Selasa,23 Oktober 2018 | Ats-tsulatsa' 12 Safar 1440


Beranda » Kolom Riau Pos » Yusmar Yusuf » Jaja Wajah

Jaja Wajah

Yusmar Yusuf | Minggu, 11 Maret 2018 10:41 WIB

Seperti tak percaya diri. Masing-masing orang sudah jual wajah jelang pemilihan Gubernur tahun ini. Garis-garis jalan diisi dengan warna monoton, terutama di persimpangan empat dan simpang tiga. Semua meniti gaya klaim dan klaim; berpengalaman, jujur, bersih, muda, berprestasi, dan jargon-jargon lelah lainnya. Inilah masa-masa produktif jaja wajah atau jaja paras. Pada saat yang sama pula, adalah masa yang paling menakutkan bagi rakyat; menikmati pemandangan monoton, kaku, satu warna dengan jargon-jargon yang mirip dan tak bertepi.

Jargon seakan kehilangan diksi atau pilihan kata. Semua merasa yang terbaik. Namun, bagi rakyat, semua yang mencuri start untuk tampil jaja wajah ini, sama sekali tak memperlihat kegemilangannya selama dia memimpin negeri apakah kota atau pun kabupaten. Klaim sepihak itu, sejatinya adalah cara-cara yang sama dilakukan oleh orang-orang kalah dan pecundang. Pada ketika ini pula para calon sibuk melakukan silaturahmi dengan alasan menyerap aspirasi rakyat [akar rumput] alias “belanja sejumlah daftar masalah (shopping list). Melakukan diskusi, seolah-olah selama ini, fungsi mata, fungsi telinga tidak pernah diperankan secara maksimal. Segala sesuatu berlangsung secara minimal.

Kesan teman-teman dekat yang pernah memperjuang sosok seseorang untuk menjadi penguasa; setelah berkuasa dan dikandang oleh sangkar emas, maka teman-teman lama yang menjadi tim penjaya itu sama sekali tak bisa menyentuh makhluk di sangkar emas itu. Si penguasa yang dulunya sibuk setor wajah, jaja paras, sama sekali tak tersentuh dan tak berkhabar lagi dengan massa rakyat yang diserapkan dulu aspirasinya. Dia tak lebih dari sebuah kenangan manis, namun sekaligus pahit. Rakyat berjarak dengan penguasa, dan penguasa menjalani fase-fase mabuk, dan mengeluarkan sifat asalinya. Rakyat sama sekali tak tersentuh dan tak mampu menyentuh kembali.

Mulai saat-saat begini, seluruh ruas jalan utama Riau dikepung oleh pagar baliho panjang dan raksasa. Semua berukuran gigantis dengan penampilan para sosialita yang bergaya serba kaget dan terkejut dengan sebagian besar menggunakan slogan-slogan jualan shampoo. Namun beda dengan jualan shampoo, iklan para calon ini berbunyi serba akan dan akan. Belum terbukti aias belaum ada satu pun bukti kejayaan. Sebaliknya, produk shampoo telah terbukti, karena dia sudah ada di pasaran sekian lama dan selalu membaharu. Yang mengejutkan lagi, tampilan para calon ini diramaikan lagi dengan figur-figur pendamping yang memanfaat momentum pilkada ini; terutama para calon legislatif dari hampir semua partai pengusung yang sejatinya juga tengah mencuri stast untuk bertarung pada tahun 2019 mendatang.

Tak sampai di situ, di ruang-ruang dalam (indoor), seperti  sejumlah rumah makan dan restoran, sudah awam segala macam ukuran kalender cetak, yang menempel di dinding, tampil dengan warna dan jejeran kalender yang sama. Semua minta perhatian masyarakat, minta kasihan rakyat, minta dipilih agar dijulang tinggi-tinggi. Namun setelah tiba di atas puncak, sama sekali tak teringat dengan dunia setor wajah dan jaja wajah yang sesungguhnya wilayah rendah yang pernah mereka lakukan untuk sebuah kemenangan tak bertepi. Artinya, setiap kita ini ketika akan berkuasa, sanggup memerankan diri sebagai seorang pengemis. Minta kasihan orang, minta kesediaan orang memberikan perhatian dan mendukung sekaligus menjatuhkan pilihan orang banyak (rakyat). Dan mereka seakan-akan membawa pesan-pesan penuh gebrakan, pesan damai, pesan pembaharu, pesan membuka lapangan kerja, pesan-pesan penyelesai masalah, pesan-pesan ini seakan memiripkan keadaannya sebagai seorang pembaharu, penyelamat bangsa, pembela kepentingan umum dan sederet lainnya. Namun, semuanya ini hadir secara mendadak dan serba terburu-buru. Mendadak dan terburu-buru menjadi seorang pelayan, seorang pembaharu dan penyelamat bangsa. Sesuatu yang terburu dan serba dadakan, akan menghembaskan keterburuan itu dengan cara terburu-buru pula. Walhasil? Akan kembali kepada keadaan serba Nol pula.

Sejatinya mereka yang mulai mencuri start untuk maju dalam pemilihan gubernur tahun ini, adalah mereka yang (tak) atau meragukan berprestasi, mereka yang berada dalam kesangsian, penuh curiga, dan tak percaya diri. Mereka sebenarnya, sudah mengukur kemampuan yang berada di bawah rata-rata. Namun, kemampuan di bawah rata-rata itu, ditimbus oleh nafsu berkuasa dan tampil narsistik, sekaligus sebagai figur seorang penyelamat bangsa denganlewat jargon yang serba lelah dan letih. Maka, jadilah para kaum narsis ini yang bakal mengisi ruang-ruang hampa kekuasaan politik di Riau masa depan. Dan kita, rupanya hanya mampu menghasilkan pemimpin-pemimpin yang narsis. Ingin tampil di ruang publik dalam sejumlah kaidah pencitraan. Seolah dia seorang pemimpin yang diterjunkan dari langit. Dan kita berharap, sangkaan-sangkaan dangkal seperti ini tak terjadi dalam gemuruh dan gempita masa-masa kampanye ini. Semua yang tampil betul-betul bertolak dari keinginan akal budi terdalam dan mereka adalah sekumpulan manusia-manusia yang didahulukan selangkah dalam ihwal meimpin dan kepemimpinan. Apatah lagi, pengadaan dan pemasangan segala bentuk alat peraga kampanya itu, saat ini telah dipegang oleh satu lembaga bernama Komi Pemilihan Umum, sehingga pengendalian APK yang selama ini menyemak mata rakyat, bisa tampil lebih teratur dan terukur dalam bidang-bidang ruang yang sewajarnya.***

comments powered by Disqus