Sabtu,15 Desember 2018 | As-Sabt 6 Rabiul Akhir 1440


Beranda » Kolom Riau Pos » Yusmar Yusuf » Lady Gaga

Lady Gaga

Yusmar Yusuf | Minggu, 01 April 2018 09:20 WIB

Negara dan bangsa ini jadi penakut, ketika berdepan dengan seseorang. Negara semacam kehilangan akal sehat. Masyarakat bangsa pun seakan kehilangan prinsip hidup: “anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu”. Kenapa kita tak bisa memerankan diri sebagai kafilah yang tetap berlalu itu? Ketika kita tak sanggup memerankan tugas-tugas kekhalifahan sesungguhnya.

Berarti bangsa ini mudah diserang gamang sosial dan gamang massal ketika diperhadapkan dengan sejenis orang yang mengaku-ngaku sebagai ‘biangnya monster’. Padahal monster itu sendiri tiada. Hanya ‘makhluk ciptaan’ pemikiran manusia. Gaga, telah berhasil membentuk dirinya sebagai ‘monster’ bagi dunia-dunia yang lemah. Dunia atau sudut bumi yang tak ‘berjiwa’. Sudut angin yang kosong renjana. Gaga, ialah produk waktu dan sensasi. Hanya sejumlah permainan ‘wacana’, permainan trending sesaat, penjumlahan sekian banyak imajinasi manusia yang berperan sebagai makhluk imajinasi Tuhan muka bumi.

Ketika memikul tugas-tugas imajinatif itu lah, setiap orang menuai impian imajinatifnya masing-masing, yang kemudian diseruakkan menjadi produk fikiran dan produk kreatif. Termasuk dalam ihwal ini adalah produksi seni. Dan produk kreatif yang berbasis pada kebebasan berekspresi ini, bertemu urat dengan kenyataan sosiologik yang dihidang oleh sebuah negara bernama Amerika. Dan Amerika menyambut secara gegap gempita, ihwal tindakan kreatif warganya sebagai bagian dari titiwangsa pencapaian gemilang yang telah menjadi alas dasar pemikiran Amerika [Amway].

Walhasil, Lady Gaga sebagai sosok, ialah wakil dari kepentingan dan sekaligus hasil dari saringan ketat dalam sejumlah kompetisi gaya Amerika yang dilepas ke tengah pasar terbuka dan lentur. Lady gaga, ialah produk pabrik massal ‘kebudayaan pop’ Amerika, yang sejatinya berposisi sebagai pengganti atau suksesor serangkaian bintang-bintang Pop sebelumnya seperti Michael Jackson, Witney Houston, Madonna, dan lainnya. Dan tali estafet itu tak boleh terputus sedikit pun. Sebab, ihwal ini sekaligus berbincang mengenai kehadiran negara dan bangsa Amerika di tengah dunia. Jika buhul dan estafet temali itu putus dan mengalami jeda, pada ketika itulah Amerika mempertontonkan kehilangannya.

Inilah yang dikenal dalam ilmu komunikasi sebagai ‘agenda setting’. Ihwal ini menjadi bagian nadi kehidupan cara Amerika, ketika mereka meletakkan diri sebagai pemimpin, bukan dipimpin. Ketika mereka menyebut diri sebagai sosok bangsa serba kampiun dan kemuncak dunia. Motto mereka “we are lead, not led”, menjadi kenyataan dalam sejumlah kehadiran, termasuk kehadiran dan menghadirkan Lady  Gaga.

Maka, ketika kita berteguh  menyatakan bahwa kebudayaan kita kuat dan ranggi, kenapa takut dengan kunjungan makhluk bernama Lady Gaga? Ketika itulah kita menguji keteguhan kebudayaan dan kekuatan iman kita. Malah, yang terkesan selama ini, kita adalah para penakut berdepan langsung dengan para setan. Pengalas bijak tradisi tua nusantara telah memaku kekuatan prinsip tentang hidup dan keberlangsungan hidup yang ditera dalam sejumlah “kata ibarat” atau pun bentuk lain yang selalu dikenal sebagai pepatah. Tentang prinsip dan keteguhan itu dapatlah kita meminjam pepatah tua Bugis: “De nalabu matanna essoe ri tenggana batarae (matahari tak akan pernah terbenam di tengah langit).

