Kamis,18 Januari 2018 | Al-Khomis 1 Jamadil Awal 1439


Beranda » Kolom Riau Pos » Yusmar Yusuf » Ganda Makna

Ganda Makna

Yusmar Yusuf | Minggu, 24 Desember 2017 11:50 WIB

Para mistikus seakan menjinjit ‘syihir’ ke tengah buana. Bahwa tuhan-tuhan yang disembah itu akan menyatu (pada puncaknya) pada Tuhan yang satu. Bilangan 1 (satu) itu membelah dirinya dalam bentuk yang berbeda menjadi 2, 3, 4 dan seterusnya. Tak kan ada 2, jika tak ada 1 yang menyeruakkan dirinya menjadi “liyan” bernama 2, 3, 4, 5, 6 dan seterusnya. Kumpulan bilangan hingga bilangan muktamat (9), ketika dia mengembalikan diri (berhimpun kembali), tetap akan kembali ke rumah 1 (satu). Di sini, satu (1), bukanlah angka, ujar Ibn Arabi. Liyan itu bisa berwujud arca, patung, berhala, kekayuan, bebatuan atau sesuatu yang bergerak dan hidup. Deretan ini tak lebih dari realitas-realitas yang tertangkap oleh nalar (intelligibles atau haqa’iq ma’qulah). Bilangan 1 itu adalah ‘Mutlak’ sebagai awal dan akhir. Untuk itu, numerikal Arab tidak mengenal angka 0 (Nol), melainkan disimbolkan dengan titik (.). Simbol angka Nol (0) yang dipakai dalam sistem numerik dunia hari ini adalah persembahan Malayo Pan-Buddhismo. Pun Romawi dan Yunani, tak mengenal angka Nol (Null).  

Manusia hadir. Dan Adam pun hadir dengan dirinya sendiri (al-nafs wahida). Dan dari dirinya Tuhan menciptakan pasangannya. Ihwal ini memperlihatkan bahwa “Adam sama sekali tidak menikah kecuali dengan dirinya sendiri. Dari dirinyalah terlahir isteri dan anaknya” (Ibn Arabi). Realitasnya satu, tetapi mengenakan banyak bentuk. Sang Mutlak menyingkapkan dirinya (tajalli) dalam  bentuk yang banyak. Lihatlah ketika siang benderang, Allah menampakkan dirinya dalam beragam kehadiran. Ketika malam, penampakan itu diselimuti (misteri). Dan hakikat dari siang adalah bagian dari malam. Tuhan mencabut siang dari malam yang pekat, lalu diseruakkannya benderang (maka jadilah siang). Di siang yang benderang, Tuhan tetap merawat misteri dalam bentuk ‘bayang-bayang’ yang berwarna gelap dan legam (simbol misteri Sang Hakikat). Bayangan itu hanya menghadir ketika ada wadah, dan bayangan itu tidak akan mengikut warna dari obyek yang dibayanginya. Alias, ‘bayang-bayang’, bawaannya nir-warna. Dia tetap dengan tampilan gelap (misteri Sang Hak). Dengan begitu terhimpunlah persepsi yang jamak, makna yang serba ganda dalam menukil kebenaran, keindahan dan keabadian. Maka, para ilmuan yang berkarya, yang melakukan penemuan-penemuan di laboratorium (makmal), para seniman dan penyair yang berkarya, adalah mereka yang tengah mabuk melakukan ‘penyalinan kembaran samawi’ dari ‘kemiripan-kemiripan misteri’ yang disediakan oleh bayang-bayang, yang memiliki garis vektor ke iPad Tuhan nan sayup. Kita yang menerjemah, memaknai, dan meneroka kehidupan muka bumi ini, adalah serombongan penukil bayang-bayang dari Nan Satu (serba Misteri itu).

Namun, bagi sang arif sejati, tak akan menyembah berhala, karena ingin mengelak dari pencelaruan kaidah dalam masyarakat yang awam dengan kedangkalan serba superfisial, sehingga mereka akan terbawa dan terdorong untuk menyembah ‘bentuk’, tanpa melihat esensi di baliknya. Dan Nabi Muhammad pun ‘memaksa’ kaum awam itu  (sebagai gantinya) untuk menyembah Satu Tuhan saja yang hanya bisa diketahui orang secara sangat umum, tetapi tak pernah menyaksikan-Nya (dalam bentuk konkret). Di sini sediaan misteri itu kian melipat dan menggenap. Tuhan yang kita sembah, bukanlah rangkaian konkret yang mendorong terbelahnya pendapat antar manusia, bahkan bisa mendorong perang saudara antar sesama. Tersebab, keimanan itu memang berada dalam ranah misteri (warna legam dari bayang-bayang).

