Minggu,22 Oktober 2017 | Al-Ahad 1 Safar 1439


Beranda » Kolom Riau Pos » Yusmar Yusuf » Setelah Ahok

Setelah Ahok

Yusmar Yusuf | Minggu, 23 April 2017 10:56 WIB

Dunia memang berorientasi kepada yang muda. Pidato dan resep kaum muda yang serba mudah; tak mesti mendendam, mudah dalam bertarung gagasan, mudah pula melupakan segi-segi yang menggores selama pertarungan itu. Mereka dibesarkan dalam alam demokrasi dan modern. Mereka dibesarkan sebagai orang-orang merdeka, dibesarkan dalam kenyataan bebas memilih apa saja oleh orang-orang tua yang juga modern. Indonesia harus bangga melahirkan anak-anak muda yang bertarung di puncak perhatian politis Indonesia bernama Jakarta. Pasangan yang kalah, khususnya Ahok tak memperlihatkan kekesalan yang biasa melekat pada orang kalah dalam pertarungan pilkada. Dia malah mendidik bangsa ini, terutama kaum muda, bahwa pilkada tak lebih dari sebuah pilihan, sebuah mainan, sebuah jalan hidup yang mesti ditempuh dalam alam demokrasi. Demikian pula Anies yang ditempa dalam alam demokrasi Barat (khususnya Amerika), dia saban hari mengunyah dan menyaksikan permainan-permainan demokrasi yang mendewasakan. Terlebih, Anies adalah seorang pembaca besar. Dia bisa berjam-jam menenggelamkan diri dalam samudera teks, sehingga mengesankan dia seorang arif dan bijak, di samping seorang yang cerdas.

Cerdas adalah kata kunci. Sosok cerdas, tak kan bisa dikemudikan dari belakang. Dia tak mungkin dengan mudah diatur oleh para pemilih, atau bahkan partai (elit) pengusungnya. Seorang yang cerdas adalah seorang yang memiliki prinsip yang menjangkar jauh ke dalam. Penuh keteguhan. Seorang cerdas hanya memiliki dua sikap utama; prinsip dan pemihakan. Dan Anies adalah seorang yang berprinsip dan ‘berpihak’. Sikap berpihak ini sengaja dalam tanda petik. Sebab, dalam pengembaraan panjang intelektualisme, Anies adalah sosok yang menggerakkan kaum muda demi pemihakan kepada kawasan-kawasan terpinggir dan terpenicl yang tak tersentuh oleh tangan-tangan negara. Di sini Anies memperkenalkan program Indonesia Mengajar. Tak diragukan pula, sebagai seorang akademisi, Anies adalah sosok muda yang pernah mencapai jabatan akademik-birokratis setingkat rektor di sebuah perguruan tinggi Islam moderat.

Toh dalam pergumulan pilkada DKI Jakarta, Anies terkesan mendekat dengan Islam garis keras, ihwal ini tak bisa dilupakan pula, bahwa Anies adalah seorang organisatoris-demokrat. Dia mampu mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan hal-hal yang bertabiat memecah belah. Dia bukan seorang yang pragmatis, tetapi dia mampu mengenderai segala kenderaan pragmatis yang berada di sekelilingnya, sehingga menjadi energi postif bagi kepentingan politik yang melekat pada dirinya. Kemenangan Anies, bukanlah kemenangan partai pengusung (bukan bermaksud mengecil peran mesin partai). Tetapi, kehadiran sosok Anies adalah kehadiran kembali ‘sosok anak yang hilang’. Tanpa terpaan badai dan angin sendalu, jabatan Anies sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan hilang begitu saja, di tengah elu-eluan para guru dan siswa yang progresif se-Indonesia tentang sosok yang santun dan komunikatif ini. Ingat, sesuatu yang hilang, bakal menghadirkan kelahiran baru. Dan Anies datang sebagai pemenang. Ihwal yang sama akan terjadi pada sosok Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) pada masa depan yang tak berapa lama kelak. Sebab, Ahok telah mempetontonkan dirinya ke tengah publik Indonesia dan publik dunia, bahwa dia adalah seorang demokrat sejati dengan prinsip-prinsip tegas menegakkan pemerintahan yang bersih dan adil. Ahok mematahkan logika politik puritan, akal sehat politik berbasis identitas, memutar balik logika politik mayoritas dan minoritas yang melayan. Bahwa minoritas mampu melayan dan memberi contoh, menjadi cermin untuk logika politik yang terbalik selama ini. Tak selamanya minoritas ini dinaungi, dipimpin, diperintah. Tapi, sebaliknya, minoritas mampu memberi nilai tinggi bagi kematangan demokrasi. Dan Ahok adalah sosok yang lahir dari rahim kita, rahim Indonesia. Dan kita pula yang memberi ruang kepada anak-anak minoritas ini untuk membesar dan cerdas. Lalu kita pula yang harus memberi ruang ekspresi kepada minoritas. Inilah demokrasi terbuka. Namun, kita belum kuat menerima kenyataan ini. Walau apapun, semua tarik-menarik, sentak dan sentap ini, akan ikut menjahit warna demokrasi bagi negeri ini, agar lebih matang di masa datang.

