Minggu,20 Agustus 2017 | Al-Ahad 27 Zulkaedah 1438


Beranda » Kolom Riau Pos » Yusmar Yusuf » Industri Nasehat

Industri Nasehat

Yusmar Yusuf | Senin, 19 Juni 2017 16:52 WIB


Di bulan ini, malaikat “menghentikan sayapnya” di atas langit Indonesia. Kenapa? Ada festival nasehat. Ya, festival nasehat tengah berlangsung di bumi Indonesia sepanjang bulan Ramadhan. Festival ini diselenggarakan oleh sebuah basis industri tahunan. Industri yang mengusung kisah alam kubur (barzakh), hari kiamat, yaumil akhir, alam sorga dan alam neraka. Kita seakan tak diberi ruang untuk merenung. Sebab, nasehat itu berlangsung tanpa jeda. Dari frekuensi ke frekuensi radio, dari channel TV ke channel yang lain. Selanjutnya menerobos ke media sosial seperti youtube dan instagram. Tak kurang riuhnya, malah dari corong pengeras suara masjid dan mushalla yang berdenyar sejak subuh ke subuh berikutnya. Kita diasak oleh sejumlah info dalam bungkus serba nasehat. Terkesan, masyarakat kita adalah masyarakat yang senang mendengar nasehat, atau malah lebih dari itu suka dinasehati. Atau malah sebaliknya, masyarakat bangsa ini adalah wakil dari bangsa yang suka menasehati walau diminta atau tak diminta. Maka, terbangunlah relasi antara juru nasehat dengan penadah nasehat.

Wah, relasi ini membuka ruang dan  peluang bisnis. Maka, tak sedikit dari jumlah mereka yang tak laku lagi sebagai pendakwah (juru nasehat) atau mereka yang dah turun panggung dari panggung nasehat-menasehati itu, beralih profesi menjadi penjaja acara atau program nasehat yang diselenggarakan dalam jumlah dan ragam komunitas. Mereka memproduk ragam program yang intinya menyelenggarakan nasehat. Bisa berlangsung dalam majelis berbuka bersama di hotel bintang, bisa di masjid jelang maghrib dan jelang shalat tarawih, setelah shalat subuh, bisa pula di antara waktu dzuhur jelang ashar. Mereka menangkapnya secara jeli. Bahwa relasi penasehat dan yang dinasehati bisa menyembul menjadi sebuah industri nasehat. Sebuah ruang dan kanal yang mendatangkan untung dan laba berlipat ganda selama bulan puasa. 

Sayap Jibril pun seakan terhenti mendengar nasehat demi nasehat yang bergelombang itu.  Ada yang menasehati lewat gaya lunak, ada yang melonjak-lonjak, ada pula lewat nada mengancam dan marah-marah. Lebih banyak menjinjing nasehat lewat kata “jangan” itu dan “jangan” ini. Lewat kata-kata “boleh” dan “tak boleh”. Namun amat sedikit gaya penyaluran nasehat dengan gaya mengajak berfikir atau membuat orang yang dinasehati berfikir. Lalu? Penyelidikan pun dimulai. Bahwa tak terdapat korespondensi  jumlah nasehat dan kualitas nasehat dengan perilaku berbuat baik (makruf) di kalangan masyarakat Indonesia. Malahan, terjadi sebaliknya yang menggambarkan ketekoran atau defisit jumlah pemimpin yang berintegritas di negeri ini. Bahwa segunung nasehat yang berdentum-dentum dalam bungkus tausiyah dan ceramah agama yang mengisi ruang radio, TV dan media sosial lainnya, termasuk yang berlangsung di masjid-masjid, tak menghentikan gelombang manusia yang ditangkap tangan oleh KPK dan aparat penegak hukum lainnya. Serakan nasehat bak samudera itu, juga tak mengendorkan perilaku maksiat di kalangan warga, pembegalan motor, perampokan dan pembunuhan, perampokan dengan kekerasan, dan termasuk juga tak menurunkan angka berita dengan nada kebencian yang mengalir di media-media sosial, termasuk fitnah dan berita bohong (hoax). 

