Minggu,20 Agustus 2017 | Al-Ahad 27 Zulkaedah 1438


Beranda » Anugerah Sagang » Anugerah Sagang 2016 » Konsistensi 8 Tahun Tayangkan Melayu

Karya Nonbuku Pilihan Sagang: Rona Melayu (TVRI Riau-Kepri)

Konsistensi 8 Tahun Tayangkan Melayu

| Selasa, 20 Desember 2016 08:00 WIB

Hanya sedikit program televisi tentang kebudayaan yang mampu bertahan lama. Satu dari sedikit itu adalah Rona Melayu. Program talkshow mingguan TVRI Riau yang konsisten tayang se­tiap pekan selama 8 tahun terakhir.

Said Ibrahim

DURASI satu jam dan berada sesi prime time, pukul 18.00-19.00 WIB malam. Program selalu dibuka dan diselingi dengan musik Melayu yang khas. Pembahasan konsisten selama ratusan episode sejak pertama kali tayang 2009 lalu. Narasumbernya juga merupakan tokoh budayawan dan seniman kawakan. Di antaranya Tenas Effendy saat masih hidup, Al azhar, Rida K Liamsi hingga para kepala daerah.

Perjalanan panjang Rona Melayu bermula dari panggilan kewajiban TVRI Riau sebagai lembaga publik yang dibiayai negara untuk mengangkat kearifan dan kekayaan budaya lokal. Kepala Program dan Pengembangan Usaha TVRI Riau Kepri Suardi Camong menyebutkan, program ini tidak tiba-tiba muncul ke permukaan. Tapi melewati berbagai diskusi dan setelah menerima masukan dari tokoh budaya serta seniman yang ada di Riau.

‘’Rona Melayu talkshow budaya yang diperuntukkan untuk menggali budaya di Riau, memang tidak muncul seketika. Ada proses panjang dengan para budayawan dan seniman di Riau, lewat diskusi masukan dan pertimbangan, akhirnya hadir acara ini,’’ sebut Suardi.

Suardi lalu tidak menyangka, animo masyarakat terhadap program ini cukup tinggi hingga terus berkembang. Bahkan kini tidak hanya untuk nara sumber dari Riau tapi juga dari Kepulauan Riau (Kepri). Rona Melayu juga sempat menghadirkan Wali Kota Batam pada salah satu episode.

Atas Anugerah Sagang yang diterima Rona Melayu tahun ini, Suardi menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh individu dan lembaga yang telah mendukung keberlangsungan acara. Terutama kepada Said Ibrahim Alatas dan Sanggar Lantah Tuah sebagai musik pengiring selama 8 tahun eksistensi Rona Melayu.

Menurutnya, program ini konsisten bukan semata karena TVRI, tapi berkat dukungan dari para budayawan dan seniman Riau serta dari orang yang ada di baliknya, Said Ibrahim. Dia menyebutkan, Said Ibrahim dan para nara sumbernyalah yang menjadi aktor yang membidani Rona Melayu sejak pertama kali mengudara. Said yang menentukan tema setiap pekannya, sekaligus mencari narasumber setiap talkshow.

Penghargaan ini menurut Suardi adalah sebuah apresiasi yang akan memicu Rona Melayu terus eksis ke depannya. Hingga kini Rona Melayu sudah tampil di TVRI lebih dari 350 episode.

‘’Program ini akan terus dilanjutkan. Karena program ini juga merupakan upaya kami sebagai lembaga publik untuk mendukung perkembangan dan pelestarian kebudayaan Melayu di Riau,’’ terangnya.

Sementara Said Ibrahim membuka cerita jauh ke belakang. Dia ingat mula acara ini bernama Madah Kelana. Setelah berubah nama kegiatan ini fokus memberikan informasi, pencerahan dan pembahasan segala hal yang terkait kebudayaan Melayu. Narasumbernya adalah budayawan, seniman dan juga kepala daerah.

Isu-isu yang diangkat, menurut Said Ibrahim bervariasi. Tidak hanya pengetahuan budaya, tapi sampai pada musik, kuliner hingga permainan tradisional. Masalah kekinian seperti kebakaran hutan dan asap juga menjadi bahan diskusi dari perspektif kearifan lokal juga jadi materi penayangan. Berkat dukungan para budayawan dan seniman, menurut Said Ibrahim, Rona Melayu dapat terus eksis hingga kini.

‘’Pada prinsipnya, topik diserahkan sepenuhnya kepada saya sampai mencarikan narasumber. Alhamdulillah berkat hubungan baik, hampir tidak menemui kesulitan mendatangkan narasumber. Itu sudah merupakan sebuah apresiasi dari para budayawan dan juga seniman pada program ini,’’ ujar pria yang genap berumur 64 tahun pada 14 Januari nanti itu.

Berkat membawakan acara tersebut Said Ibrahim mengaku wawasannya terhadap seni dan kebudayaan melayu tersebut bertambah. Dirinya juga sangat bangga bisa berdiskusi dengan budayawan seperti almarhum Tenas Effendy, Rida K Liamsi, Al azhar hingga tokoh seperti OK Nizami Jamil.

‘’Tujuan program ini memang untuk memperkaya wawasan pemirsa terhadap kearifan, kebudayaan dan seni lokal. Tetapi bagi saya, mewawancara narasumber selain berguna bagi pemirsa juga pentung bagi saya. Dari sana wawasan dan pengetahuan terus bertambah,’’ sebutnya.

Hingga kini Rona Melayu terus dapat dinikmati pemirsa TVRI. Kendati sempat terjadi perubahan jadwal tayang, kini Rona Melayu kembali kepada jam tayangnya semula, setiap Jumat petang selama satu jam, pukul 18.00-19.00 WIB setiap pekan. ***

Laporan HENDRAWAN, Pekanbaru

comments powered by Disqus