Tak setakat itu, makna nan ganda itu juga berlangsung ke atas fenomena yang serba terukurkan (tangible); misalnya kata ‘tanah air’. Bagi mereka, tanah air adalah perbalahan dan genangan darah dan air mata. Bagi saya, tanah air adalah rumah jiwa, tempat kita menghimpun segala ghazal dan genap dalam rasa serba pertiwi nan damai. Bagi saya, tanah air itu bukan harta milik, tetapi kita adalah miliknya tanah air. Dialah selaku bunda yang menggairah, yang mengilham dan mengorak spirit dan menerjang kehendak untuk senantiasa bersorak demi kemanusiaan dan penggenapan hidup damai semesta dengan segala makhluk di planet ini. Dari tanah air inilah saya mengaum dan menegakkan menara tinggi kehidupan yang berkeadilan dan penuh kasih dan sayang. Karena sebagaimana tasauf, seni juga tak berhajat membawa kejahatan ke muka bumi. Tak ada kisah sufi yang menenteng bom dan menyentak bazooka. Juluran tanya dan keraguan bakal berderet; apakah itu keadilan?; apakah kebenaran?; apakah keindahan?; apakah semangat itu (daya hidup atau vita activa)? Albert Camus sang agnostik (walau terkesan sebagai pemuja moralitas samawi) itu melontar jawab. “Kebenaran adalah apa yang engkau ajarkan kepada kami, dan paling tidak kami mengetahui apa itu kepalsuan”. Pertanyaan berlanjut mengenai semangat. Apa itu semangat (vita activa)? “Kami hanya tahu kebalikannya, pembunuhan”. Lalu, muncul pertanyaan tentang; apa itu manusia? Camus menjawab: “Manusia adalah kekuatan yang pada akhirnya akan meniadakan segala macam tiran dan dewa-dewa. Dialah kekuatan yang terbukti dengan sendirinya”.

Di sini Camus adalah sosok mistikus yang menjinjit syihir ke tengah dunia. Dia sejatinya adalah seorang gnostik (pejalan “tasauf”) di lebuh sebelah. Bukan di lebuh awam. Malah bukan agnostik. Dia mengembara dan berkelana di lebuh tak ramai, di lebuh diam dan senyap. Di lebuh bergelombang belum diter (aspal). Selorong lebuh yang tak mulus. Berkabut tebal di semua sisi; ya, dalam ketemaraman berjenang. Bahwa orang harus memetik ranumnya kedamaian, mesti melalui lubang hitam yang diterjemahkan oleh pastor yang dibayar negara untuk menenangkan batin para tawanan yang akan ditembak di tanah perkuburan menjelang fajar menyibak. Bahwa pastor tak mungkin mengkhianati Tuhannya. Seolah dia bisa mencelis cerita damai kepada para tawanan yang segera akan menjalani eksekusi tembak di kala fajar merekah. Itu sebuah khayali samawi yang diukir para pastor yang mencari selamat di depan altar raja, bukan altar Tuhan. Si Pastor berbincang tentang Tuhan kepada seorang remaja (salah tangkap) yang akan menjalani hukum tembak di sebuah dini hari. Dia meyakinkan kepada remaja itu tentang kedamaian yang menanti di alam kubur sana. “Aku akan bersama mu, demikian juga Tuhan yang Maha baik. Nanti kau akan melihat, betapa mudah semuanya itu”. Si remaja salah tangkap ini, terdiam. Percayakah si remaja ini? Pastor sekali lagi berbincang tentang Tuhan, bukan dengan Tuhan. Akhirnya si remaja itu percaya; “karena dia tahu tidak ada sesuatu yang lebih penting dibanding kedamaian yang menantinya. Tetapi, justeru kedamaian itulah yang membuatnya ngeri”.    

Kita boleh mengklaim terlahir dari tanah batin, tanah syihir, tanah tinggi, tanah emas dan tanah segala gemala. Tetapi, semua yang tinggi dan ranggi itu tak lebih dari bayang-bayang yang mendorong setiap orang untuk menerjemah segala kerenah ganda dan jamak yang terhidang di dalam warna nan legam (bayang-bayang) itu. Pun, kopi menghidang warna nan legam. Yang ceria dan benderang dari kopi itu adalah keriangan sang penghirup dan penikmatnya. Di atas keriangan itulah para penikmat menerjemah kopi dalam serba niskala dan tak kan niscaya. Semua terjemahan dan pandangan makna ganda itu adalah sejenis pembelaan. Pembelaan itu pula adalah genus dari dari tradisi. Dan setiap orang atau pun komunitas memiliki tradisi. Dan sekali lagi, Camus menyergah kita bahwa: “tradisi ku memiliki dua aristokrasi; yaitu akal budi dan keberanian”. Maka, apakah bilangan, kedamaian atau pun kopi itu, memiliki dua aristokrasi  untuk kita usung dalam majelisnya masing-masing, sehingga dia (bilangan, kedamaian dan kopi itu) juga berpembawaan menyergah?***

comments powered by Disqus