Lalu, apa gunanya ceramah yang ditumpukan pada satu bulan? Apa manfaatnya nasehat yang dicurahkan bak air dalam drum (gentong raksasa)  yang sengaja ditumpahkan ke dalam kantong kresek plastik dengan takaran yang terbatas? Di sinilah, prinsip berpada-pada dalam menyalurkan nasehat atau apa pun jenisnya harus ditangkap dan dimaknai secara bestari dan besar jiwa. Prinsip berangsur-angsur dan mencicil-cicil dalam segala hal menjadi pertimbangan tentang kemauan dan kesabaran. Bahwa memikul dan menyalurkan kebenaran, tak bisa berlangsung lewat sekali tumpah. Dia harus dialiri secara berangsur-angsur, sesuai dengan tahap kematangan para pendengarnya (umat, warga). Bahwa di bulan-bulan selain Ramadhan itu sendiri, nasehat harus berlangsung dalam jumlah dan derivasi tindakan dan tuntunan, dalam perbuatan aktual. Bahwa berbuat bajik itu bukan sesuatu yang ditulis di atas meja, tetapi diwujudkan dalam tindakan dan perbuatan sehari-hari (maaf, tulisan ini secara tak sengaja terperangkap dalam gaya “nasehat” itu pula, he he he).

Kita tak diberi waktu jeda untuk mendengar degub jantung sendiri. Bahwa mendengar degub jantung dan meraba nada nadi di pergelangan tangan dalam suasana senyap adalah juga jalan nasehat. Kita terlalu terbiasa mem’pasar’kan segala sesuatu. Mentang-mentang bulan puasa, segala sesuatu difestivalkan. Karena di bulan ini dilarang makan dan minum, namun pasar membelokkan bentuk-bentuk keinginan (perlawanan) dalam model pasar takjil di beberapa titik menyerbu badan jalan sehingga membentuk kerumunan semut. Jalan tak berfungsi dan pemerintah pun berbangga hati, sebab kota kita ternyata ramai dan maju. Sebab, majunya sebuah kota rupanya diukur dari kemacetan dan pencerobohan badan jalan. Dan semua orang bertindak menjadi penjual kueh-mueh dan jajanan makanan untuk berbuka puasa. Orang, tak bisa menahan diri bertindak kreatif di rumah-rumah dengan melibatkan anggota keluarga untuk membuat kueh dan jenis makanan rumahan, sehingga terbentuk sistem matarantai kepakaran memasak bagi anggota keluarga (dari ibu ke ayah dan anak-anak) yang bisa diteruskan pula kepada sayap horizontal dan vertikal di dalam keluarga itu sendiri. Secara tak sadar, kita telah terperangkap pada ide pasar yang meringkus kepakaran rumahan. Termasuk pula pasar nasehat.

Kisah nasehat ini seakan telah masuk dalam sistem pasar dan industri. Dan tak sedikit pula mereka yang memerankan diri sebagai makelar nasehat. Mereka bak event organizer (EO); yang kemudian menyembul dalam ragam model program berbuka bersama, di kalangan seniman tak sedikit pula membajak istilah-istilah yang keagamaan dalam ramadhan dan menyulapnya menjadi tadarus puisi. Di dalam majelis itu, tetap ada tausiyah, ceramah agama, yang mengulang-ulang bentuk nasehat. Yang dapat untung dari majelis itu tetap saja EO dan pengelola venue termasuk hotel. Ini juga laluan yang diberikan oleh bulan ramadhan sebagai bulan berkah. Ketika “pasar” (kaliptalisme) menentukan riuh-rendahnya ibadah sebuah agama, maka patut dipertanyakan peran hati, peran qalbu insan yang menjalani dan menunaikan ibadah fardhu (wajib) itu. Rupanya kita telah terperangkap dalam industri nasehat, yang tak berdampak pada peningkatan kualitas ibadah dan perilaku sehari-hari. Karena, tiada korespondensi konstruktif antara gunungan nasehat dengan jelmaan perilaku untuk berbuat makruf di antara sesama kita. Entahlah!


comments powered by Disqus