Senin,23 Oktober 2017 | Al-Itsnain 2 Safar 1439


Beranda » Kolom Riau Pos » Yusmar Yusuf » Menyembelih Demokrasi

Menyembelih Demokrasi

Yusmar Yusuf | Minggu, 17 September 2017 14:26 WIB

SEAKAN masuk ke medan pacu. Semua orang bersegegas bertolak dan bersecepat pula ingin sampai ke tujuan. Semua seakan menjadi bintang bagi dirinya sendiri. Semua menganggap dirinyalah yang paling dan serba paling. Sebuah perlombaan yang serba tak menentu. Dan, sejak itulah hari-hari kita disibukkan untuk memilih, dengan sejumlah alasan demokrasi. Lalu, kita harus merantai pertanyaan kecil: Apakah hanya dengan cara memilih, membuktikan bahwa kita telah merawat demokrasi? Apakah juga menjadi sebuah keniscayaan untuk melakukan “perbuatan memilih” di tengah keadaan yang serba tanpa pilihan? Apakah memilih untuk tidak memilih, boleh dikategorikan sebagai sebuah pilihan?

Di tengah pacuan yang serba semrawut itulah, kita seakan-akan mendorong pilihan untuk memilih pilihan itu sendiri. Entah siapa yang akan memilih, dan siapa pula yang akan dipilih. Apakah, memilih harus melalui proses pemilihan? Apakah memilih bisa dilakukan lewat cara “memilah”?  Apakah cara-cara negasi (menidakkan), boleh dimasukkan sebagai sebuah cara memilih? Apakah membuang hak pilih di tengah administrasi kependudukan yang tak becus, menjadi sebuah pertanda meringkus demokrasi? 

Kita terdorong untuk memilih, ketika disediakan sejumlah pilihan untuk dipilih. Saat ini yang menyorong segala hal yang akan dipilih, sudah ditentukan oleh mesin politik bernama partai, yang konon katanya telah mewakili kemauan “ideologis” sekumpulan masyarakat manusia. Lalu, apakah partai-partai politik yang tersedia hari ini memang sudah mencukupi untuk dikatakan sebagai pengemban hak dan nilai legislasi warga? Apakah dia  tak lebih dari wujud “peniadaan” kehendak kolektif masyarakat dalam pilihan-pilihan politis? Apakah partai-partai yang telah menjatuhkan pilihan untuk mengusung si A atau si fulan, memang memiliki legitimasi rakyat secara ideologis dan fungsional?

Maka, pada ketika segala hal berlangsung dalam sendi-sendi tanpa pilihan, orang banyak meragukan demokrasi. Sebab, demokrasi mungkin saja telah dibajak atau dikooptasi oleh para pemilik modal, para gambler di meja-meja judi, yang ikut memainkan dadu, sehingga setelah figur usungannya itu menang dan menduduki tahta kekuasaan, akan terjadi “praktik balas jasa”? Di sini, demokrasi seakan mengalami ‘penyembelihan’ oleh mereka yang berpunya, demi untuk terus melestarikan matarantai kekayaan, kekuasaan dalam rentang yang berjenang. Dapat pula dianalogikan, bahwa “demokrasi membunuh demokrasi, atau demokrasi menyembelih demokrasi”. Masyarakat pemilik suara tak lebih dari dadu yang memikul suara, namun pikulan itu sudah diijon, sudah dikapling berdasarkan perkauman, berdasarkan kemauan primordialisme, melalui hubungan kerja tuan dan hamba, lewat suku dan agama, latarbelakang pendidikan dan profesi. Walhasil, demokrasi yang mendorong kita untuk merayakan “pemilihan”, sejatinya tak lebih dari penukil kesalahan demi kesalahan yang diulang-ulang sehingga menjadi kebenaran. Jauh-jauh hari Nietzsche berucap: “kebenaran adalah sejenis kesalahan yang tanpanya sejenis makhluk tak bisa hidup”.

