbol kapitalisme sejak mall dan superstore di kota-kota besar, pusanika dan pusat hiburan berlomba-lomba seolah-olah sedang demam “masuk Islam”. Ya, penanda-penanda dihadirkan sejak dari arsitektur elementer; bidang, garis dan warna, seakan menglami hipnotika tematis. Pelayan dengan busana menutup seluruh tubuh dan bertudung kepala, musik penghias ballroom dan ruang fassade juga berganti dengan musik rohani. Terjadi persemendaan ‘mutualistis’ yang saling menguntungkan, walau sebenarnya hanya sepihak; pusat simbolik kapitalisme diserbu oleh keranggian dan kehanifan sejuk serba islami. Dan islam menjalani masa-masa promosi gratis, walau dengan catatan kecil dan kritis dari pihak kita (; strategi pemasaran).

Dan gemuruh itu diperpanjang lagi oleh serangkaian perjalanan para politisi, mereka yang bersebahat dengan kekuasaan. Apalagi, tahun 2017 ,tak sekedar angka, di situ ada sebuah ‘penanda’ mengenai suksesi di kota ini, ada wajah baru, ada pula calon ‘petahana’, dan semua orang punya hak dan keiginan memasang azam untuk maju menjadi ‘kalifah politik’ di kota ini. Musim pemilihan langsung bakal tiba, dan setiap orang, setiap tokoh mengepung wajah kota dengan kaidah dan singgitnya masing-masing; ada yang menjadi pendakwah di televisi, ada yang bersafari konvensional ke pusat-pusat kapitalisme, termasuk ke ibukota kabupaten, dengan alasan silaturrahim. Ada pula yang bersafari dari kampung ke kampung seperti ‘juru khitan’ masa lalu, dan menginap di rumah penduduk miskin. Ada yang menancapkan baliho dengan gambar diri sepanjang jalan protokol dan jalur lintas antar provinsi dengan gaya ‘presidential look’. Yang paling murah tentu mengirim SMS ucapan selamat menyambut puasa, memberi ucapakan di slot-slot kecil acara televisi, radio dan koran. Ada yang memberi tausiyah ramadhan di koran-koran (mendadak mubaligh), mungkin beberapa saat lagi akan muncul ‘lagu dan gaya” yang tak kurang groovy atau malah selekeh sebagai inspirasi. Hehehe …

Pada skala Riau? Riau yang tengah menjalani Ramadhan adalah Riau yang berderap dengan serangkaian perjumpaan dan persimpangan pemikiran. Persimpangan kehendak untuk mewarnai negeri di masa depan. Setiap tokoh yang merasa layak maju dalam pilkada tahun depan, selain menyerbu ke kanal-kanal partai pengusung, yang paling mustahak dilakukan pada sempena Ramadhan ini, adalah menyerbu hati, menawan hati rakyat pemilik suara. Membangun keberpihakan kepada rakyat kecil, kepada kampung-kampung, sekaligus membawa sebarisan agenda; termasuk menghadirkan ustadz dan pendakwah berwibawa dari ibukota atau malah dari Palestina. Ini tak lebih dari fenomena konvoi persuaan. Bukan persuaan substansial.

Riau dan rakyat Riau mendoakan, kian di sebuah masa, di masa depan yang tak seberapa jauh itu, di antara mereka yang terpilih menjadi teraju di negeri ini, tetaplah istiqamah dengan azam yang ditanam selama bulan puasa yang terik dan menjulang hawa panas ini. Perjumpaan dan persuaan dengan beragam kaum selama bulan puasa ini, menjadi sesuatu yang mengikat akal budi dan mata fikir para pemimpin terpilih di masa depan. Ada yang muda, ada yang mengaku berpengalaman, ada pula yang mengaku berprestasi, bersih, bijak bestari. Semua tagline itu datangnya sepihak dari sang penggoda. Dan rakyat pun tidak mudah tergoda dengan tampilan serba wah dan “seksi’ para calon yang semestinya berangkulan dengan senyap, menyapa hati kaum miskin dan memajeliskan anak yatim. Sudah sekian lama, Riau menyia-nyiakan usianya dengan perbuatan aniaya dan sia-sia para pemimpinnya. Rakyat rindu dengan sesuatu yang berubah, beranjak lebih baik dan sejahtera, senantiasa hidup berbahagia dengan ragam kaum yang menjadi warga tanah ini. Ketika itulah kita tak perlu membangga-banggakan asal usul keturunan. Kita bermuasal dari satu punggur dan tunas manusia bernama Adam. Di masa puasa ini pula kita perlu mengungkai mengenai hidup sebagai percikan dari rangkaian panjang antren menuju kematian. Dan para penguasa di masa depan, tak bisa seenak badan menyempalkan kehendaknya bahwa negara hanya dijadikan semacam “agen tunggal penafsir kebenaran”, ujar Mohamad Sobary. Bulan ini, tempat kita mengucah diam, senyap dan merenung tentang kehilangan. Hadir kita pada hari ini, tak lebih dari peristiwa menyongsong kehilangan. Dan kehilangan, sejatinya adalah “kehadiran abadi”. Selamat berpuasa…***

comments powered by Disqus