Bagaimanapun gempita kehidupan dengan sejumlah goncangan dan gegar, manusia tak bisa terombang-ambing lalu tenggelam dalam goncangan dan arus besar itu. Alias terpungas dan tenggelam lalu lenyap dalam perjalanan kehidupan. Kemampuan kita menerima arus besar dan deras dunia itu, sejatinya mendorong kita untuk mengapung dan berhanyut ria di atas kepungan air bandang, atau bah kah namanya, yang menghidang kekuatan massif arus air peradaban. Kita harus mampu berhanyut di dalam deras arus itu, tak malah tenggelam. Sebab, sejatinya kita terlahir sebagai pemimpin di atas bumi ini. Sekecil apa pun skala pemimpin itu. Termasuk pemimpin bagi keluarga dan komunitas, atau malah pemimpin bagi diri sendiri. Sedutan pepatah tua Bugis ini, paling tidak memberi ilham dan dorongan yang inspiratif kepada kita yang tengah berada di atas arung arus nan deras dalam kecipak banjir buana itu; “Narekkp sompe’kori wanuanna tauwe, aja’ mumaeklo’ mancaji ana’guru, ancaji ponggawako, namuani ponggana paramo’ muna” (pabila engkau berlayar di negeri, jangan menjadi anak buah, jadilah pemimpin, walau itu pemimpin perompak sekalipun).

Kehidupan ini adalah sejumlah “pemeriksaan” demi “pemeriksaan” yang dijalankan oleh manusia secara kritis. Tak perlu gamang dengan upaya dan ikhtiar “pemeriksaan” yang dilakukan, apakah oleh orang-orang cerdas kritis, atau malah oleh diri sendiri terhadap kehidupan, terhadap langit atau malah terhadap Tuhan sekalipun. Pemeriksaan kita terhadap muasal kejahatan misalnya. Apakah kejahatan memang diproduksi oleh Tuhan. Berarti Tuhan merupakan “sumber” kejahatan? Ooow... tunggu dulu. Padahal manusia sendiri yang melakukan kejahatan atas “pilihan bebas” yang dinisbahkan kepada dirinya ketika awal sejarah “drama kosmis” penciptaan. Tuhan itu sempurna. Yang melakukan kejahatan itu adalah manusia, di atas prinsip “pilihan bebas” ujar Augustine sang pengelana spiritual dari utara Afrika pada abad ke-4.

Sebuah buku yang bombastis (Tomorrow’s God, Our Greatest Spiritual Challange, 2004). Mengajak manusia untuk mencari Tuhan baru, karena Tuhan lama sudah tak relevan lagi (“We need a new God. The old God isn’t working anymore”). Tuhan yang dikenal selama ini (The Yesterday’s God) mengakibatkan anak manusia berhadap-hadapan satu sama lain bahkan sampai menimbulkan banyak korban. Tuhan di masa depan adalah Tuhan yang memberikan sinergitas kemanusiaan. Wah... ini jenis “pemeriksaan” yang teramat progresif pula. Dalam kaitan dengan “pemeriksaan” jenis ini, saya teringat dengan satu bait syair dari Gus Mus (Mustofa Bisri); “Engkau ini bagaimana, kau suruh aku berfikir, lalu kau bilang aku kafir”... 

Bibliographie du XX Siecle, Le Testament Philosophique, (Roger Graudy); Agama di abad XX ialah agama yang mampu mengutuhkan hubungan antara alam, manusia dan Tuhan. Bagi Graudy, Agama di abad XX adalah agama Islam, karena substansi dan inti ajaran Islam ialah hubungan simetri antara ketiga hal tersebut.  Graudy membuat pamflet agama di abad XX. Ia menilai agama-agama di Barat gagal membimbing ilmu pengetahuan sehingga terjadi distorsi antara alam, manusia dan Tuhan. Lalu... kenapa gamang dengan segala “aku-akuan” para monster yang bergentayangan dalam balutan seni pop atau kebudayaan populer yang serba instan? Atau malah dalam balutan teks-teks tinggi dengan narasi-narasi besar yang terhidang dalam novel  dan kajian ilmiah semacam “scenario writing” yang menantang? ***

comments powered by Disqus