Memikul kesalahankah kita? Ya, dalam medan pacu yang serba licin dan berlumpur, sangkaan akan kebenaran tak lebih dari penjumlahan kesalahan yang diulang-ulang. Mungkin saja dia diselamatkan dalam istilah pendek; trial an error. Untuk menyunting ‘kebenaran’, suka atau tak suka orang harus menempuh jalan yang paling sederhana yakni ‘coba-coba salah; coba-coba salah”. Praktik inilah yang menghimpun kebenaran yang sejatinya adalah sejumlah kesalahan yang diulang-ulang, sehingga dia mendekati kebenaran (ya, kebenaran semu). Pun demokrasi, adalah hasil dari upaya coba-coba yang diulang-ulang, dalam majelis kesalahan yang juga diulang-ulang, memakan waktu yang berjenang, sehingga matang. Pada ketika matang itulah, para pemuja demokrasi melakukan sorakan dan jeritan sahut-bersahut dalam kegembiraan masyarakat manusia; menyelenggarakan kebahagiaan demokrasi.

Apakah medan pacu ini, terjadi juga di India? Di Amerika? Yang kemudian kita salin dalam “rasa” tropis? Sehingga dia menjadi mainan baru dalam kaidah memilih dan menggunakan hak pilih. Tinggal 10 hari lagi, ada 101 daerah di Indonesia yang menggunakan medan memilih tanpa pilihan yang mencekam itu. Sebutlah salah satunya adalah pemilihan Gubernur DKI Jakarta yang amat runyam. Terutama bingkai politik (lewat framing yang saling ‘mengkutu’ dan menjatuhkan lawan). Haru-biru Jakarta, sekaligus menutup riak dan gejolak politik di daerah-daerah lain. Seakan peristiwa politik yang mencekam itu hanya milik Jakarta, yang kebetulan menjadi anak tangga terakhir untuk mencapai medan pertarungan pada skala pemilihan Presiden 2019.

Berkaca pada runyam dan kisruhnya iklim politik Jakarta, seakan demokrasi mendorong sebuah masyarakat warga (sipil) yang mudah tersulut emosi, rapuh tebing toleransi, bersumbu pendek dalam sejumlah kemarahan dan kecerobohan sosial yang tiada henti menenggelamkan isu-isu prositif yang dilayari oleh media-media sosial, yang berubah sontak dalam kenyataan negatif dan destruktif. Kita boleh saja beranggapan, demokrasi hari ini, dimajeliskan oleh sejumlah besar warga yang belum melek literasi dalam buana media sosial. Warga kita masih setia merawat tradisi kelisanan (orality); yang kemudian dimuaikan dan dimanjakan oleh media sosial, sehingga berita sekecil apapun, tanpa tapis dan saring, lalu disauk menjadi kebenaran kolektif, karena dia (berita itu) telah melalui perjalanan panjang dari mata rantai media sosial. Seakan-akan teks-teks pendek dalam media sosial itu sendiri adalah kebenaran. Hanya itu yang tertangkap pada mata dan hati masyarakat yang masih berada pada era kelisanan (belum masuk dalam tradisi literasi atau keberaksaraan). Keberaksaraan itu, lebih mengedepankan dialog, kejernihan akal-budi, kesemestaan pandang dalam gaya serba jeluk (menghunjam) ke pokok persoalan. Bukan sesuatu yang berterbaran, beterbangan dan bergentayangan di permukaan.

Walhasil, kita memang sedang berada di medan pacu, yang setiap orang disuruh atau tak disuruh, akan terdorong untuk berpacu seraya menjatuhkan pilihan-pilihan, walaupun itu salah. Sebuah pilihan yang salah? Ini juga sebuah kenyataan yang masih harus dipertengkarkan. Sebab, salah menurut si fulan, belum tentu salah menurut si anu. Dengan begitu, demokrasi yang menyuruh untuk memilih itu sendiri adalah sebuah kenisbian, sebuah kenyataan yang serba relatif. Atau demokrasi menyembelih demokrasi?


comments powered by Disqus