Kita merindukan implemetasi wacana serba Anies di masa mendatang untuk ibukota negara. Apakah Anies mampu melawan bentuk-bentuk ringkusan para oligarki partai pengusung, atau malah menghindari bentuk ringkusan “the god father” politik yang membayangi dirinya di tengah-tengah keputusannya untuk memihak demi kepentingan rakyat yang lemah di bukota? Atau malah dia tak sanggup menahan godaan untuk ikut dalam pertarungan pemilihan Presiden 2019, karena dia sedang memacu diri dalam lajur “the rising star”? Dilihat dari kemampuan dia mengumpul sejumlah cerita dan wacana yang kemas dan tersusun rapi bak bangunan piramid, kekuatan retorika Anies akan menenggelamkan kemampuan verbal Joko Widodo. Apakah dia akan meninggalkan kursi Gubernur dan menghibahkan kepada Sandiaga Uno yang sejatinya adalah kader yang diusung oleh partai politik pengusung?

Sebaliknya? Ahok akan binar dengan “wilayah baru’. Wilayah itu bisa bernama ibukota negara yang akan dipindahkan ke Palangkaraya di Kalimantan sana. Apakah saya sedang bermimpi? Dari pada diberi jabatan menteri, lebih elok dan elegan, jika Ahok ditempatkan sebagai dewan kurator untuk pemindahan ibukota pemerintahan di tanah Kalimantan. Dia seorang yang punya visi modern, melampau zaman. Sehingga cita-cita dan kemampuan visioner klas dunia yang dipunyai Ahok tak disia-siakan. Maka, lebih elegan jika dia menduduki semacam ketua dewan kurator ibukota baru itu. Jakarta, sudah menjadi, dan bakal bergemuruh dengan auman bisnis dan perdagangan, pusat film, fashion-mode,  pendidikan dan pusat bank. Sebaliknya, jika hendak menghidangkan buah hati bernama ibukota baru berklas dunia, bukan tak mungkin bisa menyaingi Singapura, mungkin jawaban yang tepat untuk mengurus dan meletak tapak perdana itu diserahkan kepada Ahok. Di sini, Ahok tak berapa intens berinteraksi dengan orang-orang.

Dia lebih fokus kepada penataan dan perencanaan ruang, indeks perimbangan ekosistem benua, badan air dan pengaturan oksigen bagi ibukota baru yang lebih ramah dan bersuasana serba taman tropis. Jabatan ini tak dipilih, tetapi ditunjuk oleh Presiden. Sebab, tuah minoritas tak bisa disunting melalui pemilihan terbuka. Dia hanya bisa disedut ekstraksnya melalui kebijakan penunjukan dengan jabatan sementara, sampai terbentuknya administrasi pemerintahan baru di ibukota yang baru itu, entah semacam daerah khusus atau daerah istimewa. Semua pikiran ini, hanya ingin meletakkan kemampuan proporsional anak-anak muda Indonesia, agar tak menyia-nyiakan larian sebuah zaman...***

comments powered by Disqus