Minggu,20 Agustus 2017 | Al-Ahad 27 Zulkaedah 1438


Beranda » Kolom Riau Pos » Taufik Ikram Jamil » Hijrah ke Dalam Diri

Hijrah ke Dalam Diri

Taufik Ikram jamil | Minggu, 02 Oktober 2016 11:23 WIB

SEPERTI Anda, setiap Muharram yang menandai tahun baru hijriah, saya dan Abdul Wahab juga berusaha memaknai hijrah di dalam diri. Kita harus pindah dari suatu kondisi yang tidak membuat kita menjadi diri sendiri sebagaimana dituntut dan dituntun oleh suatu pegangan spiritual kami yakni Islam.

“Oleh karena berbagai kondisi berkejar  bersama masa, tanggal 1 Muharram yang jatuh hari Ahad ini, seperti Muharram sebelumnya dan sebelumnya lagi, hanyalah penanda besar suatu perpindahan, malahan sebagai hari untuk merayakan keinginan untuk berhijrah. Keinginan untuk lebih baik dan lebih baik lagi,” tulis saya kepada Abdul Wahab melalui pesan pendek telepon genggam (SMS).

Tentu saja, keinginan untuk menjadi lebih baik itu, tidak pernah menunggu tanggal 1 Muharram karena kondisi sebaliknya, terjadi setiap saat. Tapi kita bukanlah orang yang terdepak kalau setiap kali kita melihat, setiap kali kita merasa, dan begitu banyak hal yang mengganjal. Justeru dengan ganjalan-ganjalan itu, kewaspadaan harus tetap dikibarkan, sehingga otak dan hati kita senantiasa diasah atau senantiasa bekerja memberikan pesan.

Adalah nyata bahwa saat ini, ke mana pun kita pergi, bayangan hitam senantiasa menghempang seperti sebangun dan sejalan dengan harapan yang mungkin kita bentuk sendiri. Berita-berita yang begitu mudah diakses, mengabarkan kepada  kita bagaimana berbagai ketidakelokan malahan bersarang di hati kita sendiri.

Pergi ke lembaga keluarga, kita dikabarkan bagaimana sekarang ini, seorang ayah saja bisa sampai menghamili anak kandungnya sendiri dalam usia muda-belia. Bergeser sedikit ke lembaga lain, juga demikian. Apalagi pada lembaga yang terukur semacam ekonomi, politik, bahkan kesenian. Orang-orang yang katanya mengabdi pada lembaga moral, selalu saja ditemui sebagaimana dikatakan oleh bidal ternama, “Memang lidah tidak bertulang”.

Dikisahkan oleh seseorang bagaimana iblis dengan tanduknya senantiasa melekap di sekeping daging di dalam tubuh kita yang dinamakan hati. Dengan demikian, begitu saja kita lupa dalam hitungan detik, tanduk iblis telah menusuk hati kita dengan serum kejahatan. Makin kita lupa, makin dalamlah tanduk iblis menusuk hati, sehingga makin banyaklah tenaga kejahatan bersemayam di hati. Bila terus lupa, hati akan diliputi kejahatan, sehingga jiwa pun mengeras, menolak setiap kebaikan yang datang.

Lalu, ke mana lagi kita hendak berhijrah? Keluar dari suatu tempat, kita sudah disergap dari hal-hal yang berlawanan dengan maksud inti hijrah itu sendiri. Istilahnya, keluar dari sarang harimau, kita masuk ke kandang singa. Sementara pilihan lain hampir tidak terlihat.

“Begitulah akhirnya kawan, aku hijrah kembali ke dalam hatiku. Aku tidak ke mana-mana selain ke dalam diriku sendiri. Bagaimapun, hati itu dikuasakan kepadaku yang alhamdulillah, aku sadari sudah bagaimana aku harus berkelahi di dalamnya karena Allah, karena Dia bersama kita,” balas Wahab terhadap SMS saya.

Saya menyetujuinya. Dengan demikian, saya merasa tidak perlu menyalahkan keadaan, menyalahkan tempat, dan sejenisnya yang berada di luar dari diri saya sendiri. Dengan demikian pula, saya berusaha mengambil sesuatu sebagai hikmah dengan kesadaran bahwa berbagai kesalahan amat mungkin bersumber dari dalam diri saya sendiri karena lemahnya saya, karena lalainya saya, karena lupanya saya pada diri sendiri.

Tahulah saya kemudian bahwa semuanya ini hanya titipan dari Yang Mahapemilik agar saya menyadari diri sebagai manusia. Kepada-Nya saya meminta dan menyerahkan diri. Maafkanlah saya, kalau selama ini, belum mampu mengkonkritkan semuanya itu dalam tindakan maupun perbuatan. Maafkanlah…

comments powered by Disqus