Minggu,17 Desember 2017 | Al-Ahad 28 Rabiul Awal 1439


Beranda » Kolom Riau Pos » Yusmar Yusuf » Pilihan Milenial

Pilihan Milenial

Yusmar Yusuf | Senin, 27 November 2017 10:12 WIB

Rasa nan ragam menghimpun setelah menjatuhkan keputusan. Begitulah, memilih dan memilah, adalah sebuah perbuatan “memutus”, menjatuhkan keputusan berdasarkan pilihan terpuncak. Memang berat, atau malah sebaliknya serba ringan. Bahwa kehidupan itu memang diwarnai oleh sejumlah keputusan. Tepatnya, keputusan untuk memilih. Ada peristiwa cinta, kita juga didorong untuk memilih, sehingga dia menjadi jodoh atau pasangan hidup sepanjang hayat. Ada sejumlah keputusan yang harus dijatuhkan kala remaja, untuk memilih sejumlah sekolah favorit, fakultas anu, jurusan anu atau malah universitas terkenal, di luar atau pun dalam negeri. Dalam meniti karier, generasi kini tak hendak disetel dalam gaya hubungan tuan dan hamba. Mereka lebih mengutamakan iklim kerja pertemanan. Ini juga sebuah pilihan.

Setiap zaman memproduksi “psikologi kolektif”nya sendiri-sendiri. Era kini, orang boleh menyebutnya sebagai generasi milenial (yang lahir sejak tahun 1980-an) adalah generasi yang membangun persepsi bahwa kehidupan itu memberi banyak pilihan dan banyak pintu. Mereka mudah membuat migrasi dalam kerja dan karier. Pola hubungan tuan dan hamba disingkir jauh-jauh dalam iklim kerja. Prinsip-prinsip birokratis berjenjang dan menghambat kreativitas, akan mereka tentang dan dibuang. Mereka menciptakan beragam temuan-temuan kreatif di tengah suasana kerja serba “pertemanan”. Ruang-ruang kantor, tanpa partisi keras (alias tanpa tembok); cukup kaca bening. Mereka tak mengenal meja tetap. Mereka bisa berpindah-pindah meja dalam bekerja, demi mengundang mood (resa) dalam kerja dan kreativitas.

Hari ini, mereka merangkai peristiwa demokrasi dalam sejumlah harapan perubahan menurut persepsi dan selera mereka. Sehingga warna pemilihan kepala daerah juga ikut ditentukan oleh generasi milenial yang amat jelita itu. Kenapa jelita? Karena perkakas dan perangkat teknologi informasi yang mengepung kehidupan mereka amat kaya dan canggih. Seluruh pilihan dan bentuk diskusi maya tersedia di ujung jemari. Sehingga dalam peristiwa pilkada, mereka juga memiliki gaya (yang mungkin menurut sementara orang, terkesan acuh dan cuek). Namun mereka memiliki simpanan dan endapan pengetahuan tentang demokrasi dan patriotisme yang takkan pernah sama dengan generasi kita yang sudah mendekati senja dan usia matang itu.

 Generasi kita boleh punya anggapan yang aneh terhadap mereka. Kesan pertama, mereka kurang atau tak betah dengan satu pekerjaan. Tak betah dengan satu pilihan dalam tempo yang lama. Mungkin saja, di sebuah masa yang tak terlalu jauh, ada semacam upaya memperpendek masa jabatan politis seperti Gubernur, Walikota dan Bupati dari 5 (lima) tahun  untuk satu periode menjadi 4 (empat) tahun. Atau malah bisa lebih pendek dari itu misalnya menjadi 3 (tiga) tahun. Kenapa? Karena bawaan manusia itu mudah jemu dan membosan.

Seorang rekan, dan kebetulan dia seorang bupati pernah mengeluh kepada saya. Dia sudah menghabiskan periode pertama (5 tahun). Dan saat dia berdiskusi dengan saya, dia sedang menjalani fase kedua jabatan itu. Begini rengekannya: “paling enak menjabat itu hanya pada periode pertama (5 tahun). Sangat kreatif, dorongan untuk membangun dan mencipta hal-hal baru bagi masyarakat demikian deras dan kreatif. Namun setelah masuk jabatan pada periode kedua, saya kehilangan emosi, tendah spontanitas, lemah imaji, dan seakan tak tau lagi, apa yang harus dikerjakan. Tak tau apa yang harus dirancang bagi sebuah daerah yang memerlukan pikiran-pikiran dan tindakan kreatif”. Ini sebuah ujaran jujur dari seorang yang tengah menjabat, dan sedang mengalami kehilangan orientasi.

Maka, tak ayal kita teringat kenapa masa jabatan Presiden Amerika Serikat hanya dibatasi selama 4 (empat) untuk satu periode. Mungkin demi mempertimbang rasa jemu dan kebosanan dalam menjalani rutinitas kerja dan perintah. Dan, kita pun punya hak merenung setelah menjalani fase-fase pilkada yang melelahkan dan dilaksanakan secara serentak di 101 daerah dalam skala yang berbeda, dan renungan itu tentu demi menjawab kaidah dan persepsi generasi milenial yang mudah terserang bosan, karena demikian banyak pintu informasi yang tersedia dan mengepung mereka hari ini. Dengan masa jabatan yang kian diperpendek, maka peluang untuk korupsi makin kecil. Alias, dengan masa jabatan yang lebih pendek seseorang diburu untuk lekas-lekas meninggalkan sesuatu yang bersifat monumental bagi rakyat dan bangsanya. Semua ini, ketika kita merujuk pada sifat-sifat dan perkembangan generasi milenial yang demikian mewabah hari ini.

Mereka adalah sejumlah makhluk kreatif di berbagai bidang, mereka adalah sejumlah barisan manusia yang berdialog dengan kecepatan teknologi informasi yang amat ofensif, menyerbu dan membuat seseorang yang hidup di zamannya akan membuat sejumlah keputusan dalam waktu yang berdekatan, dalam waktu bersamaan atau serempak. Sehingga, jangan heran jika melihat fenomena generasi milenial ini bisa berpindah kerja terjadi dalam rentang waktu per tahun. Dinamika sosial mereka demikian tinggi. Dan tak terpaku pada satu takung rezeki. Bagi mereka, sehamparan muka bumi nan luas ini adalah tanpa batas, tanpa sempadan. Dan di sehamparan itulah rezeki diserakkan, maka sauk dan pungutlah dengan kreatif dan tak terpaku pada satu sistem membeku. Kita tengah berdepan dan berada dalam lingkungan massif yang tengah mereka ciptakan dalam lingkungan terkecil bernama keluarga, masyarakat, perkauman, negara dan antar negara yang tanpa batas. Semua dilayari dalam nada serba cepat yang diwarnai oleh segala bentuk keputusan dan pilihan-pilihan yang bergelombang, bergempita dan bergemuruh. Dan terkadang mengkhawatirkan menurut ejaan “pikiran” kita yang terbatas ini. Maka, remajakanlah selalu pikiran anda, agar kita tak canggung berdamping hidup dengan generasi ini. Agar kita tak tersungkur di depan generasi yang lebih mengutamakan gerakan arus balik itu. Dan mereka memang tengah berada di tengah-tengah kehidupan. Membaharulah! Kalau tak ingin terlindas.***

comments powered by Disqus